LBH Banda Aceh: DP3AKB Pidie dan DP3A Harus Jadi Leader Advokasi Kasus Azizah

·
LBH Banda Aceh: DP3AKB Pidie dan DP3A Harus Jadi Leader Advokasi Kasus Azizah
RSUD Teungku CHik di Tiro. Dok. sinarpidie.co.

sinarpidie.co-Nasib tragis yang menimpa Azizah, 42 tahun, warga Gampong Meunasah Lhee, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, telah membuka mata bahwa masih banyak ketidakberesan pelayanan publik di Aceh. Hal itu dikatakan Direktur LBH Banda Aceh Syahrul SH MH dalam keterangan tertulis yang diterima sinarpidie.co, Kamis, 7 Mei 2020.  “Tim medis yang menangani di RSUD Chik Di Tiro Sigli kita duga telah lalai dalam menangani luka yang dialami Azizah. Seharusnya tim medis memeriksa secara menyeluruh dan menyampaikan informasi yang tepat kepada keluarga. Jika di RSUD Sigli tidak memiliki alat yang lengkap atau sumber daya medis jangan dipaksakan untuk ditangani, tetapi harus segera dirujuk ke RSUDZA seharusnya. Dampaknya fatal, nyawa orang melayang dan tanggungannya jadi terabaikan sekarang,” kata Syahrul SH MH.

LBH menegaskan pemerintah jangan menganggap remeh kasus ini. “Kita mendorong pemerintah daerah baik Bupati Pidie dan DPRK Pidie atau Gubernur dan DPR Aceh untuk segera membentuk tim evaluasi rumah sakit, memeriksa kejadian ini. Jika ada temuan kelalaian maka harus segara ditindak,” sebutnya. “Kita akui bahwa pemerintah sedang fokus untuk penanganan Covid-19, tapi juga jangan abai untuk pelayanan publik lainnya terutama pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang mengalami kesehatan non-Covid. Jangan sampai orang tidak meninggal karena Covid, tetapi harus meninggal akibat terbaikan, atau akibat salah penggunaan jarum suntik atau pisau bedah.”

Di samping itu, LBH juga meminta Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Pidie dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Aceh mengambil peran dan tanggung jawab untuk melakukan advokasi.

“Kedua lembaga ini seharusnya mengambil peran dan tanggung jawab untuk melakukan advokasi, meminta kejadian ini dipertangungjawabkan baik secara hukum maupun secara sosial. Kejadian begini tidak hanya cukup dengan kunjungan biasa saja, membesuk layaknya tetangga membesuk orang kampungnya yang sedang sakit. Lembaga ini dibentuk untuk bekerja lebih, memiliki tanggungjawab untuk mengadvokasi kasus-kasus perempuan. Menurut kami DP3AKB Pidie dan DP3A Provinsi harus menjadi leader yang bertanggungjawab untuk advokasi kasus ini, menganalisis dampak terhadap keluarga terutama jika ada anak yang ditinggalnya, mengingat suaminya juga harus diproses hukum,” tutupnya.

Diberitakan sebelumnya, Azizah, 42 tahun, ditikam suaminya, Zaini, 50 tahun, Sabtu, 18 April 2020 di Pasar Terpadu Pante Teungoh Kota Sigli. Sedikitnya, terdapat sembilan luka tusukan di perut dan payudara Azizah.

Baca juga:

Azizah dioperasi pada hari kejadian tersebut di RSUD Teungku Chik di Tiro Sigli pada pukul 12.00 WIB dan selesai pada pukul 16.00 WIB. 

Dua hari setelah menjalani operasi, tepatnya pada Senin 20 April 2020, perut Azizah membengkak karena ternyata tiga tusukan menembus usus Azizah tapi tidak dijahit pada saat operasi pertama. Azizah dirujuk ke RSUD dr Zainoel Abidin Banda Aceh pada Senin, 20 April 2020.

Setelah sepuluh hari menjalani perawatan di RSUD dr Zainoel Abidin Banda Aceh, perut Azizah semakin membengkak sehingga pada Rabu, 29 April 2020, dokter memutuskan untuk membuka jahitan di perut Azizah bagian kanan.

Azizah kembali dioperasi untuk kedua kalinya pada Rabu, 29 April 2020. Operasi itu berjalan selama lima jam lebih, sejak 20.30 WIB hingga Kamis, 30 April pukul 02.08 WIB.

Setelah operasi tersebut, Azizah tak sadarkan diri hingga akhirnya ia menghembuskan napas terakhir pada Sabtu, 3 Mei 2020 pukul 04.45 WIB.[]

Loading...