Kuliner

Leumang pada Musim Durian

·
Leumang pada Musim Durian
Leumang yang sedang dimasak. (sinarpidie.co/Ayu Muliana).

sinarpidie.co--Atiqah, 42 tahun, seorang penjual leumang di jalan Banda Aceh –Medan, tepatnya di Lampoh Saka, Kecamatan Peukan Baro Pidie, dengan telaten memasukkan daun pisang yang digulung memanjang ke dalam buluh bambu. Ia melakukan hal itu dengan menggunakan sebuah kayu kecil yang ujungnya dibelah dua.

Leumang merupakan kuliner yang berbahan baku beras ketan dan santan. Uniknya, beras ketan dan santan dimasukkan ke dalam buluh bambu lalu dimasak dengan bara api kayu.

 “Beras dan santan harus diisi penuh dan sama banyaknya agar matang sempurna,” Kata atikah pada sinarpidie.co, Jumat 5 Januari 2018.

Atiqah menuturkan, ia memulai usaha pembuatan leumang sejak sepuluh tahun yang lalu. Awalnya perempuan berkulit gelap itu membuat leumang di rumahnya di Gampong Meunasah Mesjid Pineung. Baru setahun terakhir ia pindah ke Lampoh Saka.

Kedai leumang Atiqah di Lampoh Saka, Pidie. (sinarpidie.co/Ayu Muliana).

Menurut Atiqah, permintaan leumang meningkat jika musim durian tiba.  Meningkat hingga empat kali lipat dari hari-hari biasa.

“Leumang sangat cocok dinikmati bersama durian,” kata dia. “Jika ada yang memesan, ya kita buatkan. Tapi kalau dari siang sampai malam berapa batang tidak tahu. Tidak pernah menghitungya,” katanya sambil tersenyum.

Harga leumang, kata Atiqah, naik akhir-akhir ini karena bahan baku—beras ketan—ikut naik.

“Beras ketan Rp 25 ribu per dua liternya. Harga leumang dibandrol mulai Rp 15 ribu hingga Rp 30 ribu perbatangnya. Sesuai besar kecil dan tinggi batang leumangnya,” kata dia.

Di kedai Leumang Aceh milik Atiqah itu, kita dapat  membeli leumang yang baru dimasak. Kita bisa memilih sendiri leumang yang kita inginkan dari perapian.

Leumang dimasak sampai matang hingga satu jam. Kedainya itu buka sejak pukul 14.00 WIB hingga 21.00 WIB. []

Loading...