Kasus melonjak

Penanganan Stunting Terabaikan selama Pandemi Covid-19

·
Penanganan Stunting Terabaikan selama Pandemi Covid-19
Nurasyidah, 22 tahun, bersama putranya, Alfarahman, 4,3 tahun. (sinarpidie.co/DIky Zulkarnen).

sinarpidie.co—Sepanjang jalan di Gampong Panton Beunot, Kecamatan Tiro, Pidie, belum pernah diaspal sekalipun. Jalan di sini masih berkerikil dan berpasir. Terdapat satu balai pengajian tempat anak-anak di Gampong Panton Bunot mengaji. Anak-anak di sini harus berjalan kaki atau bersepeda sejauh 500 meter untuk menuju ke Sekolah Dasar yang berada Gampong Blang Rikui, Kecamatan Tiro: SDN Blang Keudah. Saat tidak pergi mengaji dan tidak pergi ke sekolah, mereka biasanya bermain di sungai.

Kasus stunting, kondisi gagal tumbuh pada anak, di Pidie terus mengalami kenaikan setiap tahunnya. Pada 2018 lalu, jumlah anak stunting di Pidie tercatat 1.461 kasus. Angka ini melonjak pada 2019 menjadi 3.385 kasus. Lalu per Juni 2020, tercatat 2.953 kasus stunting di Pidie.

Total lokasi kasus (lokus) stunting di Pidie pada 2020 ialah 20 gampong di Kecamatan Kembang Tanjong, Tangse, Simpang Tiga, Mutiara Timur, dan Tiro. Gampong Panton Beunot, Kecamatan Tiro, adalah satu di dalamnya.

Saat ini, jumlah anak yang berumur nol sampai lima tahun di Gampong Panton Bunot tercatat 25 jiwa. Anak-anak tersebut mengikuti Posyandu yang di selenggarakan oleh pemerintah gampong setempat pada tanggal 9 setiap bulan di meunasah.

Putra satu-satunya pasangan Musliadi, 26 tahun dan Nurasyidah, 22 tahun, Alfarahman, 4,3 tahun, mengalami stunting, dan hal itu mereka ketahui pada 2018 lalu saat Alfarahman dibawa ke Posyandu. Kata Nurasyidah, pada saat Alfarahman berumur dua tahun, putra semata wayangnya itu sering mengalami step atau kejang demam.

“Saat dia mengalami step yang dilakukan hanya pengobatan alami dengan cara sumbo,” katanya, Rabu, 23 September 2020.

Pada masa kehamilan, kata Nurasyidah, dirinya “hanya makan nasi dan ikan asin”.

“Saya tidak suka makan sayur,” sebutnya.

Sehari-hari, ia bekerja sebagai petani dan ibu rumah tangga, sedangkan suaminya, Musliadi, adalah petani dan pekebun.

Sebagian ibu hamil di gampong ini yang melahirkan pada chik embot, semacam dukun beranak. Sementara, sebagian lainnya memilih melahirkan pada praktik bidan swasta yang tersebar tidak jauh dari Gampong Panton Bunot. "Ibu-ibu di sini tidak banyak yang pergi ke Puskesmas saat melahirkan,” sebut Nurasyidah.

Keuchik Gampong Panton Bunot, Taufik, 32 tahun, mengatakan, pada umumnya warga di sini bekerja sebagai petani dan berkebun. Luas areal sawah yang ditanami padi mencapai 120 hektare di sini. Namun, akhir-akhir ini, petani di gampong setempat berhadapan dengan serangan hama babi dan monyet. "Pada malam hari tanaman padi kami diserang oleh babi, sementara pada siang hari tanaman padi kami diserang oleh monyet," kata Taufik, Rabu, 23 September 2020.

Anita, 28 tahun, kader Posyandu di gampong setempat, mengatakan setiap Posyandu digelar, anak-anak di sini diberikan bubur kacang hijau, roti ATB, buah-buahan dan kacang-kacangan.

"Kalau untuk remaja hanya diberikan pil tambah darah. Untuk lansia paling dicek darah saja," kata Anita, Rabu, 23 September 2020.

Pada tahun 2020, kata Anita, belum ada program penanganan stunting yang dilakukan di Gampong Panton Bunot. "Tahun lalu melalui kelompok tani, kami mendapatkan bantuan anak bebek dari Dinas Pertanian Pidie," kata Anita.

Petugas gizi pada Puskesmas Tiro, yang namanya tidak mau disebutkan, mengatakan beberapa program penanganan stunting pada Dinas Kesehatan Pidie belum terealisasi tahun ini karena pandemi Covid-19.

"Pada tahun 2020, terdapat lima gampong di Kecamatan Tiro yang masuk ke dalam lokus stunting, yakni Gampong Panton Buenot, Gampong Penandok, Pulo Siblah, Pulo Masjid dan Meunasah Panah," kata petugas gizi pada Puskesmas Tiro itu. “Sebelumnya, pada tahun 2018, hanya tiga gampong yang masuk ke dalam lokus stunting, yakni Gampong Panton Bunot, Gampong Peunandok, dan Meunasah Panah. Pada tahun 2020 jumlah Gampong  lokus stunting di Kecamatan Tiro bertambah, yakni Gampong Pulo Siblah dan Pulo Masjid.”

Siti Zakiah STP, Penanggung Jawab Gizi pada Dinas Kesehatan Pidie, mengatakan pandemi Covid-19 sangat berdampak pada meningkatnya angka stunting di Pidie.

Dia juga mengatakan selama Covid-19, pihaknya kesulitan merealisasikan kegiatan-kegiatan penanganan stunting. “Selama Covid-19, penimbangan bayi tidak dilakukan di Posyandu. Penimbangan hanya pada bidan desa. Jadi tidak maksimal sehingga susah memantau pertumbuhan anak. Kami hanya berikan makanan tambahan atau PMT,” sebut Siti Zakiah, Rabu, 23 September 2020.

Baca juga:

Kegiatan-kegiatan penanganan stunting yang bersumber dari Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) senilai 750 juta pada tahun anggaran 2020 pada Dinas Kesehatan Pidie juga tak terealisasi, karena kegiatan-kegiatan yang disusun untuk menekan angka stunting tersebut adalah kegiatan-kegiatan yang mengumpulkan orang banyak, seperti seminar dan pertemuan lintas sektor. []

Reporter: Diky Zulkarnen dan Candra Saymima

Loading...