Sudut pandang

Mengembalikan Kesuburan Tanah dengan Bahan Organik

·
Mengembalikan Kesuburan Tanah dengan Bahan Organik
Sumber gambar earth-lite.com

Oleh Mardiah*

Tanah merupakan salah satu fungsi produksi dalam dunia pertanian secara umum karena mayoritas aktivitas pertanian berada di tanah. Dalam usaha pertanian, tanah mempunyai fungsi utama sebagai penyedia hara bagi tanaman, tempat tumbuh dan berpegangnya akar, serta tempat penyimpanan air bagi tanaman. Tanah berasal dari batuan induk yang melapuk.  

Proses pelapukan membutuhkan waktu yang sangat lama. Tingkat kesuburan tanah tergantung usia pelapukan dan bahan batuan induk itu sendiri serta pengaruh dari faktor-faktor lain. Dalam dunia bercocok tanam, dikenal tanah yang subur dan tanah yang kurang subur (marginal).  

Tanah subur adalah tanah yang memiliki daya dukung yang besar terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Nyaris tanpa faktor pembatas. Sedangkan tanah marginal memiliki faktor pembatas bagi budidaya sehingga faktor tersebut perlu dieliminir atau disubsidi pada tanah agar produksi tanaman optimal.  

Dengan kata lain, pengelolaan kesuburan tanah merupakan tindakan mutlak yang harus dilakukan dalam menjaga produktivitas tanaman.  

Ada satu gebrakan spektakuler yang pernah dilakukan dalam upaya pemenuhan kebutuhan pangan dunia, yang dikenal dengan sebutan "revolusi hijau".  Strategi ini mampu meningkatkan dengan tajam produksi pangan dunia serta mengatasi kekhawatiran akan krisis pangan melalui pola in put intensive (teknologi masukan tinggi) yang ditandai dengan penggunaan agrokimia baik pupuk buatan maupun pestisida, dan penggunaan bibit unggul yang diketahui berdaya hasil tinggi. 

Degradasi fungsi tanah

Namun dalam beberapa waktu terakhir terjadi eksploitasi/pengurasan hara dalam skala tinggi, sehingga terjadi degradasi fungsi tanah/lahan.

Terjadinya degradasi fungsi lahan diikuti oleh permasalahan produktivitas tanaman, yang disebabkan oleh menurunnya daya dukung tanah serta besarnya biaya yang harus dikeluarkan sesungguhnya merupakan masalah klasik.  

Upaya peningkatan produksi tanaman budidaya salah satunya dapat dilakukan melalui kegiatan intensifikasi.  Luas lahan tidak bertambah namun produksi melonjak.  Upaya ini ditempuh dengan mengoptimalkan faktor produksi seperti penambahan agro in put ke lahan pertanian melalui pemupukan, pengairan yang baik dan pengendalian hama dan penyakit tanaman .   

Analisa usaha tani yang menghitung biaya yang dikeluarkan menunjukkan trend yang makin bertambah dari tahun ke tahun, yang terkadang tidak seimbang dengan produksi/hasil akibat keliru dalam menjawab fenomena yang terjadi pada proses produksi.   

Pada kasus tertentu, kita pernah menjumpai tanaman yang sudah diberi pupuk dengan berbagai jenis pupuk anorganik dalam jumlah di atas kebutuhan tanaman, tapi pertumbuhan tanaman tidak optimal. Salah satu penyebabnya adalah dampak penggunaan pupuk anorganik dalam jangka waktu tertentu yang menyebabkan ketimpangan status hara serta kekahatan unsur hara yang lain.

Petani menambah hara ke dalam tanah hanya bersifat anorganik. Mereka mulai meninggalkan pupuk organik karena kurang efektif dan efisien, sebab kandungan hara yang kecil dan lambat tersedia bagi tanaman.  Lambat laun, akibat tergerus waktu, maka penggunaan pupuk organik mulai ditinggalkan petani sehingga muncul persoalan baru. Salah satunya persoalan di mana tanah menjadi kompak/padat, keras, dan bergumpal.  Reaksi kimia yang terjadi saat pupuk anorganik yang diserap tanaman telah pula meninggalkan residu yang bersifat racun bagi tanaman—akibat residu tersebut mengikat hara sehingga tidak tersedia bagi tanaman.  Jangan heran, saat pupuk ditambah, pertumbuhan tanaman tetap stagnan.

