Pasukan Mersose Aceh yang Berseragam Hitam

·
Pasukan Mersose Aceh yang Berseragam Hitam
Transportasi barang dan logistik militer Hindia-Belanda dengan gajah dari Lammeulo ke Tangse 1918. Sumber foto: KITLV.

SETELAH operasi militer besar-besaran yang dilancarkan Pemerintah Kolonial-Hindia Belanda di sepanjang pesisir pantai Timur dan Utara Aceh hingga ke tanah Gayo dari 1898 hingga 1904 usai, setelah Sultan Kerajaan Aceh Muhammad Daudsyah menyerah pada 1903, setelah J.B Van Heutsz diangkat sebagai Gubernur Jenderal Hindia-Belanda pada 1904, seorang pawang burung di Tiro masih memimpin 400 tentara yang terlatih sebagaimana pasukan Mersose dilatih, berseragam hitam, dan memiliki senjata yang memadai. Pawang burung ini adalah Teungku Cot Ciciem, pengikut Teungku Chik Ditiro Muhammad Saman.

Ibrahim Alfian, dalam buku Perang di Jalan Allah Perang Aceh 1873-1912, yang mengutip Struyvenberg dalam Het Korps Marechaussee, menuliskan bahwa pasukan Teungku Cot Ciciem ini hampir tak memiliki perbedaan dengan pasukan Marsose Belanda. “Pasukan Cot Cicem ini adalah contoh dalam usaha meniru teknologi kemiliteran Belanda. Berbaris dengan tata cara yang rapi, memakai aba-aba terompet, dan sebagainya,” tulis Ibrahim Alfian.

Tapi pasukan elite yang mendapat julukan “Marsose Aceh” ini semakin terdesak dan keadaan menjadi semakin buruk selama periode patroli para Mersose Hindia-Belanda yang dilancarkan hingga ke pelosok kampung dan hingga ke hutan.

Teungku Cot Ciciem masih dapat bertahan dengan sisa waktu dua tahun sebelum keadaan menjadi lebih buruk lagi. Teungku Cot Ciciem, bersama 11 pengikutnya, meninggal dunia di dalam pertempuran di hulu sungai Krueng Baro pada 29 Maret 1906.

H.C. Zentgraaff, dalam buku Aceh, menyebutkan bahwa Teungku Cot Ciciem tewas di tangan pasukan Marsose yang dipimpin Sersan Gotz.

Pengganti Teungku Cot Ciciem adalah Teungku Leman. Pada 20 Juni 1907, pasukan ini menyerang bivak Belanda di Keumala. 19 pasukan Aceh gugur dalam penyerangan tersebut. Sementara, di pihak Belanda, dua serdadu tewas dan delapan lainnya luka-luka.  “Kemudian Tgk. Leman bersama 33 orang pengikutnya dapat dihabiskan di Gle Krueng Rubah, Pidie pada 15 April 1908,” tulis Ibrahim Alfian, dalam buku Perang di Jalan Allah Perang Aceh 1873-1912.

Menurut H.C. Zentgraaff dalam buku Aceh, pasukan yang dipimpin Teungku Leman ini berpas-pasan dengan patroli Marsose yang dipimpin Letnan Jenae sehingga kontak fisik pun tak mampu dielak.

Tumbangnya pasukan “Mersose Aceh” ini membuat lapisan-lapisan pertahanan putra Teungku Chik Ditiro Muhammad Saman, Teungku Dibukit alias Teungku Beb dan Teungku Mahyeddin, benar-benar rapuh.

Letnan H.J Schmidt, pada 28 Februari 1910, mendapat tugas untuk melacak serta menaklukkan unsur-unsur lawan (lawan Belanda) yang berada di Tangse.

Operasi itu menyasar Teungku Mahyeddin dan Teungku Dibukit, Teungku Dagang Blang Jeurat alias Teungku di Tangse, dan Peutua Gam Masen (seorang pawang harimau yang konon punya ilmu kebal).

Dalam buku Aceh, H.C Zentgraff menuliskan bahwa kekuatan pasukan tersebut terdiri dari seorang letnan satu, dua serdadu Eropa, satu serdadu Ambon, satu serdadu pribumi, satu kopral Ambon dan satu kopral pribumi, 17 Mersose Ambon, 17 Mersose pribumi, satu kopral perawat, seorang mandor, dan 24 kuli kerja paksa.

