Nyak Din RBT Divonis 1 Tahun Penjara

·
Nyak Din RBT Divonis 1 Tahun Penjara
Gedung PN Sigli. Dok. sinarpidie.co.

sinarpidie.co — Terdakwa kasus makar, Nasruddin atau yang akrab disapa Nyak Din RBT, 43 tahun, divonis satu tahun penjara. Lalu, salah seorang terdakwa kasus yang sama, Zulkifli, 35 tahun, divonis 8 bulan penjara.

Sidang pembacaan putusan digelar Jumat, 21 Mei 2021, di Pengadilan Negeri Sigli, dengan Ketua Majelis Hakim, Dahniel Saputra SH MH, beserta hakim anggota Adji Ahdillah SH dan Erwin Susilo SH.

Penasihat hukum kedua terdakwa dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh, Syahrul SH MH, mengatakan pihaknya tidak mengajukan banding atas putusan tersebut. “Bukan karena kami menerima putusan tersebut, melainkan karena kami tidak meyakini adanya peradilan yang bersih. Aneh rasanya dengan kasus seperti ini orang bisa dihukum,” kata Syahrul Jumat, 21 Mei 2021.

Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Pidie, Dahnir SH, mengatakan para terdakwa terbukti melakukan tindak pidana makar, sebagaimana dakwaan alternatif kesatu Pasal 106 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP

Vonis majelis hakim ini senada dengan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri Pidie, yakni dakwaan alternatif kesatu pasal 106 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) KUHP. “JPU menerima putusan ini,” kata Dahnir SH, Jumat, 21 Mei 2021.

Baca juga:

Awalnya kedua terdakwa ini didakwakan dengan empat dakwaan alternatif, yaitu pertama, pasal 106 KUHP jo pasal 55 Ayat (1) KUHP yang ancamannya seumur hidup, atau selama-lamanya 20 tahun kurungan; kedua, pasal 106 KUHP jo pasal 87 KUHP jo pasal 53 (1) KUHP jo pasal 55 Ayat (1) KUHP yang ancamannya seumur hidup, atau selama-lamanya 20 tahun kurungan; ketiga, pasal 160 KUHP jo pasal 55 Ayat (1) KUHP Ke-1 KUHP dengan ancaman 6 tahun; dan keempat, pasal 45A ayat (2) jo pasal 28 Ayat (2) UU Nomor 19 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik jo pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHP dengan ancaman 6 tahun atau denda 1 miliar.

Dalam serangkaian persidangan perkara tersebut, JPU menghadirkan saksi ahli, antara lain Rahmat SAg MHum, ahli bahasa dari Balai Bahasa Aceh, Muslem SSi MInfotech, ahli ITE dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), dan Dahlan Ali, ahli pidana dari Unsyiah.

Di lain pihak, penasihat hukum terdakwa juga menghadirkan 4 ahli, yaitu Dr Wilsa SH MH ahli pidana dari Unsam Langsa, Dr Ahmad Sofyan SH MH, ahli pidana dari Universitas Bina Nusantara Jakarta, Dr Herlambang P Wiratama SH MA, ahli HAM dari Univeraitas Airlangga Surabaya, dan Teuku Kemal Farsya, ahli antropologi bahasa dari Universitas Malikussaleh.

Diberitakan sebelumnya, Minggu, 11 Oktober 2020, Nasruddin, Zulkifli, dan M Jafar membentangkan spanduk yang bercorak Bendera Bulan Bintang yang memuat kata-kata Kamoe simpatisan ASNLF, meununtut Acheh pisah deungoen indonesia, Acheh Merdheka (Kami Simpatisan ASNLF, menuntut Aceh pisah dengan Indonesia, Aceh Merdeka) di Glee Gapui dan di Gedung Fakultas Teknik Unigha di Glee Gapui, Kecamatan Indrajaya. Nasruddin dan Zulkifli dicokok polisi pada Selasa, 27 Oktober 2020. Sementara, M Jafar kini tercatat sebagai DPO. Berbeda dengan Soekarno, keduanya bahkan tidak lulus SMA.

Pemasangan spanduk tersebut dilakukan atas perintah Nasir Usman. Nasir meminta Nasruddin merekam proses pemasangan spanduk lalu mengirimkan hasil rekaman tersebut pada Asnawi Ali. Rekaman video pemasangan spanduk tersebut lalu diunggah oleh Asnawi Ali melalui akun youtube-nya dengan judul “SPANDUK ACEH MERDEKA DIPAJANG DI UNIGHA”.

Loading...