Sejarah

Muda Balia yang Melegenda di Njong

·
Muda Balia yang Melegenda di Njong
Makam Muda Balia di Gampong Sawang, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya. (sinarpidie.co/Wahyu Puasana).

sinarpidie.coSUATU KETIKA, saat Aceh menjadi bagian dari Pemerintahan Kolonial Hindia-Belanda, Muda Balia, seorang pemuda asal Gampong Njong, yang kala itu sedang berada di gelanggang ternak milik Uleebalang Teuku Laksamana Njong, sudah bersiap untuk menyembelih seekor ayam.

Kerbau-kerbau di gelanggang itu melenguh. Tak dinyana, sayatan pisaunya membikin kepala ayam itu terpisah dari badan.

“Kecil-kecil sembelih ayam. Buat rugi orang saja,” kata sang pemilik ayam.

Mendengar kata-kata itu, wajah Muda Balia merah-padam. Ia malu bukan kepalang. Seketika itu juga ia meninggalkan gelanggang ternak tersebut.

Ingin menunjukkan pada khalayak bahwa dirinya bukan lagi seorang bocah, Muda Balia merencanakan sesuatu hal yang tragis, sekaligus membuatnya kelak dikenang dengan nama yang harum.

Pemuda tanggung itu berjalan ke arah Keude Njong (telah lenyap) yang gagap gempita. Di tengah jalan, ia memutuskan untuk bersembunyi di balik semak belukar.

Pemuda yang ingin menebus perasaan malunya itu menunggu rombongan serdadu Belanda berjalan dari pangkalan militer mereka di Bandar Njong ke kampung.

Muda Balia keluar dari tempat persembunyiannya begitu rombongan serdadu tersebut berada di depannya. Ia menghujamkan pisau, yang tadi digunakannya untuk menyembelih ayam, ke arah perut seorang serdadu. Usus si serdadu terburai.

Saat ia menarik pisau itu, gagang pisau itu lepas. Usai dipungutnya pisau yang telah jatuh ke tanah, secepat kilat ia hujamkan lagi pisau itu ke arah serdadu lainnya. Namun, upaya itu hanya membikin sang serdadu luka-luka.

Peluru-peluru serdadu muntah dari moncong senjata. Muda Balia roboh dengan tubuh bersimbah darah.

“Itu cerita yang saya dengar dari orang-orangtua dulu tentang Muda Balia,” kata Nurdin Amin, 85 tahun, warga Cut Njong, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya, pada sinarpidie.co, Rabu, 16 Januari 2019.

Nurdin Amin, 85 tahun, warga Cut Njong, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya. (sinarpidie.co/Firdaus).

sinarpidie.co mencoba untuk menggali pelbagai sumber tulisan yang berkaitan dengan Muda Balia, namun tampaknya, tak ada satu pun informasi tertulis yang menerangkan tentang riwayat hidupnya dan tanggal peristiwa tragis yang merengut nyawa pemuda itu terjadi.

Cerita yang dikisahkan Nurdin Amin hanyalah cerita yang menyebar dari mulut ke mulut. Dan cerita itu sepertinya bukanlah satu cerita tunggal tentang Muda Balia.

DI JALAN menuju ke areal tambak ikan di gampong setempat, sebuah bangunan yang terbuat dari kayu seukuran 2 x 1, 5 meter nampak agak mencolok. Itu adalah tempat di mana Muda Balia rubuh ke tanah, yang belakangan dipugar seadanya.

 “Kadang-kadang ada orang berdoa di situ,” kata Nurdin Amin. “Atau yang berobat dan bernazar.”

Lokasi di mana Muda Balia ditembak. (sinarpidie.co/Firdaus).

Jasad Muda Balia dikebumikan di Gampong Sawang, Kecamatan Bandar Baru. Ihwal jasad Muda Balia yang tak dikuburkan di Gampong Cut Njong, Aisyah Alibasyah, 84 tahun, warga Gampong Sawang, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya, punya cerita yang ia dengar dari orangtuanya dulu.

“Masyarakat Njong tidak berani ambil jasadnya karena takut pada serdadu Belanda. Oleh masyarakat Sawang, karena beliau syahid dan tidak ada yang kuburkan, maka dibawa ke sini,” kata Aisyah Alibasyah, Rabu, 16 Januari 2019.

Aisyah Alibasyah, 84 tahun, warga Gampong Sawang, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya. (sinarpidie.co/Firdaus).

Keuchik Gampong Sawang, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya, Syuib Ahmad punya cerita yang berbeda.

Kata dia, Gampong Sawang dulunya merupakan Kota Sawang. “Karena Muda Balia syahid dan merupakan pahlawan, maka beliau dimakamkan di makam pahlawan di Kota Sawang,” kata Syuib Ahmad.

HM Zainuddin, dalam buku Tarich Atjeh dan Nusantara jilid I, menuliskan, Bentara Putu (Luengputu-red) dan Bentara Gampong Asan (Kembang Tanjong-red) dipimpin oleh uleebalang bergelar laksamana. Dan gelar ini disematkan secara turun temurun. Zainuddin juga menuliskan, terdapat Kuala dan Keude Ndjong yang berkedudukan di Kota Sawang.

Namun, mungkinkah seseorang yang memilih jalan syahid dengan membunuh serdadu Belanda diterima sebagai pahlawan oleh laksamana atau uleebalang yang telah menandatangani Korte Verklaring, surat pernyataan menyerah dan tunduk pada Belanda, yang mana salah satu klausulnya berbunyi: musuh Belanda juga musuh uleebalang? 

Tanggal peristiwa tragis saat Muda Balia merenggang nyawa di ujung bedil serdadu Belanda menjadi penting untuk diketahui, agar pertanyaan itu bisa terjawab.[]

Komentar

Loading...