Paul Van’t Veer, dalam bukunya Perang Aceh Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje, menyebutkan pasukan Marsose yang dipimpin Letnan H.J. Schmidt yang terlibat dalam operasi ini “memperoleh: dua militaire willemsorde kelas tiga, sebilah pedang kehormatan, tiga militaire willemsorde kelas 4, dua bintang perunggu, dan sepuluh pernyataan kehormatan dalam perintah-perintah harian” pada 1912, satu tahun setelah operasi tersebut selesai.

Pertemanan Van Heutz dan Snouck

Ekspedisi atau operasi militer besar-besaran yang dilancarkan militer Kolonial Hindia-Belanda di Aceh digagas oleh JB Van Heutz saat ia menjabat sebagai Gubernur Sipil dan Militer di Aceh pada Mei 1898. Jabatan tersebut diembannya selama selama enam tahun.

Operasi militer besar-besaran tersebut dilakukan atas rekomendasi Snouck Hurgronje, penasihat Pemerintah Hindia-Belanda Urusan Islam dan Bumiputera.

“Politik penaklukan seluruh Aceh dengan tangan besi yang dipegang teguh oleh Van Heutsz diteruskan oleh para penggantinya, yaitu Jhr. J. C. van der Wijck (Juni 1904-Mei 1905), G.C.E van Daalen (Mei 1905-Juni 1908), dan H.N. A Swart (Juni 1908-September 1908),” tulis Ibrahim Alfian dalam buku Perang di Jalan Allah Perang Aceh 1873-1912.

Sebelum Snouck Hurgronje merampungkan penelitiannya (De Atjehhers), Aceh adalah kuburan massal bagi Belanda setelah lebih dari 20 tahun berperang tanpa diberengi pengetahuan yang bersifat akademis dan mendalam tentang Aceh.

Penelitian Snouck di Aceh, yang ia dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, —16 Juli 1891 hingga 4 Februari 1892— terdiri dari “sistem politik, administrasi, budaya, mata pencaharian, hukum, pendidikan, kesenian, dan agama”.

Doktor sastra Arab lulusan Universitas Leiden pada 1880 itu menyarankan pada Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda untuk memisahkan antara Islam sebagai sistem budaya dan Islam politis. Oleh sebab itu, rekomendasi Snouck pada Pemerintah Kolonial Hindia Belanda adalah memilah elite politik pribumi menjadi dua: elite yang berbasis adat dan elite yang berbasis agama. Elite berbasis agama sendiri dibagi ke dalam dua bagian, yaitu elite agama berbasis ritual dan elite agama bertendensi politik. Pemerintah kolonial mesti menggalang elite adat dan elite agama berbasis ritual, sementara elite agama bertendensi politik harus dilenyapkan.

Menurut Snouck, kebijakan defensif sama sekali tidak memberikan keuntungan bagi Belanda. Kebijakan yang harus diterapkan adalah kebijakan ofensif. “Sebaliknya, selama kita sendiri tidak mengambil langkah ofensif melawan negeri-negeri di wilayah pantai, pos-pos militer di Aceh Besar akan terus menjadi sasaran penyerangan oleh orang-orang Aceh,” tulis Snouck.

Van Heutz tiba di Aceh dengan pangkat letnan dua saat perang Aceh pecah pada 1873. Karir militernya moncer berkat penugasan dan keterlibatannya dalam operasi-operasi militer di Aceh. Ia menjadi mayor pada 1891. Pada saat masih berpangkat kapten, Van Heutz menjabat sebagai kepala staf Gubernur Militer Aceh, Jenderal Van Teijn.

Pada saat Jenderal Van Teijn menjabat sebagai Gubernur Militer Aceh inilah Korps Marsose dibentuk atas usulan seorang jaksa kepala pada pengadilan di Kutaraja (Banda Aceh), Muhamad Arif.

Van Heutz saat masih berpangkat letnan satu. Repro buku Aceh (H.C Zentgraff).

“Pada tahun 1889 dibentuk dua detasemen pengawalan mobil yang dapat dianggap sebagai pelopor korps yang sesudah dua puluh tahun akhirnya merupakan jawaban terhadap masalah-masalah militer yang dikemukakan oleh Perang Aceh. Korps ini adalah Korps Marsose Jalan Kaki,” tulis Paul Van ‘t Veer dalam bukunya Perang Aceh, Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje “… Persenjataannya sebaik-baik persenjataan pada masa itulah: karaben pendek, bukan senapan panjang-panjang, kelewang dan rencong, sepatu dan pembalut kaki untuk semua anggota dan segera juga topi anyaman pengganti helm yang tidak praktis.”