Lantas apa yang harus dilakukan? Tambahkan pupuk organik pada tanah tersebut.  Jangan hanya mengandalkan pupuk anorganik.  Dari segi suplai hara, pupuk organik kalah dibandingkan pupuk anorganik, namun ada sisi lebih, yang tidak dimiliki pupuk anorganik dan tidak bisa disubstitusikan.  Demikianlah Allah SWT menciptakan keseimbangan di muka bumi ini, namun justru tanpa sadar kita sendiri telah merusaknya. 

Pada kasus yang lain kita sering disuguhkan sebuah kondisi pada lahan budidaya tanaman,  di mana kala diguyur hujan, maka lahan tersebut langsung kebanjiran dan begitu hujan reda, air pun surut tak berbekas.  Hal ini sangat lazim terjadi di sekitar kita di mana kegiatan  bercocok tanam padi di musim penghujan pun masih perlu suplai air dari mesin pompa air hanya dikarenakan hujan tidak turun selama seminggu dan kondisi lahan persawahan menjadi kering.  Pemandangan tersebut juga  yang terjadi di sekeliling kita saat ini. Miris memang. Pertanyaannya, ke mana air hujan yang tadinya bak air bah, bisa menghilang begitu saja?

Awan yang mengalami proses kondensasi akan berubah menjadi titik-titik air dan jatuh ke bumi yang kita sebut hujan. Air hujan ada yang diserap tanah melalui proses infiltrasi dan ada yang mengalir di atas permukaan tanah yang disebut run off.  

Maka, dalam aktivitas pertanian, kita perlu membuat kondisi air hujan lebih banyak terserap tanah melalui proses infiltrasi.  Strategi apa yang perlu dilakukan agar infiltrasi menjadi tinggi?  Salah satunya dengan meningkatkan kadar bahan organik tanah.  Tanah yang kaya humus atau sering disebut bahan organik tanah pada lapisan atas/top soil biasanya memiliki struktur dan porositas tanah yang baik.  

Dalam pori-pori ini terdapat udara yang sangat dibutuhkan oleh tanaman dan mikrobia tanah untuk proses respirasi.  Mikrobia inilah yang mengurai sisa tanaman menjadi kompos/bahan organik tanah.  Bahan organik mampu mengikat air lebih banyak dari massanya.  Mari kita telaah fenomena berikut dengan  sedikit beranalaogi. Sebagai contoh, kita sering menyediakan panganan bernama agar-agar di rumah.  Agar-agar terbuat dari sejenis tumbuhan yang disebut rumput laut.  Berat satu sachet bubuk agar-agar sekitar 6.5 gram. Saat diproses/dimasak  menjadi makanan, maka ditambahkan air 1000 ml. Hasilnya sungguh menakjubkan bukan?

6.5 gram bubuk agar-agar mampu mengikat air seberat 1000 ml.  Terjawab bukan, bagaimana cara mengikat air di tanah agar menjadi air yang tersedia bagi tanaman dalam durasi yang lama?  Tingkatkan bahan organik pada tanah baik berupa kompos maupun pupuk kandang.

Bahan organik,  selain berfungsi sebagai penyuplai hara ke dalam tanah, juga mempunyai fungsi yang tidak mampu diganti oleh bahan yang lain guna meningkatkan daya dukung tanah terhadap usaha pertanian. Sebab, bahan organik diketahui memiliki peranan yang penting terhadap perbaikan sifat tanah.  

Baca juga:

 Jika kita tidak kembali pada “penggunaan pupuk yang ramah lingkungan”, bukan mustahil,  ke depannya, akan banyak lahan-lahan Kelas I yang dulunya sangat sesuai untuk budidaya pertanian akan berubah menjadi lahan marjinal yang memerlukan  biaya produksi yang tinggi bagi aktivitas budidaya yang berujung pada berkurangnya pendapatan petani  akibat kesalahan dalam manajemen kelestarian fungsi lahan/tanah.  Degradasi fungsi lahan terjadi tanpa terbendung.  Oleh karena itu, perlu kepedulian kita semua terhadap kelestarian fungsi tanah agar keberlanjutan budidaya pertanian dapat terjaga. Mari sedikit lebih bijak dalam mengeksploitasi sumberdaya alam termasuk  daya dukung tanah karena sumber daya alam bukanlah warisan nenek moyang kita tapi pinjaman dari anak cucu kita.  

 *Mardhiah, warga Pidie.

Loading...