Nyak Din RBT yang Terjerat Kasus Makar

·
Nyak Din RBT yang Terjerat Kasus Makar
Nasruddin, terdakwa kasus makar ditahan di Rutan Kelas II B Sigli. (sinarpidie.co/Firdaus).

sinarpidie.co — Umi Salamah, 70 tahun, duduk di teras rumahnya yang rindang di Gampong Lancang, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie, Selasa, 13 April 2021 sore. Ia tak mampu lagi berjalan menuruni undakan teras rumah itu. Untuk sekadar bangkit dari duduknya, ia harus menggunakan tongkat kayu.

Waktu tempuh dari Kota Sigli, ibukota Kabupaten Pidie, ke Gampong Lancang, sekitar 38 menit berkendara.

Umi tak kuasa menahan tangis tatkala ia mendengar nama cucunya, Nasruddin, 43 tahun, disebut. Nasruddin telah sekitar enam bulan mendekam di balik jeruji besi. Saat ini, ayah tiga anak ini berada di Rumah Tahanan Kelas II B Sigli di Gampong Benteng karena dijerat kasus makar.

Karena kasus yang saat ini menjerat Nasruddin, Umi terngiang kembali peristiwa-peristiwa puluhan tahun silam yang menimpa dirinya. Suatu hari di tahun 1998, ia ditangkap di Jeunib, Bireun, lalu dibawa ke Rumoh Geudong, Pos Satuan Taktis dan Strategis (Pos Sattis) di Gampong Bilie Aron, Kecamatan Glumpang Tiga, Pidie. Umi disekap dan disiksa di Rumoh Geudong selama 3 bulan 6 hari. Dari Rumoh Geudong, Umi kemudian dibawa ke Pos Sattis di Rancong, di Kompleks Exxon Mobil di Lhokseumawe. Di kamp penyiksaan tersebut, Umi ditahan selama 15 hari. “Saya dituduh membeli senjata dan menyembunyikan senjata serta menyembunyikan anggota Aceh Merdeka,” katanya.

Sebelumnya, Umi dua kali ditahan di Pos Sattis di Asrama Tentara di Kota Bakti. “Penangkapan pertama 1,5 bulan dan yang kedua sekitar 1,5 bulan. 3 bulan kurang lebih saya pernah ditahan di Lameulo (Kota Bakti),” kenang Umi Salamah. “Tiga hari saya dibebaskan dari Rumoh Geudong, kamp itu dibakar.”

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), dalam dokumen ringkasan eksekutif hasil penyelidikan Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang Berat Peristiwa di Aceh (Rumoh Geudong dan Pos sattis Lainnya), mengungkapkan bahwa saat Daerah Operasi Militer (DOM) dengan sandi Operasi Jaring Merah (1989-1998) diberlakukan di Aceh, Pos Satuan Taktis dan Strategis (Pos Sattis) dibentuk setidaknya di setiap kecamatan di 4 sektor, yaitu Sektor A/Pidie, Sektor B/Aceh Utara, Sektor C/Aceh Timur, dan Sektor D/Aceh Tengah. Pelaksanaan operasi yang berada di bawah komando Korem 011/Lilawangsa ini, berdasarkan penyelidikan Komnas HAM, dilakukan dengan pasukan Kopassus sebagai pelaksana lapangan.

Pos Sattis berfungsi sebagai tempat penyekapan orang-orang yang diperiksa, tempat interogasi, tempat penyiksaan, dan eksekusi.

Umi menceritakan bagaimana ia menantang para interrogatornya di Pos Sattis. “Saat mereka tanya pada saya tentang Teungku Abdullah Syafi’i dan Daud Paneuk, saya tantang mereka. Kalau kalian berani kejar mereka biar saya di depan menjadi tameng. Tapi beranikah kalian datang ke sana?” kata Umi. “Tidak berani mereka!”

Teungku Abdullah Syafi’i adalah mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dan Daud Paneuk adalah mantan tentara DI/TII pimpinan Daud Beureueh. Belakangan, Daud Paneuk juga menjadi salah seorang pentolan Aceh Merdeka yang dideklarasikan Hasan Tiro pada Desember 1976.

Umi memukul-mukul pahanya saat ia melanjutkan kata-katanya, “Nyak Din (Nasruddin) harus bebas. Anaknya ada tiga,” tutur Umi. “Dia memasang spanduk meminta merdeka. Dia tidak salah. Dia hanya meminta. Diberikan atau tidak, ya terserah. Dia tidak membuat onar dan tidak merugikan orang lain.”

Umi Salamah, 70 tahun. (sinarpidie.co/Firdaus).

Ia berkali-kali mengusap matanya yang basah. Dengan terbata-bata, Umi melanjutkan kata-katanya, “Begitu besar pengorbanan keluarga kami. Nyawa kami berikan. Tapi apa yang terjadi sekarang? Apa yang didapatkan oleh orang-orang seperti kami saat damai seperti sekarang. Mungkin itu yang membuat Nyak Din juga kecewa dan meminta merdeka.”

