Nestapa Afika dengan Luka Bakar di Sekujur Tubuh

·
Nestapa Afika dengan Luka Bakar di Sekujur Tubuh
Afika, 7 tahun, anak ketiga pasangan Fauzi, 39 tahun, dan Nilawati, 37 tahun, warga Gampong Blang Rheu, Kecamatan Ulim, Pidie Jaya, terbaring di atas kasur. (sinarpidie.co/ M Rizal).

sinarpidie.co -- Nasib malang menimpa Afika, 7 tahun, anak ketiga pasangan Fauzi, 39 tahun, dan Nilawati, 37 tahun, warga Gampong Blang Rheu, Kecamatan Ulim, Pidie Jaya. Afika terbaring lemah tak berdaya di atas kasur yang beralaskan daun pisang muda selama setengah bulan lebih di dalam sebuah rumah tipe 36 tanpa plafon yang bercat putih, yang baru saja selesai dibangun akhir tahun 2019 lalu dengan Dana Desa (DD) gampong setempat, akibat luka bakar di sekujur tubuhnya.

Lima bulan lalu, setelah pulang dari sekolah sekira pukul 13.05 WIB, saat sedang bermain di di depan rumahnya, Afika menemukan korek api gas di pinggir jalan. Tidak jauh dari situ, terdapat botol minuman bekas. Afika lantas membakar botol minuman bekas tersebut yang kemudian meleleh dan membakar bajunya. Sekejap kemudian, sekujur tubuhnya pun ikut terbakar.

"Di tengah perjalanan menuju meunasah saya mendengar suara teriakan Afika dan saya langsung balik, berlari kencang. Saya mendapati bajunya sudah terbakar semua. Saya membawa air dalam timba langsung menyiramnya," ujar Fauzi, ayah Afrika, Rabu, 5 Februari 2020.

Akibatnya, Afika mengalami luka bakar disekujur tubuh, mulai dari bawah dada hingga ke tumit. Ia lima hari dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pidie Jaya lalu dirujuk ke Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh lantaran luka yang dialaminya cukup serius.

"4,5 bulan dirawat di sana dangan menggunakan BPJS. Kata dokter baru 20 persen penyembuhannya, setelah dua kali operasi," ujar Fauzi. "Karena tagihan BPJS sudah mencapai Rp 800 juta, disarankan pulang sebantar karena sudah terlalu banyak tagihan untuk Afika. Disuruh balik lagi untuk operasi lanjutan dengan data yang baru."

Direktur RSUD Pidie Jaya dr Fajriman mengatakan Afika juga sering dibawa ke RSUD Pidie Jaya. "Khusus untuk menjaga stabilitas luka. Cuma kendalanya, saat kita butuh bantuan bedah plastik untuk repair luka. Terkendala di biaya pendamping. Keluarga sudah diedukasi tentang cara merawat di rumah," kata dr Fajriman, Rabu, 5 Februari 2020.

Fauzi, yang sehari-hari bekerja sebagai buruh kasar di kebun dengan pemasukan tak menentu, sempat tak bisa membawa anaknya, Afika, ke Banda Aceh untuk penanganan medis lanjutan lantaran keterbatasan biaya.

"Sekarang kami tidak ada dana untuk membawa kembali Afika ke Banda. Dulu selama 4,5 bulan kami di sana adalah sedikit sumbangan dari warga gampong," kata Fauzi lagi.

Kini, kondisi badan dan punggung Afika yang masih dibalut perban putih mulai kotor karena cairan nanah yang keluar. Ia sesekali menangis kesakitan sehingga harus dikipasi dengan tangan dan kakinya pun tampak mengecil. 

"Insya Allah besok kami akan mengambil rujukan di RSUD Pijay dan langsung ke RSUZA, lantaran sudah ada yang bantu Rp 10 Juta dari Fraksi PA DPRK Pidie Jaya, Saifullah Kostrad,"  ujar Fauzi. []

Komentar

Loading...