Pasar Rakyat di Padang Tiji belum Dihibahkan pada Pemkab Pidie

·
Pasar Rakyat di Padang Tiji belum Dihibahkan pada Pemkab Pidie
Pasar Rakyat Padang Tiji. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co-Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop-UKM) Pidie belum memungut sewa atau mengenakan retribusi pada 38 penyewa kios di pasar rakyat Padang Tiji, Pidie. “Belum kita ambil sewa karena pasar belum dihibahkan. Masih tercatat sebagai  aset di Kementerian Perdagangan. Rencananya April dihibah tapi belum bisa diproses karena pandemi Covid-19,” kata Kepala Dinas Disperindagkop-UKM Pidie, Zulkifli ST, Selasa, 11 Agustus 2020.

Kios di dalam kompleks pasar tersebut berjumlah 84 kios. Ada dua pintu masuk utama di depan, satu pintu masuk di los bagian tengah belakang, dan satu pintu masuk di setiap los sisi kiri serta kanan belakang.

Hanya ada 10 lampu gantung di sana yang kini sudah tak menyala lagi karena tak ada aliran listrik. Lantai di sana juga belum semuanya terpasang keramik. Bahkan beberapa pintu kios sudah hilang.

Kios-kios di dalam pasar rakyat tersebut kebanyakan ditempati penjual pakaian dan penjahit.

Samsul Bahri, 35 tahun, warga Kunyet Padang Tiji, telah berdagang jilbab dan asesoris di salah satu kios berukuran kira-kira 3 x 4 meter di pasar tersebut selama hampir dua tahun. Sebelumnya, ia juga berjualan dengan menyewa ruko milik Pemkab Pidie yang sebelumnya berdiri di sana sebelum ruko-ruko itu dirobohkan untuk dijadikan lahan tempat pasar modern tersebut dibangun senilai Rp 5,9 miliar pada 2017 lalu.

“Para pedagang lama sebanyak 70 orang menarik lot untuk mendapatkan kios nomor berapa yang akan dihuni di pasar yang baru. Kalau bagian dalam diperuntukan untuk penjual baju dan penjahit, sedangkan bagian luar untuk penjual pupuk dan bumbu masak,” katanya, pekan lalu.

Pada awal-awal menempati kios tersebut, Samsul harus memindahkan beberapa lampu di dalam kios yang ditempatinya karena atap kios tersebut bocor. “Pintu juga harus dibuka hati-hati agar tidak rusak. Meteran listrik saya pasang sendiri karena listrik induk untuk pasar tersebut tak hidup. Saya ingin mengganti pintu ini tetapi dilarang karena katanya akan direhap ulang,” sebut Samsul Bahri.  “Pintu ini kalau didorong kuat akan langsung jebol, makanya saya tidak berani menaruh banyak barang. Beberapa pedagang lain telah mengganti pintu mereka adalah mereka yang memiliki harga dagangan tinggi. Mereka takut kehilangan barang saat malam hari.” []

Loading...