Makadam

·
Makadam
Jailani, 50 tahun, pembawa makadam. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co — Mengenakan baju koko putih, kain sarung, kopiah beludru hitam, dengan kacamata yang bertengger di atas batang hidungnya, Teungku Abdussalam, 63 tahun, menghidupkan mesin sepeda motornya lalu meninggalkan rumahnya di Gampong Waido, Kecamatan Peukan Baro, Pidie, Kamis, 29 Oktober 2020 pagi. Ia menuju ke meunasah Gampong Waido yang terletak sekitar 50 meter dari rumah Aceh miliknya yang memiliki halaman yang luas dan rindang. Pohon asam jawa yang besar tumbuh di depan pagar rumahnya itu.

Jailani, 50 tahun, yang telah tiba di meunasah, mengambil caping yang tampak kebesaran di kepalanya dan menenteng sesuatu yang terbungkus di dalam bungkusan kain putih dari dalam salah satu ruangan di meunasah. Yang terakhir disebutkan adalah mukadam, ayat-ayat Al Quran yang disebut-sebut ditulis Teungku Chik di Pasi dengan tangannya.

“Hari ini ada undangan ke Gampong Gajah,” kata Teungku Abdussalam.

Waktu tempuh dari Gampong Waido ke Tuha Gampong Gajah, Kecamatan Mutiara, sekitar 10 menit berkendara.

Sementara Jailani telah mengenakan caping dan melilit kain putih pembungkus makadam di lehernya, Teungku Abdussalam menunjukkan letak balee kaluet, sebuah balai yang terbuat dari kayu dan memiliki bentuk seperti rumah panggung dan beratapkan daun nipah yang berukuran sekitar lima kali lima meter, tempat orang-orang bertapa, dan sebuah bangunan berkonstruksi beton berukuran satu kali satu meter, tempat batu seurumbek tersimpan. Atapnya juga atap daun nipah.

“Masih ada orang yang datang untuk kaluet (bertapa-red) dengan waktu dua hingga 40 hari. Orang yang ingin bersumpah meletakkan tangan di atas batu seurumbek,” kata ayah empat anak itu. “Sebelumnya tidak ada bangunan yang menutup batu tersebut. Tapi karena ada beberapa orang yang bersumpah di situ dan belakangan diketahui mereka berbohong, tangan-tangan mereka melepuh. Untuk menghindari menggunakan batu itu di saat emosi warga tidak stabil, maka sekarang batu ini dikunci.”

Teungku Abdussalam di depan Balee Kaluet. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Desau angin terdengar seperti bisikan di meunasah yang dikelilingi sawah itu. Kini, bangunan meunasah di sana merupakan bangunan baru yang berkonstruksi beton namun belum sepenuhnya rampung meski telah difungsikan, sedangkan meunasah yang berkonstruksi setengah permanen masih teronggok di halaman yang sama.

Satu per satu pria dengan baju koko dan kain sarung yang tiba di meunasah melakukan apa yang telah dilakukan Teungku Abdussalam dan Jailani sebelumnya: mengambil wudu. Mereka adalah kelompok mukadam yang dipimpin Teungku Abdussalam. Lazimnya, warga menyebut makadam daripada mukadam.

Jumlah makadam yang berangkat hari ini adalah 17 orang, termasuk anak-anak yang ikut dengan ayah mereka. “Mukadam artinya pembuka,” sebut suami Nurwadah, itu.

Di Tuha Gampong Gajah, umur padi warga di sawah mereka sudah mencapai 30 hari. Itu sebabnya para makadam ini diundang ke meunasah gampong tersebut.

Jailani, sang pembawa makadam yang bertubuh gemuk, berada di depan rombongan. Jika ia belum tiba ke tempat yang dituju, yang lainnya tidak boleh mendahului langkah Jailani. Itu berlaku saat rombongan makadam meninggalkan kampung, dan saat mereka pulang. Setibanya di meunasah Tuha Gampong Gajah, Jailani dan yang lainnya duduk bersila dan saling berhadap-hadapan. Ia membuka bungkusan putih. Di dalamnya, terdapat sebuah kotak yang terbuat dari kulit kambing. Di dalam kotak itu, beberapa makadam dengan lapik bewarna cokelat yang sudah dimakan usia tersusun rapi. “Yang kita baca tidak hanya mukadam yang asli, tapi juga yang baru dicetak, karena beberapa halaman mukadam yang tua ada yang sudah copot,” kata Teungku Abdussalam.

