Sejarah

Penjual Obat dalam Kemelut Revolusi

·
Penjual Obat dalam Kemelut Revolusi
Kartun di koran Penjedar. Repro dari buku Sumatera Revolusi Elite Tradisional.

Kakak beradik—Hasan Sab, Husen Sab dan Sab Cut— berasal dari Gigieng. Penentang uleebalang yang gigih ini berangkat dari keluarga pedagang. Mereka punya toko obat di Sigli.

HUSEN Sab tampaknya bersedia menceburkan diri dalam organisasi apapun asalkan organisasi itu memusuhi uleebalang. Ia tak pernah melewatkan satu momentum pun yang berkaitan dengan upaya penyingkiran musuh-musuh bebuyutannya itu.

Husen Sab, dengan gagap gempita, menyambut Jepang tatkala mereka masuk ke Aceh pada Februari 1942 untuk menyingkirkan kekuasaan Belanda yang berkolaborasi dengan uleebalang. Husen merupakan anggota F-Kikan atau Fujiwara Kikan.

Saudara kandung Husen Sab, Sab Cut, tulis Anthony Reid dalam Sumatera Revolusi Elite Tradisional, juga “seorang pemimpin Pemuda PUSA yang militan”. Sab Cut memimpin serangan ke Kota Sigli jelang kedatangan Jepang ke kota tersebut pada 12 Maret 1942. Sab Cut menghabisi seluruh serdadu Belanda yang tersisa di kota itu dan ikut membunuh Asisten Residen Sigli.

Hasan Saleh, dalam bukunya Mengapa Aceh Bergolak, menuliskan Pemuda PUSA semula menghajar Asisten Residen di rumah dinasnya di pendopo di pinggir laut. “Ia lari ke arah Blok Sawah, ke rumah T. Pakeh Sulaiman. Rakyat terus mengejarnya, membacoknya berulang-ulang sampai tewas di Jembatan Kramat,” tulis Hasan Saleh.

Saat Sab Cut dan Husen Sab menunaikan tugas, abang mereka, Hasan Sab, berada di Lhokseumawe dalam organisasi yang sama—F-Kikan— dan juga melakukan hal yang sama.

Kakak beradik—Hasan Sab, Husen Sab dan Sab Cut— berasal dari Gigieng. Penentang uleebalang yang gigih ini berangkat dari keluarga pedagang. Mereka punya toko obat di Sigli.

Pada November 1945, beberapa bulan sebelum meletusnya Perang Cumbok, Husen Sab berhasil mengumpulkan sekitar 30 senjata api dari tentara Jepang yang diserahkannya pada Pemuda Republik Indonesia (PRI) Cabang Sigli. PRI Cabang Sigli saat itu dipimpin oleh Hasan Aly, tokoh Pemuda PUSA dan wartawan pada surat kabar mingguan Penjedar dan Seroen Kita. Hasan Aly berasal dari Kampung Aree, Garot. Ayahnya, menurut laporan Belanda, dibunuh oleh uleebalang.

Ketika Perang Cumbok berakhir, hanya dua dari 25 uleebalang yang tersisa, yaitu Bentara Pineung dan Uleebalang Trienggadeng. Lainnya lenyap tak berbekas. “Uleebalang yang paling terkemuka biasanya diangkut dan ditembak mati setelah dipertontonkan beberapa hari sebagai piala-piala kemenangan,” tulis Anthony Reid dalam Sumatera Revolusi Elite Tradisional.

Harta-harta mereka juga disita oleh Negara. Reid menuliskan bahwa alasan Bentara Pineung tidak dibunuh karena ia merupakan ayah Mr TM Hasan, Gubernur Sumatera saat itu.

Nasib keluarga Sab pasca-revolusi agak tragis. Alih-alih menikmati kemenangan, Hasan Sab konon dibunuh Husen Al Mujahid, Ketua Pemuda PUSA yang belakangan menasbihkan diri sebagai Panglima Revolusi Tentara Perjuangan Rakyat (TPR) dan Jenderal Mayor, yang melanjutkan sapu bersih uleebalang sepanjang pantai Timur-Utara pasca berakhirnya Perang Cumbok di Pidie.

Husen Sab menuntut balas atas kematian abangnya, Hasan Sab. “Pada pagi hari tanggal 4 Juli 1946 Jenderal Mayor ini diculik dari kamarnya di Hotel Aceh di Kutaraja. Ia dibawa keluar kota dengan sebuah truk dan dengan cara-cara yang sangat merendahkan. Para penculik bermaksud membawanya ke Sigli untuk diserahkan kepada Husen Sab guna mempertanggungjawabkan tindakan TPR yang telah membunuh Hasan Sab di Lhokseumawe beberapa bulan sebelumnya,” tulis Nazaruddin Sjamsuddin dalam Revolusi di Serambi Mekah.

Al Mujahid bernasib mujur. Ia lolos dari maut berkat Hasan Aly, yang mengarang cerita bahwa Daud Beureueh ingin memenjarakan Mujahid di Kutaraja.

Adik Husen Sab, Sab Cut, berang dengan sandiwara itu. Bersama pengawal pribadinya T Daud, Sab Cut memburu Al Mujahid hingga ke Langsa. Namun, aksinya itu dapat dicegah. Ia diminta untuk membalikkan kendaraan ke Sigli atau masuk ke Lhokseumawe. Mereka memilih masuk ke pondopo bupati Aceh Utara.

