Sudut pandang

Peluang dan Tantangan untuk Meningkatkan Performa Kebun Kopi Tangse

·
Peluang dan Tantangan untuk Meningkatkan Performa Kebun Kopi Tangse
Sumber foto: aceh.tribunnews.com

Oleh Mardhiah*

Kopi dikenal sebagai minuman penyegar di Indonesia. Ada banyak varian rasa yang ditawarkan, sesuai bahan tambahan yang digunakan pada  saat proses pengolahan hingga penyajian. Bahkan ada yang cenderung memilih yang alami semisal esspreso.

Bahan tambahan yang diberikan biasanya memberi sensasi lain bagi masing-masing penikmat minuman penyegar yang satu ini. Kreamer/lemak susu, cokelat hingga kocokan kuning telur--dikenal dengan sebutan kupi boh manok--adalah beberapa di antaranya.  

Dunia mengenal empat jenis kopi, namun yang lazim kita dengar hanya tiga jenis, yaitu robusta, arabika dan liberika.

Di lain sisi, tanaman kopi merupakan tanaman tropis yang tumbuh pada dataran rendah hingga dataran tinggi. Kabupaten Pidie merupakan salah satu kabupaten penghasil kopi di Aceh, terutama untuk jenis robusta dan liberika. Kedua jenis ini cocok dibudidayakan dan telah lama dibudidayakan petani seperti di Kecamatan Tangse dan sekitarnya.

Dan, ketika kita menyebut Tangse, kita akan terbawa pada cita rasa kopi, durian, cabe rawit caplak dan ikan keureulieng.  

Khayalan kita juga terbawa pada alam yang sejuk. Menyeruput kopi dan meyantap ikan keureuling.   

Tanaman kopi merupakan komoditi perkebunan rakyat Tangse yang utama dari dulu hingga kini.

Data statistik perkebunan 2017 mencatat, ada  10.287 ha tanaman kopi di Kabupaten Pidie dan kebun kopi terluas berada di kecamatan Tangse (6459 ha).

Apa yang tergambar di atas seyogyanya dapat mencerminkan kualitas dan kuantitas kesejahteraan yang menggembirakan.

Namun, produktivitas tanaman tercatat masih di bawah angka produktivitas optimal  tanaman  itu sendiri. Produktivitas tanaman kopi di Kabupaten Pidie rata-rata sebesar 794 kg/ha/tahun padahal produktivitas tanaman kopi robusta dan liberika bisa mencapai 1000 kg/ha/tahun bahkan lebih.   

Apakah tanah Tangse kurang subur untuk tanaman kopi?  Semua sepakat untuk mengatakan tidak. Sesunggahnya tidak ada yang kurang pada keberpihakan alam untuk mendukung pertumbuhan kopi robusta dan liberika di Tangse sejak dulu.  

Yang agak kurang adalah komitmen kita dalam mengoptimalkan produksi tanaman walaupun kopi bukanlah tanaman manja yang butuh perlakuan khusus dalam budidayanya.   

Kemauan petani kopi untuk mengubah biji  kopi menjadi dollar perlu ditingkatkan.  Sengaja saya tidak menyebut rupiah agar kita sadar bahwa kopi adalah komoditas ekspor. Dengan kata lain, menanam kopi bukan hanya untuk pemenuhan kebutuhan “minum-minum kopi” warga Tangse dan Kabupaten Pidie saja, tapi lebih dari itu. Di batang kopi sesungguhnya melambai-lambai lembaran yang bergambarkan George Washington atau Abraham Lincoln, letaknya pun tidak terlalu tinggi, masih mampu kita raih, tentu dengan segenap ikhtiar berikut step by step yang wajib kita penuhi sebagai petani kopi.

Budidaya tanaman kopi

Dalam  Permentan No.  49 Tahun 2014 tentang Pedoman Teknis budidaya  Tanaman Kopi yang baik disebutkan,  tanaman kopi merupakan tanaman budidaya yang dalam pelaksanaan budidaya tentu harus memperhatikan aspek-aspek dasar budidaya tanaman, seperti syarat tumbuh terpenuhi, baik iklim maupun tanah sebagai media tumbuh, penanaman, pemupukan, pemeliharaan termasuk pemangkasan serta pengendalian hama dan penyakit tanaman.  Hal lain yang juga tidak boleh diabaikan adalah pohon naungan. Sekilas persyaratan iklim  untuk tanaman kopi:

 Persyaratan  Kopi Robusta: 

-          Garis lintang 20o LS sampai 20o LU. 

-         Tinggi tempat 300 s/d 1.500 m dpl. 

-          Curah hujan 1.500 s/d 2.500 mm/th.  • Bulan kering (curah hujan < 60 mm/bulan) 1‐3 bulan. 

-          Suhu udara rata‐rata 21‐24o C.

