Kudeta dengan Dalil Remeh-Temeh yang Ditujukan pada Pemimpin Sipil

·
Kudeta dengan Dalil Remeh-Temeh yang Ditujukan pada Pemimpin Sipil
Kekuasaan di Myanmar saat ini dipegang Panglima Tertinggi Min Aung Hlaing. Sumber foto: Reuters via BBC Indonesia.

sinarpidie.co — Perebutan kekuasaan secara paksa atau kudeta yang dilakukan militer di Myanmar, Senin, 1 Februari 2021, dijalankan dengan cukup sistematis.

Militer di Negara yang dikenal dengan sebutan Burma ini menyasar Aung San Suu Kyi, pemimpin partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang berusia 75 tahun, presiden yang sah Win Myint; dan pejabat senior partai NLD, Win Htein.

Penangkapan Aung San Suu Kyi disebut-sebut karena NLD, partai politik yang dirintisnya, yang berkuasa setelah memenangkan pemilu 2015, kembali meraup suara terbesar dalam pemilu 2020 yang demokratis, setelah selama hampir 50 tahun Myanmar berada di bawah rezim junta militer.

Pada Senin penangkapan Suu Kyi, NLD seharusnya telah resmi memerintah untuk periode kedua.

“Pemilu pada November lalu dimenangkan oleh NLD yang memperoleh lebih dari 80 persen suara. Partai pimpinan Aung San Suu Kyi itu tetap sangat populer di masyarakat meskipun menghadapi tudingan genosida terhadap warga Muslim Rohingya di sana,” demikian dilansir dari BBC Indonesia, Selasa, 2 Februari 2021.

Partai Pembangunan dan Solidaritas Persatuan (USDP), yang disokong militer, berulang kali menolak hasil pemilu tersebut. “Kudeta ini didasari pada klaim militer tentang adanya kecurangan daftar pemilih dalam pemungutan suara, meskipun komisi pemilihan mengatakan tidak ada bukti yang mendukung klaim tersebut,” demikian dikutip dari tirto.id,  Selasa, 2 Februari 2021.

Yang dilakukan militer setelah penangkapan Suu Kyi adalah menutup akses internet. Suu Kyi ditangkap karena melanggar undang-undang ekspor impor dan memiliki secara ilegal alat komunikasi termasuk walki-talkie. “Presiden yang digulingkan Win Myint didakwa melanggar pembatasan yang diterapkan selama pandemi virus corona,” demikian dikutip dari BBC Indonesia, Rabu, 3 Februari 2021.

Sementara, Win Myint ditahan “menggunakan pasal dalam Undang-Undang Anti-Makar yang bisa membuatnya dipenjara seumur hidup”.

Militer memberlakukan kondisi darurat selama setahun setelah menuduh partai Suu Kyi tersebut curang dalam pemilu 2020. Hingga kini, keberadaan Suu Kyi dan Presiden Myanmar Win Myint masih belum diketahui.

Masih dilansir dari BBC Indonesia, demonstran di Yangon, kota terpadat di Myanmar, turun ke jalan dengan mengenakan pita merah, warna partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD). Di rumah-rumah di kawasan pemukiman penduduk yang padat, di malam hari, warga memukul-mukul panci sebagai bentuk protes. Sementara, di jalan-jalan raya, warga membunyikan klakson kendaraan. []

Loading...