Panganan Meugang di Pidie

·
Panganan Meugang di Pidie
Jajanan musiman saat memasuki meugang Ramadhan, seperti halua dan leumang, dijajakan di Jalan Perniagaan Kota Sigli, tepatnya di depan meunasah kota. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co - Meja-meja, seukuran meja belajar di sekolah, telah tersusun berjajar di Jalan Perniagaan Kota Sigli, tepatnya di depan meunasah kota, sejak Jumat, 9 April 2021 sore. Di atas meja-meja itu, jajanan musiman saat memasuki meugang Ramadhan, seperti halua dan leumang, dijajakan.

Rosniati Marhaban, 65 tahun, warga Gampong Lamreuneung, Kecamatan Indra Jaya, duduk di kursi  di belakang sebuah meja di sana. Ia merupakan penjual halua. Sesekali, Rosniati mengobrol dengan Saifullah, 42 tahun, warga Gampong Unoe Bungkok, Kecamatan Glumpang Baro. Saifullah merupakan penjual leumang di sana.

Umumnya, penjual halua dan leumang berjualan selama 24 jam dalam empat hari berturut, dua hari sebelum meugang dan dalam dua hari selama meugang di Pidie. Penjual leumang kebanyakan warga Kecamatan Kembang Tanjong dan Glumpang Baro, sedangkan penjual halua rata-rata berasal dari Kemukiman Bluek, Kecamatan Indrajaya.

Dalam empat hari, sebagaimana tahun lalu, masing-masing penjual halua di tempat itu mampu menjual 80 kilogram halua. "Satu kilogramnya Rp 60 ribu," kata Nurmalawati, 41 tahun.

Halua dagangan ibu tujuh anak ini  dipotong-potong menjadi empat ukuran dan dimasukan ke dalam plastik bening. "Ada yang satu ons, ada dua ons, ada lima ons dan satu kilogram," katanya lagi.

Omzet para penjual halua lebih kurang Rp 4,8 juta dalam empat hari. Sementara, penjual leumang mendapatkan omzet sekitar Rp 1,2 juta dalam empat hari.

Halua legit dan manis. Warnanya cokelat. Bahan baku untuk panganan ini terdiri dari beras ketan tumbuk, beras tumbuk, kelapa, dan gula pasir.  Sementara, bahan baku leumang terdiri dari beras ketan dan santan yang dibalut daun pisang muda. Mereka dibakar pada bara api dengan sudut kemiringan kira-kira 80 derajat.

Saifullah, 42 tahun, warga Gampong Unoe Bungkok, Kecamatan Glumpang Baro, mengatakan biasanya dirinya menjual 30 batang bambu leumang dalam empat hari. "Leumang yang saya jual telah saya potong-potong. Masing-masing seharga Rp 5 ribu dan Rp 10 ribu," kata ayah empat anak ini. []

Loading...