Persyaratan tanaman kopi Liberika (Liberoid):

-          Tinggi tempat 0 s/d. 900 m d.p.l

-          Curah hujan 1.250 s/d. 3.500 mm/th

-          Bulan kering (curah hujan < 60 mm/bulan) + 3 bulan

-          Suhu udara 21 – 30 0C.

Tanaman kopi layaknya tanaman pada umumnya yang membutuhkan tanah yang subur baik dari sifat fisik, kimia maupun biologi tanah.

Peforma kebun kopi di wilayah Tangse

Bagi petani kopi di wilayah Tangse teknik budidaya bukanlah sesuatu yang baru. Namun, melihat kebun kopi petani di Kecamatan Tangse, kita akan mendapati sesuatu yang terlewatkan pada tahapan budidaya, sehingga produksi kurang optimal.

Selain itu, pohon naungan merupakan persyaratan mutlak bagi budidaya kopi dan petani kopi sudah sangat memahami peran pohon naungan itu sendiri. Secara turun-temurun, keberadaan pohon durian adalah pemandangan yang lazim pada semua kebun kopi.  

Jiwa enterprenuer sejati yang diperlihatkan petani kita, dua jempol untuk mereka.  Selain durian, juga digunakan pohon petai dan sedikit lamtoro.  Kaum ibu tentu paham berapa harga jual petai per kg saat ini? Peluang yang menjanjikan, bukan?

Lazimnya, kebun kopi selalu dianjurkan tanaman semusim untuk tanaman sela. Lagi-lagi Tangse memiliki komoditi khas, yaitu cabe rawit caplak. Sesungguhnya nilai lebih yang ditawarkan tanaman pelindung dan tanaman sela telah membuat kebun kopi di Tangse sangat layak disebut kebun bila diukur kualitas kesejahteraan yang ditawarkan.

Pertanyaan sederhana, kenapa pamor Tangse dengan ikon hasil alamnya agak meredup?  Jawabannya juga tidak kalah sederhana. Kita membutuhkan komitmen dan konsistensi yang tinggi dan ditambah dengan teknologi yang mampu mengembalikan Tangse sebagai landmark-nya kopi, durian dan cabai.  Cukup dengan diversifikasi yang telah teruji, dan hindari alih komoditi agar ketersediaan produk tetap terjamin.

Sebagai contoh,  mentimun suri dan semangka, misalnya. Semua pengguna jalan nasional sangat paham bahwa semangka banyak dijual di pinggir jalan nasional di sebuah gampong bernama Rambayan.  Dalam sebuah perjalanan  Takengon – Banda Aceh seorang teman saya berkata, nanti kita beli semangka di Sigil.

Saya paham, yang dimaksud adalah Rambayan.  Dan ternyata pedagang di Rambayan mampu menjaga ketersediaan semangka walaupun semangka impor juga berdatangan dari tempat lain.

Mentimun suri juga tidak kalah pesonanya. Adalah Blang Malu tempat yang paling banyak didatangi pembeli khusus pada bulan Ramadhan.  Mari kita ingat sebaris petuah yang familiar dikalangan “ureung Pidie”, yaitu Jaroe bak langai, mata u Pasai. 

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor bisnis yang menjanjikan apabila pengembangan komoditas selalu didasari pada analisa usaha tani yang tepat guna dalam menilai prospek  ekonomi, sosial dan kelestarian lingkungan, melalui keberlanjutan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan.

Tentu dalam memenuhi ketersediaan produk (demand) kita melihat pentingnya pemahaman zona (pembagian wilayah) untuk pengembangan komoditas tertentu semisal Tangse sebagai wilayah pengembangan kopi--dan nilam yang masih bisa tumpang sari dengan tanaman kopi. Padahal nama yang ditabalkan sudah pula mencerminkan perlunya zonasasi pengembangan komoditas perkebunan di Kabupaten  Pidie dan ini pula yang dapat menjadi indikator zonasi komoditas secara global dan fleksibel karena pengembangan komoditas pertanian selalu berkaitan dengan syarat tumbuh seperti intensitas curah hujan, suhu, tekstur tanah dan kondisi topografi.  

Baca juga esai Mardiah lainnya:

Bukankah Kabupaten Pidie sendiri berjuluk Kabupaten Kerupuk Mulieng hanya karena kekhasan produknya yang berasal dari biji melinjo tersebut yang ketersediaan produk terjaga secara kontinyu. 

Belum terlambat, ayo suguhkan para pemburu biji kopi robusta dan liberika dengan bu breuh Tangse dan kuah asam keueung ungkoet  keureuling di jambo yang asri nan sejuk. Nyamankan telinga mereka dengan gemericik aliran air dari mata air. Ajak mereka ke kebun kopi dengan pohon naungan pokok durian. Berjalan-jalanlah di sela-sela tanaman cabai caplak. []

*Mardhiah, warga Pidie.

Loading...