Mengenang Ismail Syahputra, Mengingat Kasus Penculikan dan Penembakan yang Belum Terjamah

·
Mengenang Ismail Syahputra, Mengingat Kasus Penculikan dan Penembakan yang Belum Terjamah
Sumber: Youtube

Kemeja garis-garis yang tampak kebesaran membalut tubuhnya yang jangkung. Ia memakai kacamata berbingkai bulat dengan gagang besi. Ia juga menggunakan sebuah topi pet, di mana sebuah rambut palsu terekatkan di dalamnya. Setidak-tidaknya, begitulah penampilannya yang terlihat di dalam sebuah film dokumenter The Indonesian Region That's in an Endless Spiral of Violence (2000). Pada menit-menit pertama saat ia pertama sekali terekam dalam film tersebut, ia diboncengi seseorang di atas sebuah sepeda motor. Tak lama kemudian, ia memberi sebuah kode agar mobil yang ditumpangi seorang jurnalis asing untuk mengikutinya dari belakang. Pria itu Ismail Syahputra, mantan Juru Bicara (Jubir) Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Wilayah Pasee, yang juga pernah menjadi Jubir GAM. Tempat itu berlokasi di sebuah hutan di Aceh Utara, salah satu tempat pelatihan militer GAM saat itu.

… I ready to fight until I dead… to get our own land (saya siap berperang sampai saya mati… untuk memperoleh kembali tanah air kami),” kata dia, sebagaimana terekam dalam film tersebut.

Pada sebuah adegan latihan militer yang diperagakan oleh pasukan GAM di depan kamera, sang jurnalis bertanya pada Ismail Syahputra: dari mana senjata laras panjang M-16 diperoleh pihaknya?

Ismail, sambil meraih senjata tersebut, menjawab, “Senjata ini kami ambil dari tentara Indonesia. Sebelum mereka membunuh kami, kami mesti membunuh mereka terlebih dahulu. Ketika tentara tersebut tewas, kami mengambil senjatanya.”

“Dan mereka melakukan hal yang sama pada Anda?”

“Ya, tentu saja,” jawab Ismail Syahputra dalam bahasa Inggris sambil mengangkat bahunya lalu tersenyum.

Pada saat proses wawancara dalam pengambilan gambar untuk film dokumenter tersebut, tampaknya Republik Demokratik Timor Leste baru saja merdeka dari pendudukan Indonesia (Agustus 1999).

Kondisi politik nasional baru saja dilanda huru-hara kerusuhan Mei 1998. Di tahun yang sama pula, atas desakan mahasiswa dan aktivis-aktivis prodemokrasi, Soeharto lengser dari kekuasaannya. Dalam waktu-waktu tersebut dan tahun-tahun berikutnya, di Aceh sendiri, eskalasi pelanggaran HAM terus meningkat. Salah satu kasus pelanggaran HAM berat adalah tragedi Simpang KKA, yang mana adegan penembakan masyarakat sipil oleh tentara juga menjadi salah satu bagian dalam film tersebut. Brutal. Dan pembantaian-pembantaian lainnya, --selain Simpang KKA--seperti Tragedi Beutong Ateuh yang menewaskan Teungku Bantaqiyah dan santri-santrinya, Tragedi Gedung KNPI, Tragedi Idi Cut, dll, justru terjadi setelah pemberlakuan Daerah Operasi Militer (DOM) dicabut pasca-runtuhnya Orde Baru.

“Masyarakat Timor Leste bisa merdeka setelah lebih dari 20 tahun perjuangan. Tapi perjuangan kami juga lebih dari 20 tahun. Mungkin, tahun depan, atau lain waktu, kami bisa merdeka,” kata Ismail Syahputra.

Ismail Syahputra adalah salah seorang anggota GAM angkatan pertama yang mendapat pelatihan militer di Lybia, tepatnya pada 1986.

Ia bergerilya dari satu hutan ke hutan lainnya. Ia menenteng senjata. Tapi tampaknya ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk untuk menyiapkan siaran pers dan melakukan wawancara-wawancara dengan media.

“Yang paling penting sekali adalah kemanusiaan. Yaitu hentikan aksi-aksi kekerasan di Aceh. Ini sangat penting bagi hak asasi manusia. Setelah itu mungkin adalah gencatan senjata. Untuk mengurangi kematian-kematian di Aceh…,” kata Ismail Syahputra dalam sebuah wawancara dengan Radio Nederland Wereldomroep.

Kala itu Joint Understanding for a Humanitarian Pause for Aceh (Kesepahaman Bersama tentang Jeda Kemanusiaan untuk Aceh) yang ditengahi oleh sebuah lembaga internasional— Hendry Dunant Centre (HDC)— pada Mei 2000 baru saja ditandatangani di Jenewa, Swiss.

Sebulan setelahnya, tepatnya, pada awal Juni 2000, pria yang akrab disapa Abu Is itu hilang diculik.

Tempat penculikannya diperkirakan di Medan, Sumatera Utara. Perang kembali berkecamuk di Aceh, sebab JoU tersebut tak menghentikan eskalasi pelanggaran HAM di Aceh. Dalam kurun waktu yang tak terlalu lama, aktivis IFA, Jafar Siddiq Hamzah juga diculik di Medan dan mayatnya ditemukan pada 3 September 2000. Kemudian, Dr H Safwan Idris MA, mantan Rektor UIN Ar-Raniry, ditembak pada 16 September 2000.

Pada 9 Desember 2002, dialog serupa dilakukan—penandatanganan Cessation of Hostilities Agreement (CoHA)—di Jenewa. Lagi-lagi, hal itu tak berlangsung lama. Pada 18 Mei 2003, Pemerintah Republik Indonesia mengumumkan Daerah Operasi Militer di Aceh. Dan, pada 2005, MoU Helsinki ditandangani, yang diikuti sebuah kondisi di mana senjata memang berhenti menyalak, sampai sekarang. []

Loading...