Buku

Miniatur RRC dalam Big Breasts and Wide Hips

·
Miniatur RRC dalam Big Breasts and Wide Hips
Novel-novel Mo Yan.

SHANGGUAN JINTONG lahir dan tumbuh besar di tengah desing peluru, cucuran darah, dan kelaparan massal. Ia lahir pada “tanggal lima bulan komariah kelima, 1939” di sebuah desa di Kota Gaomi Timur Laut, Shandong, bertepatan dengan hari ketika tentara Jepang memorak-porandakan kota itu. Ia lahir bersama saudara kembarnya, Yunu, yang buta sejak lahir.

Jintong dan Yunu adalah anak hasil hubungan gelap ibunya, Shangguan Lu, dengan Pastor Malory, seorang misionaris yang telah tinggal di desa itu bertahun-tahun lamanya. Malory bahkan mampu berbahasa Cina dalam aksen Gaomi Timur Laut.

Di luar, warga desa yang tidak melarikan diri sebelum tentara Jepang benar-benar tiba untuk melakukan serangan ke desa itu mati satu per satu. Tapi di atas kang di dalam rumah itu, Shangguan Lu sedang berbahagia karena kelahiran anak laki-lakinya, Jintong. Perempuan itu seperti akan merayakan kehidupan yang baru dan layak setelah ia memenuhi tradisi dalam keluarga di Cina pada masa-masa itu.

Perasaan bungah semacam itu sebenarnya pernah ia rasakan saat ia melahirkan anak pertamanya, Laidi.  Sebelumnya, Shangguan Lu juga dianggap sama sekali tak berguna, karena ia tidak mampu memberikan seorang anak pun untuk keluarga suaminya, Shouxi, meski pasangan ini telah menikah selama tiga tahun. Ketenangan itu hanya berlangsung sesaat. Setelah melahirkan anak pertama, ia juga melahirkan tujuh anak perempuan berturut-turut. Sementara, yang diharapkan keluarga suaminya adalah kelahiran anak lelaki-laki.

Hinaan dan kekerasaan fisik kerap Shangguan Lu terima dari mertua dan suaminya karena ia dianggap mandul. Padahal sebaliknya, suaminya, Shouxi, yang mandul. Ketujuh anak perempuan yang dilahirkan Shangguan Lu merupakan hasil hubungan gelapnya dengan lelaki yang berbeda-beda.

Detik-detik saat Shangguan Lu melahirkan Jintong dan Yunu, tentara Jepang telah berada di pekarangan rumah mereka. Shouxi dipenggal dengan pedang katana, dan mayat ayahnya, Fulu, belakangan ditemukan dengan kepala yang hancur di halaman rumah mereka. Sesaat setelah Jintong dan Yunu lahir, Bibi Sun, yang membantu persalinan itu, juga ditembak tentara Jepang.

Berbanding terbalik dengan kengerian di rumah mereka pada hari mereka lahir, satu bulan kemudian, foto Jintong dan Yunu mengisi surat-surat kabar di Jepang sebagai penanda persahabatan Cina dan Jepang. Foto itu diambil setelah beberapa jam Jintong dan Yunu lahir, dokter militer Jepang masuk ke dalam kamar rumah itu dan menemukan tali pusar kedua bayi itu belum dipotong. “Sementara dokter itu melakukan prosedur penyelamatan nyawa terhadap ibu dan anak-anaknya, seorang wartawan mengembil foto dari berbagai sudut,” tulis Mo Yan dalam novelnya Big Breasts and Wide Hips (Serambi Ilmu Semesta: 2011).

Deskripsi dan adegan penyerangan yang disertai kekejaman-kekejaman tentara Jepang dalam novel Mo Yan yang satu ini lebih singkat dibandingkan dalam novelnya yang lain: Sorgum Merah (Serambi Ilmu Semesta: 2014).

Dalam Big Breasts and Wide Hips, Mo Yan merentang latar waktu yang agak panjang: tahun 1900 saat Pemerintahan Qing dari Dinasti Manchu masih berkuasa hingga 1991.

Masa-masa sulit di awal-awal 1940-an di 18 desa di Kota Gaomi Laut Timur, salah satunya, dapat diwakili oleh hari-hari Jintong kecil yang sama sekali tak memiliki waktu untuk bermain dan tidak memiliki teman bermain sama sekali.

Jintong baru berinteraksi dengan teman-temannya saat ia duduk di bangku sekolah pada umur 13 tahun pada 1952, setelah Partai Komunis Cina atau PKC berhasil memaksa Chiang Kai-shek, pemimpin Partai Guomindang, melarikan diri ke Taiwan, lalu PKC membentuk Republik Rakyat Cina pada 1949.

Dari tempat duduknya di dalam kelas, Jintong mendapati sekolahnya memberlakukan aturan yang ketat dengan tidak memberikan kesempatan belajar yang sama pada anak “penentang revolusi, Sima Liang, serta anak perempuan pengkhianat, Sha Zaohua”.

“Keduanya telah ditolak permohonannya untuk masuk kelas dan ditugaskan mengurus sapi,” tulis Mo Yan dalam novelnya Big Breasts and Wide Hips.

Dalam momarnya, Di Bawah Bendera Merah (Serambi Ilmu Semesta: 2013), Mo Yan menggambarkan fenomena serupa pada lapisan lainnya. Mo Yan mengenang, saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar, anak-anak kader Partai Komunis Cina atau PKC berkulit bersih berkat makanan yang bergizi dan mengenakan pakaian berwarna cerah, “dan begitu melihatnya, kita langsung tahu bahwa mereka berada di kelas yang berbeda dari anak-anak miskin seperti kami”.

“Kami mengagumi mereka, tapi mereka tidak mau bermain bersama kami,” tulis Mo Yan dalam momoarnya itu.

