Mata Rantai Peredaran Sabu di Pidie Jaya

·
Mata Rantai Peredaran Sabu di Pidie Jaya
Ilustrasi sabu. Sumber: kelanakota.suarasurabaya.net.

Anton tak ingin menjadi penjual sabu secara eceran karena hal itu akan menjadikannya sebagai ‘artis’, istilah sesama para pengedar narkoba jenis sabu untuk rekannya yang sudah jadi target operasi.

sinarpidie.co--Transaksi narkoba jenis sabu di Pidie Jaya tak hanya dilakukan dengan uang tapi juga dengan menukar barang-barang berharga seperti handphone (HP) dan alat-alat elektronik lainnya.

Anton, —bukan nama sebenarnya— 31 tahun, mantan pengedar narkoba jenis sabu di Pidie Jaya, menceritakan bagaimana narkoba jenis sabu dapat masuk hingga ke gampong-gampong di kabupaten tersebut. Kini, Anton mendaku telah berhenti menggunakan dan mengedarkan narkoba jenis sabu.

"Terkadang mereka (pelanggan-red) membeli sabu dengan menukar HP. Saat itu, kadang harga HP dengan paket sabu yang mereka tukar nilainya di bawah harga sabu,” kata dia, pekan lalu. “Saya hanya sebulan jadi pengedar.”

Selama dia menjadi pengedar sabu, rata-rata pembeli atau pelanggannya adalah anak muda yang berumur antara 20 tahun hingga 32 tahun.

Ia mendapatkan barang haram tersebut dari salah seorang bandar besar yang telah lama dia kenal, yang menetap di Medan, Sumatera Utara. “Proses transaksi narkoba ditentukan oleh bandar besar di Medan melalui kurirnya yang datang dari Medan. Tempat dan waktu mereka tentukan. Saya hanya menunggu aba-aba dari mereka,” kata dia.

Kurir tersebut dipanggil dengan sebutan 'labi-labi'. Kini bandar besar tersebut, kata Anton, telah ditangkap dan dijatuhi hukuman 14 tahun penjara. “Mereka (kurir-red) tidak mau kita atur untuk masalah tempat walaupun rekomendasi tempat dari kita aman. Mereka tidak akan percaya pada siapapun untuk hal itu, sekalipun itu ibu mereka sendiri," katanya.

Pengalaman pertama Anton menjalankan bisnis tersebut, mula-mula, dengan mengambil sebanyak 300 gram atau tiga ons sabu seharga Rp 180 juta atau Rp 60 juta per ons. Kemasan tersebut dikemas dalam paket 100 gram yang kemudian Anton edar dalam paket 25 gram seharga Rp 21 juta. Transaksi dengan bandar di Medan, Sumatera Utara, ia lakukan sebanyak tiga kali.

Untuk transaksi kedua dan ketiga, Anton hanya memperoleh jatah satu ons. "Jika ngutang harganya naik menjadi Rp 65 juta per ons. Saya tidak membeli lunas karena saya sudah dikenal. Tapi harus bayar panjar untuk satu ons Rp 20 Juta,” sebutnya.

Anton tak ingin menjadi penjual sabu secara eceran karena hal itu akan menjadikannya sebagai ‘artis’, istilah sesama para pengedar narkoba jenis sabu untuk rekannya yang sudah menjadi target operasi.

“Saya menjual sabu ke pengedar kecil-kecilan lagi. Rata-rata mereka mengambil satu sak atau 0,5 gram, kecuali untuk pengedar di Meureudu yang mengambil 12,5 gram per Minggu karena di sana dagangannya itu laris manis,” ungkapnya. "Paket 12,5 gram harga tolaknya Rp 11 juta, paket  0,5 gram, yaitu satu sak harganya Rp 5,5 juta; satu ji Rp 900 ribu dan 1/4 harganya Rp 400 ribu," katanya lagi.

Dari hasil penjualan sabu tersebut, Anton meraup Rp 34 Juta lebih setiap minggu.

"Kalau untung jangan tanya karena nyaris tidak ada jika dihitung modal dan resiko yang dihadapi. Yang kaya cuma toke. Untuk satu ons barang itu saya peroleh laba Rp 5 juta," ujarnya.

Keuntungan tersebut Anton anggap kecil karena sabu yang ia jual juga ia konsumsi untuk dirinya sendiri saat itu.

Mantan pemakai narkoba jenis sabu, Amin, 28 tahun, —juga bukan nama sebenarnya— pernah menjual HP, sepedamotor, tabung gas, bebek, dan cabai yang masih kecil-kecil sekalipun, hanya untuk bisa membeli sabu-sabu. Kini, Amin juga mendaku telah berhenti mengonsumsi barang haram tersebut.

"Salah jika dibilang nikmat. Saya sadar saat mengonsumsi sabu yang ada hanyalah ketergantungan pada barang itu. Kalau saya tidak pakai, kepala terasa berat, pikiran tidak lagi tenang, rasanya gelisah," kata dia. “Saat perasaan sedang gelisah yang terpikirkan, bagaimana mendapat barang haram itu. Apapun saya lakukan, mulai dari menjual harta pribadi dan orangtua hingga mencuri punya tetangga dan menipu banyak teman.”

Plt Kepala BNNK Pijay Fakhriyadi SHI pada sinarpidie.co di Meureudu mengatakan BNNK Pidie Jaya kekurangan personil untuk melakukan pemberantasan narkoba. "Kita kan tidak melakukan pemberantasan karena semenjak berdiri BNN di Pijay belum ada Kasi Berantas. Kita baru punya satu personil, " kata dia pekan lalu.

Selama ini, kata dia, pihaknya hanya melakukan sosialisasi atau penyuluhan dan pencegahan tentang penggunaan serta pencegahan peredaran narkoba.

“Untuk mengantipasi peredaran narkoba di gampong-gampong, pada tahun 2020 rencananya Peraturan Bupati untuk dapat mengimplementasikan P4GN (Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika-red) ke setiap gampong akan dikeluarkan,” tutupnya. []

Loading...