Kuliner

Menyambangi Pabrik Mie Basah Sederhana, tempat Mie Caluk Diproduksi

·
Menyambangi Pabrik Mie Basah Sederhana, tempat Mie Caluk Diproduksi
Pabrik Mie Caluk Hamdani. (sinarpidie.co/Dicky Zulkarnen).

sinarpidie.co—Hamdani Usman, 45 tahun, warga Gampong Mesjid Beurueleung, Kecamatan Grong-Grong, Pidie, sudah melakoni pekerjaan sebagai produsen mie caluk selama 25 tahun.

“Awalnya, usaha tersebut dirintis oleh ibu saya. Saat itu ibu saya hanya menjual di sekolah-sekolah saja, dalam skala kecil,” kata dia pada sinarpidie.co, pertengahan Maret lalu.

Perlahan-lahan, Hamdani mulai mengembangkan usaha tersebut. Kini, sekurang-kurangnya, ia menghabiskan dua sak tepung terigu yang bisa menghasilkan100 kg mie. Ia juga memiliki sebuah pabrik mie sederhana pada sebuah ruangan di samping rumahnya.

“Satu kilogram mie menjadi sekitar 25-30 bungkus,” ujarnya.

Dalam menjalankan usahanya tersebut, ia dibantu 12 pekerja.

“Digaji Rp 40 ribu per hari. Kerjanya cuma setengah hari dari pukul 09.00 sampai pukul 13.00 WIB,” tuturnya.

Hamdani mulai bekerja untuk menggiling tepung dan membuat mie selepas subuh. Ia dibantu istrinya di ruangan di samping rumahnya yang telah ditata serupa pabrik mie itu.

Beberapa waktu kemudian, di ruang dengan luas kira-kira 6 x 8 meter itu, sebagian para pekerja mulai merebus mie, daun ubi, daun seledri, daun bawang prei, dan kacang merah. Sebagian lainnya memotong dan menggoreng tempe beserta tahu.

Adapun bahan yang digunakan untuk pembuatan mie caluk adalah tepung terigu, kelapa, tempe, daun ubi, kacang merah, jengkol, bawang putih, bawang merah, daun salam, buah kol, daun seledri, dan daun bawang prei, jeramaneh, kemiri dan sedikit penyedap makan.

Sekira pukul 12.00 WIB, mie caluk dibungkus. Setelah zuhur, mereka dibawa ke pasar Grong-Grong dengan menggunakan mobil bak terbuka untuk dijual.

Per bungkus, mie caluk tersebut dijual dengan harga Rp 1.000.

“Ada juga sedikit rezeki. Saya tidak ingat dan tidak pernah menghitung, berapa laba dari jualan mie sehari-hari,” kata dia.

Dalam menjalankan usahanya itu, ia didukung oleh penyediaan bahan baku dari kebunnya sendiri.

Kelapa, daun pisang, daun ubi, kayu bakar, misalnya.

“Sempat juga terkendala saat bahan baku kurang, seperti kelapa, kacang merah, jengkol dan daun pisang, saat itu susah juga saya berpikir. Apalagi, sesekali mahal harga kelapa, kacang merah dan jengkol. Kadang jengkol tidak kita pakai dalam mie caluk, karena tidak ada barang di pasar. Kalau kacang merah saya pesan langsung dari Aceh Tengah. Saya ambil sekitar satu ton sekali ambil,” kata dia, menjelaskan.

Mie caluk tersebut, selain dijual di pasar Grong-Grong, ada juga beberapa yang mengambil di rumah Hamdani, untuk berdagang keliling. Rute para pedagang mie caluk tersebut: Keumala, Sigli, Lameulo, Laweung, dan Pante Raja.

Muliadi, 29 tahun, warga Gampong Mee Meu Aneuk, mengatakan, ia sudah empat tahun berdagang keliling, menjual mie caleuk pria yang akrab disapa Bang Ham, itu.

Sehari-hari, ia mengambil sekitar 200 bungkus mie caluk tersebut seharga Rp 1.000 per bungkus. Kemudian ia menjualnya ke wilayah Kecamatan Muara Tiga dengan harga 1500 hingga RP 2000 per bungkus.

“Pendapatan bersih saya hasil jual mie Bang Ham sekitar Rp 70.000 per hari,” katanya pada sinarpidie.co.

 Reporter: Dicky Zulkarnen

Loading...