“Bujukan para pengawal di kediaman bupati agar ia keluar saja dari tempat itu karena bupati tidak ada, tidak digubrisnya. Para pengawal mengarahkan senjata mereka kepada Sab Cut dan T Daud. Sab Cut semakin naik pitam sehingga melepaskan satu-dua tembakan ke arah pengawal rumah bupati. Tembakan balasan yang dilakukan pengawal segera mengantarkan Sab Cut dan T Daud ke alam baka di depan pintu rumah bupati yang sedang kosong ini, karena memang benar Tgk Sulaiman Daud sedang tidak berada di rumah,” tulis Hasan Saleh dalam Mengapa Aceh Bergolak.

Bertahun-tahun kemudian, pada 1951, dua tahun sebelum DI/TII Aceh yang dipimpin Daud Beureueh meletus, Husen Sab kena razia penguasa militer di Kutaraja.

“Penguasa militer berpendapat bahwa razia tersebut diperlukan karena banyak orang tidak memenuhi seruan menyerahkan senjata dan amunisi kepada polisi, dan telah banyak terjadi penyelundupan barang-barang terlarang yang merugikan ekonomi daerah,” sebut Nazaruddin Sjamsuddin dalam bukunya Pemberontakan Kaum Republik Kasus Darul Islam Aceh. “…Sampai akhir November 1951, dilaporkan ada enam belas anggota PUSA yang ditangkap di seluruh Aceh, dan kebanyakan dari mereka kemudian dipenjarakan di Medan. Di antara mereka yang ditahan di Medan itu adalah Sjech Marhaban, Wedana Kutaraja, Husin Sab dan Peutua Husin, keduanya terlibat dalam kampanye anti-ulebalang di Kabupaten Aceh Pidie pada tahun 1946, dan Teungku Itam Peureulak, seorang ulama dan bendahara Majelis Penimbang Kabupaten Aceh Pidie.”

Saat-saat itu, harta-harta uleebalang masih dilelang dan Pemerintah Pusat tak kuasa menghentikan praktik tersebut. “Kegagalan ini menyebabkan unsur-unsur ulebalang lebih condong kepada para penguasa militer daerah, yang juga membutuhkan mereka untuk mengawasi berbagai kegiatan PUSA,” tulis Nazaruddin Sjamsuddin dalam bukunya Pemberontakan Kaum Republik Kasus Darul Islam Aceh.

Dan Uleebalang Landschap III Mukim Pineung, Teuku bentara Pineung, yang selamat dari sapuan revolusi sebelumnya, berada dalam kelompok uleebalang yang condong pada penguasa militer.

Apa yang dilakukan Bentara Pineung pada 1951 hingga 1953, sama seperti yang ia lakukan sebelum-sebelumnya baik itu saat Aceh berada di bawah rezim Belanda, Jepang, maupun Indonesia: memihak pemerintahan yang kuat. Untuk yang terakhir disebutkan—karena memihak Indonesia, misalnya— pada akhir Desember 1945, rumah Bentara Pineung digranat dan dirampok tentara Teuku Daud Cumbok, pemimpin Perang Cumbok, karena Bentara Pineung tak hadir dalam rapat uleebalang pada 10 Desember di Lueng Putu dan tidak menghadiri pertemuan para uleebalang di rumah Teuku Umar Keumangan.

Usai perang yang berlangsung singkat ini—Desember 1945- Januari 1946— pemimpin Pasukan Cumbok, Daud Cumbok, tulis Anthony Reid dalam Sumatera Revolusi Elite Tradisional, “menghadapi mautnya dengan sikap gagah berani yang dikagumi bahkan oleh lawan-lawannya di medan perang. Dikabarkan ia memilih sendiri cara matinya yaitu dengan membaringkan diri di lubang kubur yang sudah disediakan untuknya, mengucapkan kalimat syahadat dan kemudian berteriak, Tembak!”

Sementara, pada 1953, Bentara Pineung dibunuh oleh DI/TII Daud Beureueh karena, sebagaimana ditulis oleh Nazaruddin Sjamsuddin dalam Pemberontakan Kaum Republik Kasus Darul Islam Aceh, “kegiatan-kegiatannya yang anti-Darul Islam.”

Anak Bentara Pineung, Mr Teuku Moehammad Hasan dalam buku otobiografinya—Mr. Teuku Moehammad Hasan dari Aceh ke Pemersatu Bangsa— menuliskan bahwa sang ayah, Teuku Bentara Pineung, sangat dermawan. “Untuk mendirikan sekolah agama Diniyah di Blang Paseh, beliau telah mewakafkan sebidang tanah dan kolam ikan,” tulis Mr Teuku Moehammad Hasan.

Namun, pada 2018, tanah kolam di Diniyah di Blang Paseh itu telah jual pada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie melalui Dinas Kesehatan Pidie dengan pagu anggaran Rp 2,1 miliar.

Tentu hal seperti ini tak akan terjadi pada keluarga Teuku Umar Keumangan, yang pasca-Perang Cumbok harta miliknya yang diperkirakan Rp 12 juta (1946) disita Pemerintah Daerah Aceh. []

Loading...