Mencetak Angin di Rumah Kemasan

·
Mencetak Angin di Rumah Kemasan
Rumah kemasan yang terletak di Gampong Peukan Pidie, Kecamatan Pidie, Pidie merupakan Unit Pengelola Teknis (UPT) di bawah Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM (DIseperindagkop-UKM) Pidie.(sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

sinarpidie.co - Pucuk-pucuk rumput liar menembus halaman rumah kemasan yang dilapisi paving block. Bangunan dengan model modern minimalis yang memiliki satu lantai ini terkesan tak terurus dengan baik. “Sepekan yang lalu, rumput liar ini sudah disemprot dengan racun, tapi sampai kini rumput liar ini belum mati,” kata Rasyidin, pengelola rumah kemasan, menunjuk ke arah halaman yang ditumbuhi rumput  liar, Rabu, 9 Juni 2021.

Di dalam,  bekas cucuran air hujan dari atap yang bocor menempel di sana-sini. “Pada saat hujan deras, lantai beberapa ruangan dipenuhi air,” kata Rasyidin.

Rumah kemasan yang terletak di Gampong Peukan Pidie, Kecamatan Pidie, Pidie, ini, merupakan Unit Pengelola Teknis (UPT) di bawah Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM (Disperindagkop-UKM) Pidie.

Rumah kemasan ini, pada dasarnya, diperuntukkan untuk mengemas produk industri kecil menengah (IKM) guna meningkatkan daya saing produk-produk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Pidie. Bangunan yang memiliki luas 10 x 12 meter dan tinggi sekitar 10 meter ini rampung dibangun pada tahun 2017 lalu.

Terdapat beberapa ruangan di dalam gedung ini, di antaranya, dua ruang produksi, satu musala, satu kamar mandi, dan satu gudang.

Di dalam ruang produksi, Rasyidin menunjukkan sejumlah mesin percetakan yang selama ini ia pakai untuk bekerja dan mesin yang tak pernah ia operasikan, yaitu mesin sablon, mesin sablon vakum, mesin printer 90 sentimeter, mesin cutting stiker, dan satu unit komputer.

Rasyidin bukanlah seorang pelaku UMKM yang memproduksi produk-produk UMKM.

Peralatan untuk mengemas produk UMKM di rumah kemasan digunakan untuk mencetak spanduk. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

Ia menyebut dirinya sebagai seorang perancang grafis atau desainer grafis. Oleh sebab itu, tak heran jika Rasyidin hanya mengoperasikan mesin sablon dan mesin cutting stiker, sedangkan mesin printer spanduk 90 sentimeter dan mesin sablon vakum, katanya, jarang dia operasikan karena model dan tipe mesin-mesin itu sudah ketinggalan zaman.

Selain itu, di tangan Rasyidin, mesin luminating, mesin seller dan mesin packing sama sekali tak memiliki kegunaan praktis. “Saya tidak pakai mesin-mesin itu karena tidak perlu,” kata Rasyidin.

Mesin-mesin—digital printing indoor, cutting plotter, cetak screen digital dan mesin sablon 8 in one—sebenarnya sudah cukup canggih untuk mengemas sebuah produk UMKM.  Mesin-mesin ini diadakan dengan DAK tahun 2019 senilai Rp 349.635.000.

Tapi Rasyidin adalah melulu soal spanduk, dan sialnya, Rasyidin bukanlah seorang perancang grafis dan tukang cetak spanduk yang terkenal maka ia hanya mendapat Rp 172.000 dari hasil cetak imsakiah Ramadhan dan sablon baju PSAP dalam satu tahun. “Biaya operasional yang saya keluarkan Rp 400.000 per tahun,” kata Rasyidin.

Di gudang, kursi-kursi menumpuk. Di depan gudang, tumpukan besi-besi dan tenda menggunung. “Kursi, besi dan tenda ini milik Dekranas Kabupaten Pidie,” kata Rasyidin.

Rasyidin hanya memakai satu ruangan selama satu tahun dirinya mengelola rumah kemasan. “Mesin-mesin ini, saat dibeli, tidak direncanakan dengan baik sehingga terkesan asal beli. Faktanya, beberapa mesin terbengkalai di gudang alias tidak terpakai,” kata Rasyidin, penuh percaya diri.

Dalam kontrak antara dirinya dan Disperindagkop-UKM Pidie, keuntungan yang diperoleh dari pengelolaan rumah kemasan dibagi tiga dengan rincian: 40 persen untuk Disperindagkop, 40 persen untuk pengelola, dan 20 persen untuk biaya operasional.

Kerjasama antara Disperindagkop-UKM Pidie dan Usaha Rasyidin 1972—sebagai mana tertera di dalam dokumen kontrak— yang dimulai sejak Januari 2020 hingga Desember 2020 atau selama satu tahun tak menghasilkan apa-apa, kecuali mesin-mesin yang mulai aus, gedung yang kumuh, dan atap yang bocor.

Kepala Disperindagkop UKM Pidie, Zulkifli ST, mengatakan bahwa mesin-mesin di dalam rumah kemasan belum sepenuhnya memadai. “Ditambah lagi pihak ketiga yang tidak profesional dalam mengelolanya,” kata Zulkifli, Rabu, 9 Juni 2021. “Dia (Rasyidin) tidak punya modal, dan dia tidak mampu membuat rumah kemasan berfungsi.” [].

Loading...