Ketika Van Heutz berpangkat letnan kolonel, ia pernah ditempatkan di Medan sebagai komandan militer daerah Sumatera Timur. Saat ditugaskan kembali ke Aceh, ia ikut serta dalam “operasi pengkhianatan Teuku Umar” dan perebutan Benteng Aneuk Galong yang sebelumnya ditinggalkan pasukan Belanda tapi kemudian diduduki Teungku Muhammad Amin, putra pertama Teungku Chik Ditiro Muhammad Saman.

Ibrahim Alfian, dalam Perang di Jalan Allah, membagi Perang Aceh-Belanda dalam tiga fase. Pertama, fase agresi Belanda pertama pada April 1873 dan agresi kedua pada Desember 1873. Dalam fase pertama ini, pertempuran berlangsung di lapangan terbuka. Fase kedua ialah ketika uleebalang memimpin perang di daerah-daerah mereka masing-masing, lalu fase terakhir adalah perang rakyat yang dipimpin ulama setelah para uleebalang menyerah pada Belanda.

Baca juga:

H.C. Zentgraaff menggambarkan keluarga Tiro sebagai satu keluarga yang begitu besar pengaruhnya dalam Perang Aceh. Katanya, dalam buku Aceh, “… tidak pula ada satu keluarga Aceh lainnya yang meneruskan perjuangan sampai kepada titik darah yang penghabisan, selain keluarga tersebut.”

Pada September 1897, Van Heutz naik pangkat menjadi kolonel dan dipindahkan ke Batavia (Jakarta) sebagai kepala staf tentara Hindia-Belanda. Delapan bulan kemudian Van Heutsz diangkat menjadi Gubernur Militer dan Sipil Aceh. Pangkatnya saat itu: mayor jenderal. Ia menjadi letnan jenderal pada tahun 1900 saat masih menjabat sebagai Gubernur Aceh. Kelak ia mengemban jabatan sebagai Gubernur Jenderal Hindia-Belanda pada 1904 hingga 1909.

Walaupun Snouck dan Van Heutsz kerap berbeda pendapat, sejumlah catatan pribadi keduanya menunjukkan bahwa karir Van Heutsz yang moncer tak lepas dari intervensi Snouck di Batavia. Snouck bahkan menasihati Van Heutsz untuk urusan-urusan yang sangat pribadi sekalipun dalam korespondesi rahasia mereka berdua.

“Snouck dan Van Heutsz sudah saling mengenal sejak zaman remaja mereka di Breda. Ketika itu Snouck duduk di HBS, Van Heutsz mengikuti kursus sersan. Kemudian mereka berjumpa lagi di Den Haag: yang satu sebagai pengajar, yang lain sebagai siswa sekolah militer tinggi. Pada tahun 1892 untuk ketiga kalinya: Van Heutsz menjadi komandan batalyon di Meester Cornelis Batavia, Snouck sekarang penasihat pemerintah. Keduanya sibuk mengerjakan publikasi-publikasi tentang Aceh,” tulis Paul Van ‘t Veer dalam bukunya Perang Aceh, Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje.

Tentara desertir

Kembali pada pasukan elite si pawang burung, Teungku Cot Ciciem, yang berseragam hitam. Pada 1897, terdapat 58 tentara desertir Eropa yang meninggalkan kesatuan dalam keadaan hidup dan aktif melawan Belanda.

Adalah Frans Pauwels, salah seorang tentara desertir yang melarikan dua senapan Mauser beserta amunisi lalu melatih pasukan Aceh tentang taktik gerilya.

“Fuselir-fuselir Belanda mati-matian bertahan mengatakan bahwa pada serangan-serangan musuh jelas mereka telah mendengar komando-komando dalam bahasa Belanda,” tulis Paul Van ‘t Veer dalam bukunya Perang Aceh, Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje.

Menurut Paul, pasukan dari kesatuan artileri mendapat tempat yang bagitu baik di sisi masyarakat Aceh. “Mereka (orang Aceh) sendiri tidak banyak tahu bagaimana harus menggunakan meriam. Bila pada tahun 1896 musuh (orang Aceh) berhasil menggunakan meriam, maka menurut orang Belanda ini adalah berkat jasa baik (atau jasa jahat) orang-orang Eropa yang melakukan desersi. Dan sesungguhnya, ketika pada tahun-tahun masa lini seorang artileri Eropa lari dari salah sebuah pos, tentulah dia yang mengajarkan kepada orang Aceh bagaimana mereka dapat mempergunakan granat-granat Belanda yang tidak meledak sebagai ranjau-ranjau darat untuk meledakkan rel dan kereta apinya sekaligus,” tulisnya. []

Loading...