Melihat Petani Garam Tradisional di Batee Bekerja

·
Melihat Petani Garam Tradisional di Batee Bekerja
Petani garam di Gampong Rungkom, Kecamatan Batee, Pidie. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co- Nuliyati, 37 tahun, warga Gampong Rungkom, Kecamatan Batee, Pidie, sedang menumpuk pasir yang telah dijemur seharian pada hamparan tanah seluas 20 x 20 meter, Jumat pekan lalu. Sesekali, dia melangkahkan kaki ke sebuah gubuk seukuran 5 x 4 meter untuk mendorong kayu bakar pada tungku tempat di mana garam sedang dimasak.

Pasir tersebut  ditumpuk menjadi dua gundukan dengan diameter satu meter, yang biasa disebut inong. Jarak dua gundukan tersebut sekitar 30 sentimeter. Pemisah antara keduanya seperti parit yang digali agak sedikit dalam agar air yang disiramkan ke dalamnya mengalir ke dua gundukkan tanah itu. Potongan daun kepala menjadi alas gundukkan pasir tersebut, yang juga digunakan sebagai peniris.

Nuliyati menyirami dua tumpukkan pasir tersebut sebanyak 10 timba hitam. Dari 10 timba air, Nuliyati mendapatkan 4 timba air—setelah ditiris—yang kemudian menjadi bahan utama untuk memasak garam. Bahan baku utama berupa air diambil di tambak ikan di sekitar tempat tersebut.

Air-Air tersebut kemudian disimpan pada sebuah bak penampung yang terbuat dari kayu dan plastik di dalam gubuk tersebut. Mereka akan dimasak keesokan harinya.

Ia kembali membajak tumpukkan pasir tersebut menggunakan creuh, sejenis alat membajak yang terbuat dari kayu. Tanah-tanah itu akan ditumpukkan lagi keesokan harinya.

Belum selesai menjemur kembali pasir-pasir tersebut, Nuliyati kembali ke gubuk untuk mengambil garam-garam menggunakan gayung, dari sebuah drum minyak bekas. Setelah seluruh garam tersebut diangkat dan dimasukkan ke dalam sebuah karung, Nuliyati bergegas kembali ke tempat penjemuran pasir tersebut. Jarak gubuk dengan tempat di mana dia menjemur pasir terpaut 30 meter.

Sebuah mobil bak terbuka, yang mengangkut kayu bakar, datang ke gubuk Nuliyati. Kayu-kayu bakar diturunkan. Nuliyati kemudian membayar Rp 270 ribu untuk kayu-kayu tersebut.

Selepas mobil bak terbuka itu pergi, giliran pengepul garam datang ke sana untuk membeli garam pada Nuliyati dan petani garam lainnya.

Garam-garam Nuliyati dibeli seharga Rp 90 ribu per 18 aree atau Rp 4.500 per kilogram. "Setiap 10 kilogram, pengepul meminta gratis satu kilogram,” kata Nulianti.

Ibu tiga anak ini bukanlah satu-satunya petani garam di gampong tersebut. Sedikitnya terdapat 80 perempuan lainnya yang menggeluti profesi serupa.

“Garam di sini adalah garam alami dari pasir tanpa menggunakan bibit garam. Bukan dari bibit garam yang dicampurkan dengan air untuk dimasak,” katanya. "Jika garam alami, rasanya asin dari awal kita cicipi. Kalau garam bibit rasa asin bercampur dengan rasa agak pahit. Jika digunakan untuk menjemur belimbing, garam alami takkan membuat belimbing membusuk.” []

Loading...