13 tahun tsunami Aceh

Menyambangi Gedung Mitigasi dan Evakuasi Bencana

·
Menyambangi Gedung Mitigasi dan Evakuasi Bencana
Escape building di Gampong Sukon, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).

sinarpidie.co--Bertahun-tahun silam, pada Minggu 26 Desember 2004, Khairunnisa masih duduk di kelas 4 SD. Ia tengah menonton film kartun di televisi sambil menyantap sarapan pagi di dalam rumah bersama adiknya. Tiba-tiba gempa mengguncang. Ia bersama seluruh anggota keluarganya keluar rumah. Sejurus kemudian, tatkala gempa reda, mereka masuk ke dalam rumah. Sekitar 15 menit, terdengar seperti suara ledakan dari arah laut. Air laut setinggi dua pokok kelapa naik ke darat.

Oleh ibunya, ia digendong menuju ke arah Bambi.

“Mengungsi di SMP Negeri 1 Simpang Tiga, lalu pindah ke barak pengungsian lapangan sepakbola simpang tiga selama kurang lebih satu tahun,” kenangnya, yang ditemui sinarpidie.co, Jumat, 22 Desember 2017, di rumahnya di Gampong Sukon, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie.

Duduk di teras rumah bantuan untuk korban tsunami, Khairunisa tidak sendiri. Ibunya, nenek, dan adik ibunya juga sedang mengerjakan pekerjaan rumah: membersihkan ikan dan menyiapkan bumbu-bumbu memasak.

Rumah itu terletak tepat di depan escape building, yang kondisi gedungnya kini sangat memprihatinkan. Selain tak terurus, aliran listrik di gedung tersebut juga telah diputus.

Escape Building di Gampong Sukon, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).

“Kami kecewa, saat gempa di malam atau subuh hari, meraba-raba karena gelap,” kata Khairunnisa, yang kini telah berumur 23 tahun.

Apa yang diutarakan Khairunnisa dibenarkan oleh adik ibunya. “Tapi jangan tulis nama saya, ya. Cukup dia saja (Khairunnisa-red),” kata dia. “Kami ingin gedung ini bisa menjadi pengingat bagi anak-cucu kami nanti, bahwa pernah terjadi tsunami yang mengerikan di gampong ini. Makanya, saat pemutusan aliran listrik, kami sangat kecewa. Mau mengadu ke mana, kami tidak tahu jalurnya di mana.”

Kondisi escape building di Gampong Sukon Kecamatan Simpang Tiga, Pidie. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).

Hingga saat ini, meskipun dalam kondisi yang terlantar, gedung evakuasi tersebut masih digunakan. “Lansia akan dinaikkan ke situ. Masyarakat yang lain lari ke gampong sebelah karena mereka ragu pada ketinggian gedung itu. Sebab, dulu tinggi air melebihi tinggi gedung itu,” kata Khairunnisa, yang juga lulusan Universitas Jabal Ghafur.

Berdasarkan penuturan masyarakat setempat, gedung itu dibangun pada 2008 dan diresmikan pada 2010. Setelahnya, gedung itu tidak hanya menjadi tempat evakuasi sebagian penduduk setempat tetapi juga menjadi tempat digelarnya sejumlah acara seperti maulid dan musabaqah tillawatil Quran. 

Pada sebuah dinding di dalam gedung yang memiliki tiga lantai itu terdapat sebuah prasasti berlogokan BRR Aceh Nias.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie Apriadi SSos kepada sinarpidie.co mengatakan, pihaknya tidak memiliki kewenangan terkait pengelolaan gedung tersebut.

“Itu berada di bawah Dispora (Dinas Pariwisata, Kebudayaan, dan Kepemudan  dan Olahraga.-red) Pidie,” kata dia via telepon selular, Sabtu 23 Desember 2017. 

Sementara itu, Kepala Dinas Dinas Pariwisata, Kebudayaan, dan Kepemudan  dan Olahraga Pidie  Arifin Rachmad menuturkan, kewenangan pengelolaan gedung evakuasi tersebut berada di bawah bagian umum Setdakab Pidie.

Museum tsunami

Tak jauh berbeda dengan kondisi escape building di Kecamatan Simpang Tiga, kondisi museum tsunami di Kota Sigli juga tampak terbengkalai. Pendingin ruangan kebanyakan telah dicuri. Foto-foto sudah pudar tak terurus dan peta satelit telah sobek sana-sini.

Museum tsunami di Kota Sigli, Pidie. (sinarpide.co/Mutamimul Ula)

“Sebelumnya dipinjam pakai oleh salah satu organisasi kepemudaan,” kata Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, dan Kepemudan  dan Olahraga Pidie Arifin Rachmad via telepon selular, Sabtu, 23 Desember 2017. []

Baca juga: 

Pidie tak Miliki Program dan Fasilitas Mitigasi Bencana

Komentar

Loading...