Makadam dalam kotak kulit kambing. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Teungku Abdussalam, pria yang memiliki kulit sawo matang dengan tinggi semampai, menulis ayat-ayat Al Quran di atas selembar kain putih tatkala yang lainnya membaca makadam. Kemenyan juga dibakar.

Setelah membaca ayat-ayat Al Quran dalam makadam, mereka berdoa lalu berselawat. Setelah itu, Jailani bangkit dan meletakkan makadam-makadam dalam kotak kulit kambing yang telah dibungkus dalam kain putih di atas wadah yang memuat dedaunan dan bunga-bunga, yang biasanya ditaburi di atas kuburan, selama beberapa detik. Wadah itu adalah kaleng bekas cat. Sejurus kemudian, Jailani melangkah ke bawah undakan meunasah. Di sana ia melakukan hal serupa secara berulang-ulang pada puluhan ember yang telah tersusun rapi.

Jailani meletakkan makadam-makadam dalam kotak kulit kambing di atas ember, yang memuat dedaunan dan bunga-bunga yang biasanya ditaburi di atas kuburan, selama beberapa detik. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Kain yang memuat tulisan tangan Teungku Abdussalam kemudian dipotong-potong sebesar bungkusan rokok lalu dimasukkan ke dalam plastik keresek. Potongan kain itu nantinya akan dibagikan lalu diikatkan pada sebatang kayu yang ditancapkan di dalam setiap sawah warga, dan bunga-bunga beserta air di dalam ember nantinya juga akan ditaburi ke dalam sawah warga melalui peunekah, pintu air di pematang sawah. Hujan akan turun sehingga air di sawah tercukupi, dan padi takkan diserang pelbagai hama.

Tulisan tangan Teungku Abdussalam yang dipotong kecil-kecil. (sinarpidie.co/Firdaus).

Setelah serangkaian aktivitas tersebut usai, rombongan makadam dipersilakan untuk menyantap hidangan kenduri.

Makadam lahir bersamaan dengan upaya Teungku Chik di Pasi membangun saluran irigasi di Pidie. Setidaknya begitulah yang dikatakan Teungku Abdussalam, yang menyebut dirinya sebagai keturunan kesembilan Teungku Chik di Pasi. “Pantangannya, tiga hari setelah menaburi dan mengikat kain tersebut tidak boleh turun ke sawah,” kata Abdussalam.

Biasanya, kelompok makadam di Gampong Waido diundang ke Kemukiman Busu, empat kemukiman di Kecamatan Peukan Baro, Kemukiman Mali, Gigieng, Mangki, Tungue, Iboh, Peukan, Yaman, Keumangan, dan sejumlah kemukiman lainnya yang ada di Pidie, yang memiliki ikatan yang kuat dengan Lueng Bintang, saluran irigasi yang konon dibangun Teungku Chik di Pasi dari Gle Meulinteung Keumala dan bermuara ke Gigieng, Simpang Tiga, saat padi di sawah dara atau berumur 30 hari.

Qismullah Yusuf, dalam makalahnya Etno Scientist and Technologists Melayu Aceh, menuliskan Teungku Chik di Pasi memiliki nama lengkap Haji Abdussamad. Ia hidup di masa Kesultanan Iskandar Tsani atau Kesultanan Sri Ratu Safiatuddin pada 1637-1641.

“Teungku Chik di Pasi menamatkan pendidikan dasar agamanya di Teureubue, kemudian ia melanjutkan pendidikan menengah dan jenjang Ma’had Ali di Tiro sebelum dikirimkan ke Jami’ah Baiturrahman Banda Aceh dan lulus dengan kepujian sangat tinggi,” tulis Qismullah Yusuf.

Ia kemudian dikirimkan ke Mekah untuk melanjutkan sekolah. Sesampainya di Mekkah, Teungku Chik di Pasi pergi ke Baghdad selama tujuh tahun, ke Damaskus selama dua tahun, dan Mesir selama dua tahun, untuk mempelajari apa yang dituliskan oleh Qismullah Yusuf, “ilmu pertanian, hydro engineering, dan holtikultura.”

Sepulangnya ke Aceh, ia membuat model sistem irigasi di Pidie, di Keumuneng Aceh Selatan, di Aceh Timur, hingga ke Gayo. []

Loading...