Kawula Muda

Para Pelukis di Komunitas Rungka

·
Para Pelukis di Komunitas Rungka
Hasil lukisan pelukis di Komunitas Rungka. (sinarpidie.co/Wahyu Puasana).

sinarpidie.co--Senin, 1 Oktober sore 2018, di sebuah warung kopi di jalan Keunire, Sigli, setiap tangan empat  lelaki dan satu orang perempuan muda menggenggam pulpen dan pensil. Di depan mereka, tergeletak beberapa buah buku gambar.

Mereka duduk di muka kedai yang ramai pengunjung.

Sesekali mereka saling memperlihatkan hasil lukisan.

Mereka adalah sekelompok pemuda yang tergabung dalam komunitas lukis yang mereka namai Rungka.

Ardiansyah Yusuf, atau yang akrab disapa Ardi, adalah ketua cum pendiri Komunitas Rungka.

Ia menjelaskan, nama Rungka (bahasa Aceh) berarti kerangka, yang mana kerangka tersebut menurutnya, adalah bagian paling dasar dari tubuh dan saling terkait. Sehingga, ia dan kawan-kawan berharap komunitas ini saling melengkapi.

"Selain itu, nama Rungka terdengar keren," ujar pria kelahiran Ule Glee, 10 November 1991 itu sambil tertawa.

1 Juni 2017 silam, Ardi mengajak beberapa kawannya yang ada di komunitas Kroeng, sebuah komunitas seni, untuk membentuk Rungka. Baginya, meski Kroeng juga bergerak di bagian seni, tapi ia tetap ingin membentuk Rungka, yang khusus bergerak dalam  seni rupa.

"Kroeng juga komunitas seni, tapi gak fokus dengan lukis," ungkap pria berkacamata itu.

Tujuan pembentukan Rungka sendiri adalah untuk menampung pelukis-pelukis yang ada di seputaran Pidie, supaya terbentuk sebuah wadah bagi para pelukis untuk menyalurkan bakatnya.

"Kan sebelumnya kita tidak tau, jadi dengan adanya komunitas ini, anak-anak muda yang suka melukis jadi tertarik bergabung, dan mereka merasa ada lho yang punya hobi yang sama dengan mereka," ungkap pria yang juga berprofesi sebagai perawat itu.

ia juga menambahkan,  Rungka juga menjadi tempat mereka “saling bersolidaritas".

Semenjak didirikan, mereka sudah mempunyai tujuh anggota aktif, dan mereka rutin megelar pertemuan per dua minggu sekali.

Di setiap pertemuan mereka selalu melukis. Setelah itu, hasil karya tersebut di unggah di akun instagram @rungka_.

"Tujuannya ya untuk memperkenalkan karya-karya kita," kata dia.

Rungka sendiri tidak menuntut anggotanya untuk melukis dengan aliran tertentu. Semua anggotanya bebas menentukan gaya lukisannya sendiri. "Kita nggak masalah kalau gaya. Bebas, terserah sama anggotanya. Di sini kita bisa dibilang multi-genre. Ada genre surealis kayak saya, ada dark ilustration, ada juga pop art".

Pelukis dalam komunitas Rungka. (sinarpidie.co/Wahyu Puasana).

Dalam waktu dekat mereka juga berencana membuat mural di dinding. Hal itu diungkapkan oleh Fikram, yang merupakan anggota, sekaligus pengurus komunitas Rungka. "Tapi ini murni dari kantong pribadi, belum ada sponsor," ungkap pria bekumis lebat itu.

Ia juga menambahkan, "Nanti kalau dananya udah terkumpul, baru kita cari lokasi yang pas".

Fikram sendiri bergabung setelah beberapa minggu Rungka terbentuk. Baginya bergabung dengan komunitas lukis adalah sebuah keinganan yang sudah lama ia dambakan.

"Jadi sebelumnya, aku tuh cuma ngelukis-ngelukis sendiri di rumah, sejak aku tau ada Rungka, ya aku tertarik buat gabung," kata dia.

Fikram juga berencana untuk membuat pameran yang akan menampilkan karyanya dan anggota komunitas Rungka.

“Kalau acara mural udah selesai, kita juga pengen membuat pameran untuk hasil karya-karya kita," tutupnya. []

Loading...