Bola

Old Firm Derby Skotlandia, Politik Identitas hingga Isu SARA

·
Old Firm Derby Skotlandia, Politik Identitas hingga Isu SARA
Sumber foto: fourfourtwo.com.

sinarpidie.co--Sebuah derby dalam dunia sepakbola selalu mempunyai sisi yang menarik. Sebab, semua derby di seluruh kompetisi sepakbola yang ada di dunia selalu memiliki nilai yang lebih dari sekedar menang, kalah, atau seri. Di sana, akan tersaji rivalitas yang sangat kental.

Dari keseluruhan derby di dunia yang sarat rivalitas yang tinggi, rasanya belum ada yang bisa menyamai Old Firm Derby. Derbi klasik itu adalah persaingan dua tim Skotlandia asal kota Glasgow: Glasgow  Rangers dan Celtic F.C.

Dalam derby tersebut, sepak bola bukan sekedar chant para supporter, berapa skor pertandingan, selebrasi juara, atau jumlah trofi yang sudah di koleksi di dalam lemari masing-masing klub. Lebih dari itu, ketika dua klub tersebut bersua, selalu saja membawa urusan kondisi sosial, agama, dan politik. Dan hal tersebut telah berumur selama berabad-abad, demi apa yang disebut: superioritas.

Sejak abad delapan belas, karena alasan hama menggerogoti kentang-kentang milik orang-orang di Irlandia, yang berimbas pada maraknya pengangguran dan kemiskinan yang semakin merajalela, akhirnya orang-orang tersebut memilih untuk menjadi imigran pencari suaka. Tujuan awalnya adalah benua Amerika. Di tengah perjalanan, mereka mendapat kendala untuk sampai ke sana. Akhirnya, mereka milih berlabuh di Skotlandia untuk melanjutkan kehidupannya.

Akan tetapi mereka tidak datang dengan “tangan kosong”. Para imigran tersebut membawa politik baru, yang berkenaan dengan loyalis dan republikan, selain itu juga ideologi konservatisme, sosialisme, dan menghadirkan agama Katolik di tengah-tengah kaum Protestan di kota Glasgow, Skotlandia.

Setelah membangun peradaban baru di Glasgow, kaum-kaum katolik mulai mendirikan sekolah-sekolah baru. Sebab, mereka tidak dapat mengakses pendidikan dari kaum Protestan, bahkan mereka selalu saja mendapat penolakan keras untuk bekerja di perusahaan-perusahaan kelompok pemeluk Katolik. Akhirnya, mereka membuka lapangan kerja sendiri.

Pada 1873, Glasgow Rangers didirikan dengan dukungan penuh dari orang-orang Protestan. Sementara, berselang lima belas tahun kemudian, kelompok Katolik ikut menyaingi mereka dengan mendirikan Celtic F.C. Tujuan dasar didirikan klub tersebut untuk mengantisipasi pengaruh protestanisme di tengah-tengah Katolik.

Di awal-awal perjalanan, Celtic mampu menggungguli saudara sekaligus saingan tuanya, Rangers. Celtic mengalahkan Rangers dengan skor 5 berbalas 2, sekaligus menyambet empat trophy.

Bara persaingan dan sentimen agama, ideologi, dan politik semakin memanas. Rangers merasa dilucuti oleh kaum imigran. Mereka meradang. Walhasil, mereka sukses membalas Celtic lewat beberapa kemenangan.

Tak terelak, derby yang dinamakan Old Firm itu berubah menjadi arena pertarungan dua kepercayaan: Katolik dan Protestan.

“Tak cuma agama saja, persaingan kedua klub ini juga melebar hingga dimensi politik; sosialisme melawan konservatisme; juga nilai-nilai yang mereka anut. Para pekerja Protestan kebanyakan menganut nasionalisme Ulster: mereka konservatif dan mendukung Inggris. Sedangkan pendukung Celtic yang mayoritas Katolik adalah pendukung IRA dan menolak bergabung ke Inggris,” demikian dikutip dari tirto.id.

Dari rivalitas tersebut juga lahir beberapa kebijakan yang sarat isu SARA. Misalnya dari Rangers, yang selama berabad-abad menolak untuk merekrut permain berlatar belakang katolik. Namun di era modern, kebijakan tersebut gugur setelah mereka merekrut Maurice Johnson, yang beragama Katolik.

Situasi yang lebih brutal lebih tergambar di lapangan. Pendukung kedua belah pihak secara gamblang menyanyikan chant-chant rasis dan intoleran. Derby tersebut tak jarang berujung dengan kerusuhan hingga baku hantam.[]

Loading...