Menguak Tabir Peredaran Sabu di Rutan Kelas II B Sigli

·
Menguak Tabir Peredaran Sabu di Rutan Kelas II B Sigli
Kepala BNNK Pidie, AKBP Drs Sulaiman Yusuf. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Nurdin, tenaga honorer di Kejaksaan Negeri Pidie, tertangkap tangan menguasi dua paket sabu seberat 52,24 gram oleh petugas BNNK Pidie. Sabu tersebut berasal dari Jamhur (DPO), yang rencananya akan diserahkan pada Adani, narapidana kasus narkotika yang saat ini menjalani hukuman di Rutan Kelas II B Sigli, untuk diedarkan di dalam rutan tersebut.

sinarpidie.co — Pada Kamis, 14 Januari 2021, Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Pidie mendapatkan informasi tentang akan adanya transkasi ganja di Kecamatan Indrajaya. Petugas BNNK Pidie lantas menindaklanjuti informasi tersebut. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saat melakukan penyelidikan, petugas BNNK Pidie membekuk Nurdin (ND), 41 tahun, warga Gampong Tamping Tunong, Kecamatan Indrajaya, pada Minggu, 17 Januari 2021, pukul 07.30 WIB di Jalan Caleue-Garot Gampong Tamping Tunong, setelah menemukan dua paket sabu seberat 52,24 gram pada pria yang berstatus sebagai tenaga honorer di Kejaksaan Negeri (Kejari) Pidie itu.

“Setelah ND beserta barang bukti dibawa ke Kantor BNNK Pidie, dan setelah mengintograsi ND, terungkap bahwa sabu tersebut merupakan milik AD, yang saat ini sedang menjalani hukuman di Rutan Kelas II B Sigli,” kata Kepala BNNK Pidie, AKBP Drs Sulaiman Yusuf, Rabu, 20 Januari 2021.

Setelah berkoornidasi dengan BNNP Aceh dan Kepala Rutan Kelas II B Sigli, petugas BNNK Pidie memboyong Adani (AD), 43 tahun, warga Gampong Pante Garot, Kecamatan Indrajaya, Pidie, narapidana kasus narkotika, ke Kantor BNNK Pidie di Gampong Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, Pidie. “AD membenarkan bahwa sabu tersebut miliknya yang diperoleh dari J, warga Mila. J saat ini masih DPO,” katanya lagi. “AD merupakan residivis kasus narkotika.”

Di Rutan Kelas II B Sigli, J, yang masih DPO, dan Adani berada di dalam satu sel. “Mereka berkawan. Tapi J sudah bebas,” sebutnya lagi. “Akan ada pengembangan lagi. J ini tidak bekerja sendiri tapi terlibat dalam satu jaringan peredaran narkotika."

Nurdin, tenaga honorer pada Kejari Pidie, dan Adani saling kenal sejak 2020 lalu. Sebelumnya, Nurdin berhasil meloloskan sabu ke dalam Rutan Kelas II B Sigli. “Lolos sekali,” sebut AKBP Drs Sulaiman Yusuf.

Setelah berhasil meloloskan sabu ke Rutan Kelas II B Sigli, Nurdin menerima pembayaran tatkala sabu yang sebelumnya berhasil dia pasok telah terjual di dalam rutan. “Pengakuan ND (Nurdin-red) ongkos sekali antar Rp 1 juta,” sebut AKBP Drs Sulaiman Yusuf lagi.

Saat meloloskan sabu ke dalam rutan, Nurdin memasukkan barang haram tersebut ke dalam bungkusan rokok. Nurdin mengambil sabu di satu tempat yang telah diinformasikan oleh Adani. Lalu, bungkusan rokok berisi sabu, Nurdin serahkan pada Adani saat sidang secara virtual berlangsung di Rutan Kelas II B Sigli.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Pidie, Gembong Priyanto, mengatakan Nurdin sebelumnya bertugas sebagai Satpam di Kejaksaan Negeri Pidie lalu bertugas sebagai petugas kebersihan. “Sampai terakhir sebelum ditangkap, dia sebenarnya masih di kebersihan. Hanya saja diperbantukan untuk membantu mengawal persidangan di rutan,” kata Gembong, Rabu, 20 Januari 2021.

