Mengenal Arabika Tangse

·
Mengenal Arabika Tangse
BUMG Bukit Indah Blang Dhot, salah satunya, bergerak pada jasa roasting biji kopi, produksi dan pemasaran kopi yang bermerk “Kupi Tangse Halimon”. BUMG tersebut baru berdiri pada 2017 lalu. (sinarpidie.co/Firdaus).

Menurutnya, Arabika Tangse, jika ditangani dengan baik pada saat pasca-panen dan roasting, kualitasnya tidak jauh berbeda dengan Arabika Gayo.

sinarpidie.co—Edy Azhari sedang duduk menyortir biji kopi kering di sebuah ruko tempat Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) Gampong Blang Dhot, Kecamatan Tangse, Pidie, berkantor dan beroperasi.

Selasa, 17 April 2018, lulusan Fakutas Teknik, Jurusan Teknik Industri Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, itu, tak sendiri di tempat tersebut. Ada sekitar empat pria lainnya yang juga melakukan hal yang sama.

BUMG Bukit Indah Blang Dhot, salah satunya, bergerak pada jasa roasting biji kopi, produksi dan pemasaran kopi yang bermerk “Kupi Tangse Halimon”. BUMG tersebut baru berdiri pada 2017 lalu.

“Yang di atas arabika (merah). Kemudian di bawahnya, robusta (hitam), dan liberika (kuning keemasan). Per pack, ada yang 250 gram dan 100 gram,” kata Edy Azhari, menunjukkan letak kopi-kopi yang telah dikemas tersebut.

Di Tangse, kata dia pada sinarpidie.co, ada tiga jenis kopi yang dibudidayakan masyarakat setempat, yakni robusta, arabika, liberika. Hanya saja, selama ini, pasca-panen, masyarakat setempat mencampur biji kopi liberika, arabika, dan robusta sekaligus.

“Petani kopi kita tidak peduli apa jenis kopinya, yang penting bawa ke pasar, jual. Mayoritas petani kita kan di robusta, jadi arabika belum ada pasar. Selama ada BUMG ini, kita juga bekali pengetahuan pada para petani kopi,” ungkapnya.

Untuk jenis arabika, tanaman kopi varietas tersebut tumbuh di dua gampong di Tangse, yakni Blang Pandak dan Ranto Panyang, sebab kedua gampong tersebut berada di atas 1000 Mdpl. Sementara liberika dan robusta ada di seluruh gampong di Kecamatan Tangse.

Menurutnya, Arabika Tangse, jika ditangani dengan baik pada saat pasca-panen dan roasting, kualitasnya tidak jauh berbeda dengan Arabika Gayo.

“Bedanya, Arabika Gayo lebih harum. Namun, kelat dan lemak lebih tinggi Arabika Tangse. Jadi masing-masing punya ciri khas,” kata dia.

Tak heran jika BUMG tersebut membeli biji kopi petani di Tangse di atas harga pasar. Hal itu, kata Eddy lagi, untuk mendorong para petani memberlakukan biji-biji kopi pasca-panen lebih bagus.

“Yang mempengaruhi rasa kopi, ada di pasca-panen, roasting, dan penyajian,” ungkap pria yang juga menjabat Sekretaris Gampong, di Gampong Blang Dhod, itu.

Biji kopi robusta dan liberika sebelumnya dibeli dengan harga Rp 25 ribu per kilogram via tengkulak. Sementara BUMG Bukit Indah membeli biji kopi tersebut dari petani seharga Rp 30 ribu per kilogram. Untuk arabika, tengkulak membeli Rp 30 ribu per kilogram, sedangkan BUMG Bukit Indah membeli dengan harga Rp 32 ribu per kilogram.

Pihaknya menjaga kualitas Kupi Tangse Halimon dengan turut mengubah budaya kerja para petani dan perlakukan biji kopi pasca-panen. “Sebelumnya, petani kita petiknya saat buah masih hijau. Dan pasca-panen, tidak langsung dijemur tapi disimpan dulu. Dijemur pun di atas terpal di atas tanah. Sekarang tak lagi demikian, dipetik saat merah dan dijemur di atas meja khusus,” kata Eddy, menjelaskan.

Ia juga mengungkapkan, saat ini tantangan yang dihadapi pihaknya adalah menjaga ketersediaan kopi Arabika Tangse.

Di lain pihak, Keuchik Gampong Ranto Panyang Farhan Hamid, 42 tahun mengatakan, baru dalam dua tahun terakhir, petani kopi arabika di gampong tersebut mulai produktif.

“Dulu, mengapa Arabika Tangse tidak menarik, karena kopi itu dibeli dengan harga yang sama dengan robusta,” kata dia. “Sekarang tak lagi demikian.”

Untuk tahun ini, pihak Gampong Ranto Panyang telah menyusun program kerja untuk melahirkan sebuah BUMG di mana salah satu unit usahanya: menampung biji kopi arabika petani gampong setempat.

“Rencananya, kita juga akan mendorong masyarakat untuk menanam bibit kopi arabika. Selanjutnya, BUMG Ranto Panyang akan menampung hasil panen kopi arabika tersebut. Nantinya, akan dibawa ke BUMG Blang Dhot untuk roasting, packaging, dan pemasaran,” ungkap Farhan Hamid. []

Loading...