Panen Rambutan di Tuha Lala

·
Panen Rambutan di Tuha Lala
Faridah, 36 tahun, warga Gampong Tuha Lala, Kecamatan Mila, sedang mengikat rambutan menjadi per gedeng. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

sinarpidie.co - Di sepanjang jalan yang diapit kebun-kebun rambutan di Gampong Tuha Lala, Kecamatan Mila, Pidie, 18 kilometer dari Kota Sigli, ibu kota Kabupaten Pidie, perempuan-perempuan paruh baya sedang mengikat rambutan, Minggu, 6 Desember 2020.

Faridah, 36 tahun, warga Gampong Tuha Lala, Kecamatan Mila, Pidie, misalnya. Ia mengikat rambutan per gedeng (dua ikat) pada salah satu kebun di sana sejak pagi hingga sore dalam dua pekan belakangan. Dalam satu hari, ia mampu menghasilkan 150 hingga 200 gedeng rambutan.

“Upah untuk satu gedeng Rp 600. Selama sehari bekerja, penghasilan yang saya peroleh sebesar Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu,” kata Faridah, Minggu, 6 Desember 2020. “Pekerjaan ini hanya ada pada saat musim panen rambutan saja. Sehari-hari, saya bekerja sebagai buruh tani.”

Fauzul, 21 tahun, warga Gampong Tuha Lala, yang juga salah seorang pemilik kebun rambutan di gampong setempat, mengatakan harga satu gedeng rambutan yang dijual pada pengepul ialah Rp 8 ribu. “Pengepul datang langsung ke kebun untuk membeli dan mengambil rambutan-rambutan tersebut,” kata Fauzul, Minggu, 6 Desember 2020.

Di kebunnya itu, Fauzul membudidayakan dua jenis buah rambutan: rambutan belerang dan rambutan nona. “Rambutan jenis belerang lebih banyak peminat daripada rambutan nona,” kata Fauzul.

Kata Fauzul lagi, saat memasuki musim panen, banyak rambutan warga yang diserang hama kelelawar dan monyet. “Kelelawar dan monyet merontokkan rambutan. Untuk itu, para pemilik kebun melakukan ronda di kebun mereka,” tutup Fauzul.

Loading...