Penembakan Brutal dan Lisensi Senjata di Selandia Baru

·
Penembakan Brutal dan Lisensi Senjata di Selandia Baru
Sumber foto: Reuters Photo.

sinarpidie.co—Penembakan brutal yang dilakukan Brenton Tarrant, warga Negara Australia yang disebut Perdana Menteri Australia Scott Morrison sebagai seorang teroris bengis sayap kanan dan ekstrem, menewaskan 49 orang dan 20 lainnya mengalami cedera.  Penembakan tersebut dilakukan di Masjid Al Noor dan di masjid yang terletak di Linwood di pinggiran kota Christchuch. 

Dilansir dari bbc.com, sebelumnya, Brenton Tarrant mengunggah manifesto dukungan terhadap supremasi kulit puluh dan menentang ideologi kaum imigran.

“Ia merekam aksinya dengan kamera yang dipasang pada bagian kepala dan menyebarkannya lewat layanan streaming atau siaran langsung di Facebook. Ia memperingatkan akan adanya serangan tersebut,” demikian bbc.com. “… Pelaku mengenakan pakaian ala militer membuka tembakan ke arah sekitar 300 jemaah yang menunaikan salat Jumat.”

Dikutip dari detik.com yang melansir ABC Australia, salah seorang saksi mata, Ahmad Al-Mahmoud mengatakan pelaku penembakan mengenakan pakaian semi militer, menggunakan helm, dan melepaskan tembakan secara membabi-buta di dalam masjid.

Sosok Tarrant

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, mengatakan yang bersangkutan memiliki lima senjata api dan mengantongi izin kepemilikan senjata api. Tarrant memperoleh lisensi senjata kategori A pada November 2017 lalu. 

Kata Ardern, Tarrant telah bepergian ke berbagai tempat di dunia, termasuk Korea Utara dan Pakistan dan menghabiskan waktu secara sporadis di Selandia Baru.

"Saya tidak akan menyebutnya sebagai warga lama," ujarnya.

Pasca-insiden tersebut, Jacinda Ardern bersumpah untuk mengetatkan dan menguatkan undang-undang senjata di negara tersebut. 

"Kami sedang mengerjakan rangkaian rantai peristiwa yang mengarah pada kepemilikan dan lisensi senjata, undang-undang soal senjata akan kami ubah," ucap Ardern.

Mengutip tempo.co yang melansir laporan abc.net.au, Tarrant diketahui pernah mengunjungi Eropa, Asia Tenggara hingga Asia Timur.

“Bahkan dia sempat berkunjung ke Korea Utara, bersama kelompok tur ke Samjiyon Grand Monument…  Tarrant juga pernah bekerja sebagai instruktur fitness di Big River Gym, kota Grafton, utara New South Wales, Australia,” demikian tempo.co.

Ditangkap dan disidangkan

Brenton Tarrant ditangkap bersama tiga orang lainnya tak lama setelah serangan. Salah seorang di antara mereka kemudian dibebaskan. Ia langsung diadili dan didakwa dengan tuduhan pembunuhan.

Melansir cnnindonesia.com, usai menjalani sidang perdana, pelaku yang berusia 28 tahun tersebut dimasukkan ke dalam tahanan sampai jadwal pengadilan berikutnya pada 5 April 2019.  []

Loading...