Penjala Ikan Kerling di Lhok Pisang

·
Penjala Ikan Kerling di Lhok Pisang
Iskandar Harun, 42 tahun, warga Dusun Alue Reuling, Gampong Mane, Kecamatan Mane, Pidie, menjala ikan kerling di Lhok Pisang, Mane. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co— Iskandar Harun, 42 tahun, warga Dusun Alue Reuling, Gampong Mane, Kecamatan Mane, Pidie, mengendarai sepeda motor di atas jalan selebar dua meter, yang di sisi kiri-kanannya tampak hijau dan lebat dengan pohon-pohon kopi, durian, dan langsat di dalam kebun-kebun warga gampong setempat, Minggu, 19 Juli 2020 pagi.

Batu-batu sebesar bola kaki teronggok di atas permukaan jalan. Jika tak dapat mengelak batu-batu tersebut, bisa-bisa sepeda motor tergelincir. Terlebih, jalan tersebut menanjak dan menurun. Rumput-rumput liar tumbuh lebat di tengah-tengah jalan itu, menandakan bahwa jalan itu jarang dilalui oleh kendaraan roda empat.

Kondisi jembatan menuju ke Lhok Pisang. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Jarak tempuh menuju Lhok Pisang, sungai hijau yang diapit pohon-pohon ara, dari jalan Tangse-Geumpang, sekira 1,5 kilometer. Mula-mula, Anda akan melewati sebuah jembatan kayu yang doyong dan dibangun sekenanya, yang menghubungkan ruas jalan yang dipisahkan oleh aliran sungai di sana.

Baca juga:

Di balik bebatuan yang cadas, Iskandar Harun semula terlihat menyandang tas punggung. Sejurus kemudian, pria berkulit kuning langsat yang memiliki tubuh tinggi semampai itu meletakkan tas tersebut di atas pasir. Ia lalu mengeluarkan jala penangkap ikan dan mengenakan kaus kaki yang panjangnya selutut. Di dekatnya, ada tumpukan abu bekas api unggun dan pancing-pancing buluh bambu.

“Agar tidak tergilincir,” kata Iskandar Harun, menatap kaus kaki yang telah ia kenakan itu.

Arus sungai yang agak deras terdengar nyaring saat Iskandar berdiri atas onggokan batu. Ia, mula-mula, seperti sedang memasang kuda-kuda kemudian melemparkan jala ke sungai. Setiap ikan kerling, ikan air tawar yang memiliki warna tubuh keperakan, yang ia peroleh melingkar di pinggangnya. Ikan-ikan itu diikat dengan tali pancing.

Ayah tiga anak ini sudah 15 tahun menjala ikan kerling. Saban hari, setelah menyelesaikan pekerjaannya di sawah, ia akan menuju ke sungai Lhok Pisang. Bahkan hingga pada pukul 03.00 dini hari, senter yang melingkar di atas kepalanya masih menyala di tengah-tengah sungai Lhok Pisang.

“Dalam tiga tahun terakhir, hasil tangkapan ikan kerling agak berkurang. Ikan ren, anak kerling, dibeli Rp 60 ribu per kilogram. Ikan kerling dibeli Rp 150 ribu per kilogram. Alasan mengapa hasil tangkapan berkurang karena ada beberapa warga yang menangkap ikan tersebut dengan meracun dan menyetrum mereka,” sebutnya.

Di sejumlah rumah makan di Kecamatan Tangse, Mane, dan Geumpang, ikan kerling merupakan menu andalan. Ikan-ikan itu bertengger di dalam rak-rak pedagang nasi dalam wujud kuah asam pedas. Dagingnya terasa kenyal. []

Loading...