Para Pengrajin Tampah di Gampong Barieh Ujong Rimba

·
Para Pengrajin Tampah di Gampong Barieh Ujong Rimba
Nuraini saat menganyam tampah. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

sinarpidie.co--Tampah, dalam bahasa Aceh lazim disebut Jeu e, adalah anyaman bambu berdiameter antara 65-80 cm. Benda ini biasanya digunakan untuk menampi beras. Di Gampong Barieh Meunasah Lingkok, Kemukiman Ujong Rimba, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie, hampir setiap rumah dihuni perempuan-perempuan pengrajin tampah.

"Itu sudah berlangsung puluhan tahun di gampong ini secara turun temurun. Gampong Barieh ini juga sudah menjadi ikon tempat pembuat anyaman tampah," kata Zulfikar, 46 tahun, warga gampong setempat.

Salah seorang pengrajin tampah, Nuraini, 51 tahun, menuturkan, dirinya belajar menganyam tampah pada ibunya. "Sudah puluhan tahun saya menekuni usaha pembuatan tampah ini," kata Nuraini kepada sinarpidie.co di rumahnya sambil membuat anyaman tersebut, Sabtu, 25 Agustus 2018.

Nuraini melanjutkan, ada beberapa bahan baku untuk membuat produk tersebut. "Yang harus disiapkan seperti, bambu, rotan, bambu untuk pelingkar dan rampagoe (alat untuk penjepit-red)," kata dia lagi.

Kemudian, bahan baku yang telah disiapkan seperti bambu dibelah lebih kecil dari ukuran jari kelingking. Selanjutnya, bambu tersebut direndam dengan air selama dua hari. Rotan, kata dia, juga dibelah-belah dulu sesuai dengan ukuran yang akan digunakan. "Setelah itu baru dilakukan proses pembuatannya sampai selesai, untuk satu tampah bisa selesai dalam satu hari," sebutnya.

Ia merinci, untuk pembuatan satu tampah ia mengeluarkan modal sebesar Rp 8 ribu, sedangkan harga jual Rp 15.000 per buah. "Sekarang sudah sedikit berkurang kebutuhan tampah, tidak banyak lagi yang butuh, kalau dulu kan ada mesin perontok padi, jadi orang itu selalu pesan tampah tiap menjelang panen, sekarang sudah ada mesin pemotong/pamanen (lengkap-red) padi, secara otomatis kebutuhan anyaman tampah sudah berkurang," ujarnya.

Kata Nuraini, ia dan para pengrajin tampah di gampong tersebut umumnya menganyam benda itu setelah musim panen. "Saat musim tanam padi menjadi buruh upah tanam padi. Dulu kami bawa sendiri ke pasar pada hari peukan. Sekarang sudah ada tengkulak yang datang sendiri mengambil ke rumah," ujar ibu empat anak ini. []

Loading...