Membaca Siklus Produksi dan Pemasaran Emping Melinjo di Pidie

·
Membaca Siklus Produksi dan Pemasaran Emping Melinjo di Pidie
Pohon melinjo. (sinarpidie.co/Dicky Zulkarnen).

sinarpidie.co—Sekurang-kurangnya, sejak 100 tahun yang lalu, pohon melinjo sudah tumbuh di Pidie. Jenis tanaman buah-buahan ini, dikutip dari buku Kecamatan Pidie dalam Angka 2017, yang dirilis BPS Pidie pada 20 September 2017, merupakan jenis tanaman yang memiliki luas tanam yang paling luas di Pidie, yakni 33, 075 hektare.

Ada lima kecamatan yang memproduksi buah melinjo paling tinggi di Pidie. Berdasarkan buku Pidie dalam Angka 2017, yang dirilis BPS Pidie pada 11 Agustus 2017, dalam tahun 2016, Kecamatan Kembang Tanjong adalah kecamatan yang memproduksi melinjo paling tinggi, yakni sebanyak 47,221 kwintal. Lalu, Kecamatan Keumala memproduksi melinjo sebanyak 17, 467 kwintal. Disusul Kecamatan Sakti sebanyak 7,930 kwintal. Kecamatan Pidie 7,641 kwintal. Kemudian Kecamatan Titeue 6, 363 kwintal. Sementara, Kecamatan Mutiara yang menjadi sentra pemasaran emping melinjo di Pidie, memproduksi 4032 kwintal.

Total produksi melinjo untuk 23 kecamatan di Pidie pada 2016: 68,842 kwintal dengan total pohon melinjo sebanyak 379,991 batang.

“Seingat saya tahun-tahun 1990-an, pernah ada bantuan pengadaan bibit melinjo dari pemerintah untuk ditanam di tiap gampong. Saat itulah pohon melinjo menjadi lebih banyak di Pidie,” ujar Ilyas, 51 tahun saat ditemui sinarpidie.co di Pasai Mulieng Beuruenuen, Minggu, 18 maret 2018.

Aktivitas jual-beli di Pasai Mulieng Beureuneun. (sinarpidie.co/Dicky Zulkarnen).

Ia merupakan seorang pengepul melinjo asal Adan.

Zainuddin, 32 tahun, pengepul melinjo asal Lueng Putu, mengatakan, ia membeli melinjo dari warga seharga Rp 20 per are (per dua liter-red).

Lalu, ia menjual melinjo yang telah ia kumpulkan ke Pasai Mulieng Beuruenuen seharga 22.000-23.000 per are.

“Saya mengepul melinjo di wilayah Meureudu dan Glumpang Baro. Saya masuk ke pelosok-pelosok gampong untuk mencari melinjo dengan berkendara sepeda motor. Saya sudah melakukan pekerjaan itu selama empat tahun lebih,” kata Zainuddin, yang juga ditemui di Pasai Mulieng Beuruenuen, Minggu, 18 maret 2018.

Melinjo-melinjo yang ada di Pasai Mulieng Beureuneun, dibeli oleh warga yang bekerja sebagai penumbuk melinjo sebelum akhirnya dijual kembali pada pedagang emping yang juga berpusat di Keude Beureunuen.

Fitriani, 30 tahun, warga Gampong Beurueeh Meunasah Blang, yang sehari-hari bekerja sebagai penumbuk melinjo secara tradisional mengatakan, dalam 10 are melinjo yang ditumbuk, ia menghasilkan 7,5 kg emping melinjo.

“Dijual 48.000-50.000/kg ke kedai,” kata dia, Sabtu, 17 Maret 2018.

Baca juga:

Proses pengerjaannya, melinjo-melinjo tersebut disangrai dengan pasir di dalam tungku yang memiliki diameter 50 cm. Setelah disangrai selama lima menit, melinjo-melinjo tersebut diletakkan di atas alas batang pohon sawo bulat seukuran 50 cm dengan tebal 10 cm. Kemudian mereka ditumbuk dengan memakai palu khusus satu per satu. Emping yang telah ditumbuk, yang menempel di atas alas tersebut, dicungkil dengan memakai sendok khusus.

Mereka lalu dijemur di atas alas daun kelapa.

“Biji melinjo yang berkualitas, juga menghasilkan emping melinjo yang berkualitas. Biasanya biji melinjo wilayah Glumpang Baro, Lueng Putu dan Meureudu lebih bagus hasil kerupuknya, karena biji melinjo di sana besar-besar,” kata Fitriani, yang telah melakoni pekerjaan tersebut semenjak masih duduk di bangku SMP.  Fitriani juga seorang tenaga honorer di salah satu TK di kemukiman Beureueh.

Ia membeli melinjo di Pasai Mulieng Beureunuen sebanyak sepuluh are untuk tiga hari kerja.

“Sekarang harga satu are Rp 22.000. Dulu ada ambil modal dari biaya simpan-pinjam gampong, sekarang sudah lunas. Bahkan warga di sini ada juga yang ambil pinjaman dari bank buat modal. Biasanya kalau kerja upahan, dibayar Rp 8000 sampai Rp 10.000 per are. Kadang-kadang saat harga melinjo turun dan harga kerupuk mahal, laba yang kami dapat lebih tinggi,” ujarnya.

Abdurrahman, 48 tahun, pemilik kedai grosir emping melinjo menuturkan, dalam sehari pihaknya menampung sekitar 250 kg emping melinjo dari warga.

“Dalam satu minggu sebanyak 500 kg emping melinjo kita kirim ke Medan. Dan ke Pekanbaru 500 kg,” ungkapnya.

Dulu, kata dia, banyak atau tidak emping-emping yang dijual warga padanya tergantung pada musim melinjo berbuah. Namun, dalam beberapa tahun terakhir hal tersebut tak lagi menjadi ukuran.

“Dulu, bulan Mei merupakan musim puncak melinjo berbuah, saat itu banyak yang bawa kerupuk ke kedai, tapi sekarang tak menentu lagi musim berbuahnya,” tuturnya.

Umumnya, emping-emping melinjo yang ditampungnya,  dibeli pada warga yang berasal dari Beurueeh, Kembang Tanjong, Adan, dan di seputaran Kecamatan Mutiara dan Mutiara Timur.

Abdurrahman, 48 tahun, pemilik kedai grosir emping Araco, sedang melayani pembeli. (sinarpidie.co/Dicky Zulkarnen).

“Kami beli dari warga, untuk ukuran kerupuk besar, Rp 58.000-60.000 per kg. Sementara untuk emping ukuran kecil atau yang berukuran biasa, Rp 47.000-50.000 per kg. Kami lalu menjualnya 65.000 per kg untuk ukuran besar dan, untuk ukuran kecil Rp 55.000-58.000 per kg,” tuturnya.

Apabila melinjo sedang langka di Pidie, melinjo-melinjo yang ada di Pasai Mulieng Beureunuen merupakan melinjo yang didatangkan dari Lampung. []

Reporter: Dicky Zulkarnen

Loading...