Dalam Big Breasts and Wide Hips, Mo Yan juga membuat anak lelaki yang menjadi simbol kebanggaan keluarga Cina (Dinasti Manchu)—Jintong— samasekali tak berguna sejak ia hidup pada masa perang melawan Jepang, kelanjutan perang saudara, kampanye ‘Lompatan Jauh ke Depan’, revolusi kebudayaan, hingga babak Cina dengan ekonomi terbuka.

Cerita dalam novel ini justru digerakkan oleh perempuan-perempuan dalam keluarga Shangguan. Perempuan-perempuan ini menikah dengan pria dalam Partai Komunis Cina (PKC), pejuang dalam perang melawan Jepang tapi tuan tanah yang nasionalis (kelompok Chiang Kai-shek), dengan pilot Amerika yang membantu pasukan Chiang Kai-shek, dan pemimpinan pasukan gerilya yang membelot pada Jepang.

Kecuali Pandi, mereka menikah dengan pria pilihan mereka tanpa dilatari faktor ekonomi, apalagi kecenderungan sikap politik. Semua serba dadakan dan tak ada seorang pun, bahkan ibu mereka sendiri, mampu menahan keinginan mereka untuk menikahi pria-pria yang mereka cintai itu.

Pandi, anak Shanggun Lu yang kelima dari hubunganya dengan seorang jagal anjing, menikah dengan Lu Liren, pejabat politik PKC di penghujung pendudukan Jepang di Kota Goami Laut Timur.

Di tangan pasangan ini, karena tak bisa tidak menjalankan perintah partai, satu per satu anggota keluarga Shangguan yang berbeda haluan politik dengan PKC dibunuh baik secara langsung maupun tidak: Sha Yueliang, pembelot yang memimpin brigade pasukan Kekaisaran Jepang, suami anak pertama Shangguan Lu, Laidi; Sima Ku, patriot yang nasionalis, dan anak kembarnya Sima Feng dan Sima Huang beserta ibu mereka Zhaodi; Babbit, pilot Amerika dan istrinya, Niandi.

Karena mendapat stigma negatif dari partai dan masyarakat lantaran keluarga Shangguan juga terikat dengan Sima Ku, Babbit, dan Sha Yueliang, pasangan suami istri Pandi dan Lu Liren lantas mengganti nama mereka: Li Du dan Ma Rulian.

Li Du kelak menjabat sebagai Direktur Pertanian, tempat di mana Jintong bekerja dalam kelompok-kelompok pertanian yang dimobilisasi negara untuk menyulap sepuluh ribu hektare gurun di kota Gaomi Laut Timur menjadi lahan pertanian yang subur.

Pasangan suami istri tersebut ditugaskan partai ke “Pertanian Sungai Naga Banjir” berarti “bahwa mereka tidak dihormati”. Di tempat inilah, secara tidak langsung, Li Du dan Ma Rulian membunuh Qiudi, adik Ma Rulian, yang saat ia kecil dijual ibunya pada seorang perempuan Rusia dan kelak bersalin nama menjadi Qiao Qisha.

Perempuan Rusia yang membelinya belakangan mati karena racun alkohol, lalu Qiao Qisha menggelandang di jalan. Ia kemudian dipungut manajer stasiun kereta api. Setelah perang kemerdekaan pada 1949, Qiao Qisha diterima di fakultas kedokteran.

Baca juga:

Hari-hari itu mungkin musim dingin 1957 atau musim semi 1958 saat, sebagaimana dituliskan Frank Dikotter dalam bukunya Kelaparan Hebat di Masa Mao (Alex Media Komputindo: 2012), Ketua Partai Komunis Cina atau PKC, Mao Zedong, meluncurkan kampanye “Lompatan Jauh ke Depan”, di mana ratusan juta penduduk desa di Cina dimobilisasi mengerjakan proyek-proyek di daerah terpencil.

Saat-saat itu, Jintong hanya sempat mengenyam pendidikan di bangku sekolah menengah pada umur 18 tahun. Dalam keluarga Shangguan Lu, hanya Qiao Qisha yang mendapat kesempatan duduk di bangku pendidikan tinggi. Tapi anak Shangguan Lu  yang ketujuh ini dikirim ke lokasi pertanian tersebut karena ia dianggap ultra-sayap kanan hanya karena dirinya berkata “ada orang-orang miskin yang buruk, dan ada juga orang-orang kaya yang baik”.

Bertahun-tahun berpisah, Ma Rulian sama sekali tak mengenal adiknya sendiri. Qiao Qiasha menolak perintah Ma Rulian untuk menyuntik sperma dompa ke kelinci, karena hal itu di luar akal sehat. Karena penolakan itu, ia dipindah ke peternakan ayam, lalu ke unit sayuran sebagai pembawa pupuk, hingga menderita kelaparan dan mati dengan perut kembung.

Pada musim semi 1960, mayat-mayat korban kelaparan berhamburan di daerah pedesaan. Frank Dikotter, dalam bukunya Kelaparan Hebat di Masa Mao, menuliskan sedikitnya 670.000 warga Shandong menderita kelaparan pada akhir April 1958.

Keluarga Shangguan adalah miniatur Republik Rakyat Cina (RRC) pada awal-awal pembentukaannya. Rentetan tragedi dalam keluarga ini ikut menyertai pembentukan negara tersebut, atau justru sebaliknya.

Big Breasts and Wide Hips terbit pada 1995 dengan judul Feng ru fei tun lalu diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan terbit pada 2005. Mo Yan lahir pada 1955 dengan nama Guan Moye, sedangkan Mo Yan merupakan nama penanya yang berarti “jangan bicara”. Pada 2012, ia diganjar hadiah nobel sastra. []

Loading...