Minggu, 11 Oktober 2020 sore, Nasruddin, Zulkifli, dan M Jafar membentangkan spanduk yang bercorak Bendera Bulan Bintang di Glee Gapui dan di Gedung Fakultas Teknik Unigha di Glee Gapui, Kecamatan Indrajaya. Kata-kata di spanduk tersebut adalah Kamoe simpatisan ASNLF, meununtut Acheh pisah deungoen indonesia, Acheh Merdheka (Kami Simpatisan ASNLF, menuntut Aceh pisah dengan Indonesia, Aceh Merdeka).

Pemasangan spanduk tersebut dilakukan atas perintah Nasir Usman, 55 tahun. Nasir meminta Nasruddin merekam proses pemasangan spanduk lalu mengirimkan hasil rekaman tersebut pada Asnawi Ali, 45 tahun. Rekaman video pemasangan spanduk tersebut selanjutnya diunggah oleh Asnawi Ali melalui akun youtube Asnawi Ali dengan judul “SPANDUK ACEH MERDEKA DIPAJANG DI UNIGHA”.

Selasa, 27 Oktober 2020 Nasruddin dan Zulkifli diamankan oleh pihak kepolisian Polres Pidie atas dugaan tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara dan ujaran kebencian melalui media sosial. Sementara, M Jafar kini tercatat sebagai DPO.

Keduanya dipersangkakan Pasal 106 KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) KUHP, Pasal 106 KUHP jo Pasal 87 KUHP jo Pasal 53 (1) KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) KUHP, Pasal 160 KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) KUHP Ke-1 KUHP, Pasal 45A Ayat (2) jo Pasal 28 Ayat (2) UU Nomor 19 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik jo Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP, dengan ancaman pidana penjara seumur hidup.

Semenjak Nasruddin mendekam di balik jeruji besi, putri sulungnya, Safinatul Bahraini, 18 tahun, tak lagi mengaji di Dayah Mustanul Mualimin Al-Munawarah di Pidie Jaya karena tak ada lagi yang membiayainya. Bersama dua adiknya, Safinatul membantu ibunya, Hendiana, 37 tahun, berjualan bakso bakar di depan rumah mereka.

Baca juga:

Sebelum dibekuk polisi karena kasus makar, Nasruddin bekerja sebagai tukang ojek atau yang lazim disebut RBT. Di Gampong Lancang, tak ada lansia yang tak pernah dibawa Nyak Din ke rumah sakit atau Puskesmas Kembang Tanjong. Hanya Nasruddin satu-satunya RBT yang rela dibayar dengan ongkos seiklasnya di gampong itu. “Selain RBT, saya bekerja serabutan,” kata Nasruddin, yang ditemui di Rutan Kelas II B Sigli, Selasa, 13 April 2021 sore.

Alasan Nasruddin membentangkan spanduk bercorak bendera Bulan Bintang yang memuat kalimat ingin memisahkan diri dari Indonesia dilatari kekecewaannya terhadap kondisi Aceh saat ini. “Di dalam UUPA, kita boleh punya bendera dan himne sendiri. Tapi kenyataannya sekarang bendera tidak bisa dikibarkan dan himne tak bisa dinyanyikan,” kata Nasruddin. “Karena kekecewaan saya itu, saya meminta merdeka meskipun itu hanya sebatas permintaan.”

Nasruddin tidak merasa menyesal telah membentangkan spanduk tersebut. “Bagi saya, perjuangan dulu sangat pahit. Kekecawaan saya dimulai sejak 2010. Kami bukan kriminal dan bukan perampok,” tuturnya. "Hari ini hampir di semua gampong ada janda dan anak yatim korban konflik yang menyampaikan keluh-kesah. Saya tak bisa tutup mata dan tidak bisa tutup telinga dengan apa yang mereka rasakan saat ini."

Pada 2003, Nasruddin tercatat sebagai salah seorang narapidana politik (Napol) Aceh karena kasus makar. Ia dipenjara di Magelang, Jawa Tengah. Usai damai pada Agustus 2005, Nasruddin dibebaskan. “Saat itu, saya divonis 20 tahun penjara,” tutur Nasruddin. “Saya bebas karena ada amnesti.”

Kala itu, Nasruddin ditangkap setelah ia turun dari Gle Kayee Lhon Teupin Raya untuk mencari obat malaria di Kembang Tanjong. “Saya ambil obat pada Mantri Amat. Beliau sudah almarhum. Dia (mantri) dulu  pernah disekap di Pos Lameulo (Kota Bakti). Telinganya dipotong,” sebutnya.

Dan, spanduk tersebut tampaknya hanyalah pesan kekecawaan pada kondisi Aceh hari ini. []

Koreksi: Pada 2003, Nasruddin divonis 3 tahun penjara karena kasus makar (bukan 20 tahun). Koreksi dilakukan Sabtu, 17 April 2021 pukul 22.05 WIB.

Loading...