PKA VII

Menemukan Apa yang Diwakili Warna Krem dan Cokelat untuk Komunitas Masyarakat Pidie pada Anjungan Pidie

·
Menemukan Apa yang Diwakili Warna Krem dan Cokelat untuk Komunitas Masyarakat Pidie pada Anjungan Pidie
Salah satu sudut di lantai dua anjungan Pidie. Foto direkam, Minggu, 5 Agustus 2018. (sinarpidie.co/Firdaus).

sinarpidie.co--Anjungan Pidie, dengan struktur bangunan menyerupai rumah panggung, di Kompleks Taman Sri Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, konon lebih cenderung dibangun dengan pendekatan desain modern dan pendekatan fungsional.

Hal itu dikatakan Wakil Bupati Pidie Fadhullah TM Daud pada sinarpidie.co, Senin, 6 Agustus 2018 via telepon selular.

"Kalau saya lihat, dari segi bentuk sudah didesain secara modern. Kalau dilihat secara filosofis, mungkin agak susah kita raba-raba. Karena orang desainnya lebih melihat untuk fungsionalnya," kata dia. "Seluruh ruang bisa dimanfaatkan. Di atas, jadi auditorium masyarakat Pidie yang ada di Banda Aceh, bisa juga digunakan tempat pertemuan, kanduri hajatan dan lain-lain."

Ditanyai soal apa makna warna krem berpadu cokelat pada anjungan, dirinya mengatakan belum bisa menjelaskannya, sebab anjungan tersebut belum sepenuhnya rampung. 

"Tetapi yang jelas memang gedung ini dibangun baru dua tahun lalu dan disempurnakan segera agar bisa segera kita pakai. Perencanaannya ada pada Pemerintahan Pidie sebelumnya. Ini belum sempurna, karena belum ada sentuhan arsiteknya, masih banyak hal yang perlu dilakukan lagi. Nanti akan kita benahi lagi agar mempunyai nilai arsitektur," kata dia, menjelaskan. 

Pantauan sinarpidie.co, Minggu, 5 Agustus 2018, di dalam anjungan di lantai dua, suasana ruangan bak rumah yang baru dihuni penghuni. Dinding-dinding kosong tanpa ornamen. Jikapun ada, itu hanya sebuah pelaminan beserta pernak-perniknya, sepeda ontel, standing banner SKPK di Pidie, foto-foto yang menampilkan eksotisme alam, dan tampi beras.

Namun, ada juga yang patut diapresiasi, yakni sudut yang menampilkan benda-benda seperti senjata tradisional Aceh, Alquran bertuliskan tangan dan bercorak Pinto Aceh, ceurana ranub, dan sejumlah naskah kuno. Benda-benda yang ditampilkan dalam sebuah lemari kaca itu merupakan koleksi pribadi Teungku Muklis Caleue.

Baca juga:

Tak jauh dari anjungan Pidie, anjungan Bener Meriah tampak penuh dengan karya ukiran khas Gayo. Di dalam, di lantai dua, tak ada ruang yang menganga. Semua sudut penuh dengan pajangan. 

Pengunjung menggunakan latar pelamin khas Gayo di dalam Anjungan Bener Meriah untuk berfoto. Foto direkam pada Minggu, 5 Agustus 2018. (sinarpidie.co/Firdaus).

"Sudah cukup ramai pengunjung dan sudah dibuka hari ini," kata Kepala Dinas Pariwisata Bener Meriah Haidi Yoga, Minggu, 5 Agustus 2018.

Di sebelah anjungan Bener Meriah, berdiri anjungan Pidie Jaya. Wakil Bupati Pidie Jaya Said Mulyadi yang ditemui di lokasi, Minggu, 5 Agustus 2018, mengatakan, meskipun menghadapi keterbatasan dana secara khusus untuk PKA VII 2018 ini, namun keterwakilan Pidie Jaya, menurutnya, bisa dikatakan maksimal.

"Dengan di-back-up masing-masing SKPK," kata Said Mulyadi. "Yang ingin kita tampilkan memang yang khususnya berkaitan dengan seni dan budaya. Juga seperti komoditi-komoditi yang berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Saat ini, pengrajin-pengrajin ini sudah sangat terbatas."

Ditanyai makna warna anjungan, ia mengatakan, selain ada corak dan ukiran yang khas, biru mewakili potensi maritim di Pidie Jaya. Sedangkan kuning mewakili potensi pertanian. []

Reporter: Firdaus dan Diky Zulkarnen

Loading...