Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar Melemah dan Pabrik Tempe di Gampong Jumphoih Adan

·
Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar Melemah dan Pabrik Tempe di Gampong Jumphoih Adan

sinarpidie.co--Sanusi Ibrahim, 32 tahun, produsen tahu dan tempe di Gampong Jumphoih Adan, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie sudah menjalankan usaha tersebut kurang lebih selama delapan tahun. Nama pabrik produksi tahu dan tempenya itu: Usaha Barona Tahu.

“Dulu saya bekerja sama orang lain di Banda Aceh selama sepuluh tahun. Kemudian baru buka sendiri. Awalnya tempat usaha saya di Gampong Jojo Mutiara Timur. Di sana saya jalankan sudah selama lima tahun. Kemudian pindah ke Gampong Adan. Di sini, produksi sudah berjalan selama tiga tahun,” kata Sanusi Ibrahim pada sinarpidie.co, Selasa, 11 September 2018.

Di ruangan berdindingkan papan yang berukuran sekitar 10 x 8 meter itu terlihat dua pekerja sedang sibuk memotong tahu yang sudah jadi. Ada enam  pekerja yang bekerja di pabrik produksi tahu dan tempe tersebut.

Dalam sehari, pabrik tahu dan tempe Sanusi membutuhkan bahan baku sekitar 300 kg kacang kuning.

“Di bagian pembuatan tahu ada dua orang, pada bagian pembuatan tempe ada dua orang. Selanjutnya yang menjual dua orang,” kata dia. “Hasil produksi tempe saya pasarkan ke Beuruenuen dan juga ada pekerja saya yang berjualan di Grong-Grong.”

Kata dia, 150 kg kacang kuning dapat menghasilkan sekitar 1000 batang tempe ukuran kecil yang harganya dijual Rp 1000 per batang di tingkat eceran. Kemudian 500 batang tempe yang sedikit besar dengan harga jual di tingkat eceran Rp 2.000 per batang, dan sekitar 30 - 40 batang tempe ukuran besar dengan harga jual Rp 5000 per batang di tingkat eceran.

“Kalau tahu, dalam 150 kg kacang kuning menghasilkan 54 papan yang harganya Rp 35.000 per papan.” kata dia. “Harga jual dari tempat produksi ke pengepul. Tempe ukuran kecil Rp 700. Tempe ukuran sedang Rp 1.500 dan tempe ukuran besar Rp 4000. Merek mereka: Jumpa Putih.”

Dalam tiga bulan ini, kata Sanusi Ibrahim, harga bahan baku berupa kacang kuning mengalami kenaikan sekitar Rp 800 sampai Rp 1000.

“Sekarang harga sekilo kacang kuning Rp 8. 000, sebelumnya harga sekilo  Rp 7.000 sampai 7.200 paling tinggi,” ungkapnya.

Akibat kenaikan bahan baku tersebut, menurutnya, keuntungannya menjadi berkurang.

“Ya caranya harus menyiasati dengan cara lain agar tidak rugi. Paling kita buat sedikit kecil ukurannya, tetapi tidak nampak itu. Sekitar satu gramlah kita kurangin,” kata dia. “Kalau tidak, saya akan rugi, karena dalam tiga hari saya menghabiskan bahan baku kacang kuning sekitar 1 ton, ya kalau dikalikan 1000 x 1 ton udah berapa hilang untung saya.”

Dalam beberapa waktu belakangan, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) melemah di level Rp 14.800-an per USD. Dampaknya, salah satunya, merembes hingga  pada pelaku industri kecil-menengah, seperti industri tahu dan tempe yang masih tergantung pada kedelai impor.

Menurut data Asosiasi Kedelai Indo­nesia (Akindo), sebagaimana dikutip dari pikiran-rakyat.com, hingga April 2018, realisasi impor kedelai sudah mencapai 532.000 ton. “Realisasi impor ini tidak jauh berbeda dengan tahun lalu. Sementara itu, impor pada Mei dan Juni sebesar 225.000 ton dan 230.000 ton, sedangkan kebutuhan sebulan bia­sanya mencapai 100.000 hingga 150.000 ton. Tahun 2017, impor kedelai mencapai 2,67 juta ton. Kementerian Pertanian sendiri terus mendorong swasembada ­pangan. Salah satunya adalah pada 2020, Indonesia tidak lagi mengimpor kedelai,” demikian pikiran-rakyat.com.

Sanusi, misalnya. Ia memasok bahan baku sekitar dua ton dalam seminggu yang biasanya ia pesan melalui seorang agen. Oleh agen bahan baku tersebut dibeli di Medan, Sumatera Utara.

Proses pembuatan tahu dan tempe

Sanusi menguraikan proses pembuatan tempe.  Pertama, kata dia, kacang kuning direbus terlebih dahulu,

“Kemudian digiling. Setelah itu, diendapkan selama satu malam. Lalu dicuci. Kemudian direbus sekali lagi Dikeringkan. Dan setelah itu diaduk dengan ragi. Kemudian baru dimasukkan ke dalam plastik sesuai dengan ukuran masing-masing, Setelah dua hari baru menjadi tempe,” kata dia menjelaskan.

Sementara proses pembuatan tahu, kata dia, kacang kuning direndam terlebih dulu selama dua jam, setelah itu digiling sehalus tepung, dimasak dan diayak (proses pengambilan sari pati air kacang kuning).

“Kemudian langsung dicetak, sekira setengah jam sudah jadi tahu. Saya berharap ada kepedulian dari pemerintah terhadap usaha saya, agar bisa diberi bantuan peralatan mesin atau bisa akses ke bank tanpa bunga yang tinggi. Selama ini saya memakai mesin bekas. Sudah dua unit rusak mesin bekas yang saya pakai. Karena usaha saya sedang berkembang dan sangat butuh dukungan dari pemerintah,” tutupnya. []

Loading...