Perjalanan

Para Penganyam Nampan di Pulo Pande

·
Para Penganyam Nampan di Pulo Pande
Pasangan suami-istri, Muhammad Hanafiah, 28 tahun, dan Nilda Wati, 21 tahun, membuat nampan di balai seukuran 2 x 4 meter di depan rumah mereka di Dusun Batee Timoh, Gampong Pulo Pande, Kecamatan Batee, Pidie. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co-Jalil Yusuf, 78 tahun, terlihat sibuk sedang mengiris buluh bambu di dalam sebuah gubuk yang sudah doyong Minggu pekan lalu. Selain menjadi tempat ia bekerja, gubuk tersebut merupakan tempat tinggalnya di Dusun Batee Timoh, Gampong Pulo Pande, Kecamatan Batee, Pidie.

Buluh tersebut dia bawa pulang dari Blang Peutek Padang Tiji menggunakan sepeda. Diusia yang sudah senja, Jalil masih sanggup memanjat perdu bambu. Buluh-buluh bambu yang ia bawa pulang adalah bahan baku utama untuk pembuatan nampan, atau jeu'e dalam bahasa Aceh.

Sementara Jalil Yusuf mengiris buluh bambu, istrinya, Badhryah Hasyim, 68 tahun,  menganyam buluh yang telah diiris kecil-kecil menjadi sebuah jeu'e di sebuah rangkang di belakang gubuk reot tersebut. "Setelah suami saya mengiris-ngiris buloh, saya hanya merangkainya menjadi keunada atau bleud sebelum jadi jeu'e," kata Badhryah. "Setelah keunada selesai, keunada tersebut akan dijepit menggunakan dua irisan bambu biasa dan dirantai menggunakan rotan."

Pasangan suami-istri tersebut membuat jeu'e semenjak mereka menikah 50 tahun yang lalu. Jeu'e yang dibuat dengan tangan dingin mereka setiap Minggu akan diambil oleh seorang pengepul dengan harga Rp 10 ribu per jeu'e. "Seminggu kami sanggup membuat 25 jeu'e," Badhryah.

Pasangan suami-istri lainnya, Muhammad Hanafiah, 28 tahun, dan Nilda Wati, 21 tahun, juga sibuk membuat nampan di balai seukuran 2 x 4 meter di depan rumah mereka.

Pasangan suami-istri ini memilih igeuh,  sedikit lebih besar daripada buluh bambu, sebagai bahan baku pembuatan jeu'e. Igeuh tersebut di ambil oleh Hanafiah di Kemukiman Kunyet Padang Tiji.

Nampan buatan mereka bukanlah nampan untuk manampi beras, melainkan nampan hiasan dengan ukuran lebih kecil dari nampan pada umumnya. Ada juga yang berbentuk lingkaran dengan diameter dua jengkal. "Ini pesanan orang. Diambil setiap Minggu dengan harga Rp 8 ribu per nampan," kata Hanafiah.

Pembuatan nampan tersebut dimulai dengan mengiris igeuh, lalu mereka dijemur di bawah terik matahari. "Harus benar-benar kering agar tidak berjamur," kata Nilda.

Setelah proses penjemuran, igeuh-igeuh tersebut akan diwarnai menggunakan maloe atau pewarna pada tikar. "Mantek akan dimasak dulu dengan air, lalu igeuh akan dimasukkan ke dalam air campuran tersebut agar warna melekat. Kemudian mereka dijemur sampai kering," lanjut Nilda.

Proses berikutnya adalah merangkai mereka menjadi bleut, "Ada tiga pola gambar yang bisa kami buat: pola bunga, ombak, dan hati," kata Nilda.

Sang suami, Hanafiah, akan merantai bleut tersebut menggunakan irisan bambu dan rotan yang telah diwarnai. []

Loading...