Melacak Adani dan Jamhur

Penelusuran sinarpidie.co berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala BNNK Pidie, AKBP Drs Sulaiman Yusuf, J yang berstatus sebagai DPO, warga Mila, dan pernah satu sel dengan Adani, adalah Jamhur.

Baik Jamhur maupun Adani dibekuk polisi setelah keduanya mengonsumsi sabu di belakang sebuah warung kopi di Gampong Pante Garot, Kecamatan Indrajaya, Pidie, pada Minggu, 12 Juli 2020 sekira pukul 02.00 WIB.

Adapun barang bukti yang disita dari keduanya saat itu adalah dua paket narkotika jenis sabu yang terbungkus dengan plastik bening dengan berat 0,38 gram, satu buah bong yang terbuat dari botol minuman kemasan yang telah dipasangi sedotan hisap, dan satu kaca pirex yang masih melekat sisa narkotika jenis sabu.

Adani divonis pidana penjara selama satu tahun dan enam bulan oleh majelis hakim PN Sigli pada Rabu, 25 November 2020, dan Jamhur divonis pidana penjara selama satu tahun dan enam bulan pada Rabu, 18 November 2020.

Sebelumnya, Adani juga pernah mendekam di balik jeruji besi karena terjerat kasus narkotika pada 2014 silam. Pada Senin, 27 Oktober 2014, ia divonis 7 tahun penjara karena bertindak sebagai pengedar narkotika jenis sabu.

Upaya peredaran narkotika di balik jeruji besi

Kepala Rutan Kelas II B Sigli, Halim Faisal, mengatakan upaya pihak-pihak tertentu untuk mengedarkan narkotika jenis sabu di rutan tersebut telah dilakukan berkali-kali. “Sebelumnya, jauh hari sebelum BNN melakukan penindakan, upaya meloloskan sabu ke dalam rutan sudah dilakukan berkali-kali. Pernah, sabu yang dimasukkan ke dalam bola tenis, dilemparkan ke dalam rutan. Saat itu, kami belum pasang CCTV. Sekarang sudah ada CCTV sehingga tidak ada lagi pelemparan serupa,” kata Halim Faisal, Rabu, 20 Januari 2021.

Pelemparan narkotika jenis sabu dalam bola tenis yang ditemukan petugas Rutan Kelas II B Sigli, kata Faisal, tercatat sebanyak dua kali. “Mungkin yang lolos sudah tiga kali. Jadi yang saya simpulkan adalah upaya mereka [pengedar sabu-red] untuk meloloskan barang haram tersebut sangat luar biasa,” katanya.

Dalam beberapa waktu belakangan di tengah pandemi Covid-19, katanya, Rutan Kelas II B Sigli menghapus jam besuk, kecuali sebatas penitipan barang. Di samping itu, siapa pun yang masuk ke dalam rutan—baik petugas rutan, polisi, maupun petugas dari kejaksaan—diperiksa secara teliti. “Prosedur pemeriksaan barang dan badan selalu dilakukan petugas rutan. Itu perintah saya yang tertuang secara tertulis,” kata Halim Faisal, Rabu, 20 Januari 2021.

Halim Faisal tak menampik bahwa pihaknya telah kecolongan karena sabu yang dibawa Nurdin bisa lolos ke dalam rutan.  “Selama ini dia (Nurdin-red) mengawal tahanan saat persidangan. Hari ini kami merasa kecolongan karena petugas di rutan percaya pada Nurdin, sebab dia bertugas mengantar dan menjemput tahanan,” sebutnya. []

Loading...