Makam Teungku Chiek Di Simpang Dipugar

·
Makam Teungku Chiek Di Simpang Dipugar
Pendiri Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh, Tarmizi Abdul Hamid, mengatakan bahwa kompleks makam tersebut merupakan salah satu situs cagar budaya yang harus dilindungi dan dilestarikan keberadaannya.

sinarpidie.co -- Makam Teungku Chiek Muhammad Khathib bin Ahmad Khathib Langgien atau yang lebih popular dikenal dengan nama Teungku Chiek Di Simpang mulai dipugar pada Senin, 26 Juli 2021. Makam tersebut bertempat di kompleks makam ahli waris Teungku Syiek Di Simpang di Gampong Kruet Teumpeun, Kemukiman Teupin Raya, Kecamatan Glumpang Tiga, Pidie.

Pelaksana dan penanggungjawab jawab pemugaran makam itu, Tarmizi A Hamid, menyampaikan bahwa Teungku Chiek Di Simpang merupakan salah satu ulama besar Pidie yang mengarang beberapa karya monumental semasa hidupnya pada pertengahan abad 18 masehi atau pada masa Kerajaan Aceh Darussalam yang dipimpin Sultan Mansyur Syah (1857-1870 Masehi).

"Di era itu Kerajaan Aceh Darussalam sudah mengalami kelemahan dalam sistem pemerintahannya, tapi Teungku Chiek Di Simpang masih mampu menulis beberapa karya dan petuah bagi generasi Aceh berikutnya," kata pria akrab disapa Cek Midi itu.

Karya-karya yang disebut-sebut ditulis oleh Teungku Chiek Muhammad Khathib bin Ahmad Khathib Langgien adalah Tariqat Syatariah, Asraruddin Li Ahlul Musyahadah wal Yaqin, Ziya-ul Wara, Bustanus Salikin, Mafatih Al Ghuyub bi unillahi al Maliki ma'bud, Kay'usul Muhaqqiqin, Mi'rajus Salikin, Syifa-ul Qulub, dan Dawa'ul Qulub. 

"Ada beberapa judul manuskrip lainnya yang hingga saat ini masih dalam penjajakan keberadaannya oleh Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh," kata Tarmizi Abdul Hamid.

Baca juga:

Ia menyebutkan bahwa karya-karya yang disalin dengan pureh on joek (lidi aren) dan tinta yang terbuat dari biji besi yang dipanaskan serta alas media kertas impor dari negara-negara Eropa masih tersimpan sebagai koleksi Rumoh Manuskrip Aceh.

"Makam Teungku Chiek Muhammad Khathib bin Ahmad Khathib Langgien merupakan sebuah situs sejarah cagar budaya yang harus dilindungi dan dilestarikan sesuai amanat Undang-Undang 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya. Sumber anggaran pemugaran makam ini berasal dari salah seorang dermawan hamba Allah. Makam tersebut, pada awal abad 19, dibangun dengan batu bata yang terbuat dari telur ayam sehingga bangunannya masih berdiri kokoh dan masih terlindungi," sebutnya. []

 

Loading...