Kopi Ayam Merak Tinggal Nama

·
Kopi Ayam Merak Tinggal Nama
Muslem, pemilik UD Ayam Merak. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

sinarpidie.co--Pengolahan bubuk kopi UD Ayam Merak di Gampong Garot Cut, Kecamatan Indrajaya, Pidie, dilakukan di sebuah gubuk berukuran 9 x 10 meter yang beratapkan daun nipah. Pada tahun 1990-an hingga 2000-an awal, Ayam Merak sempat menguasai pasar bubuk kopi di Pidie. “15 tahun yang lalu, kopi merak sangat laku di pasaran. Dalam sehari kami bisa memproduksi seratus kilogram lebih bubuk kopi. Pemasarannya sampai ke Riau, Medan dan beberapa kabupaten di Aceh,” kata Muslem, 45 tahun, pemilik UD Ayam Merak, Sabtu, 15 Februari 2020 pada sinarpidie.co.

Namun dalam beberapa tahun belakangan, seiring dengan kehadiran industri pengolahan kopi modern, UD Ayam Merak semakin tergerus dari pasar. Kini kapasitas produksi UD Ayam Merak hanya sekitar 50 kilogram bubuk kopi. “Karena tak mampu bersaing dengan industri modern,” kata Muslem. “Sekarang pemasarannya hanya di sebagian Kabupaten Pidie saja. Sekarang yang kerja pun hanya dua pekerja.”

Pabrik pengolahan bubuk kopi ini telah berdiri sejak tahun 1995. Usaha tersebut merupakan usaha peninggalan orang tua Muslem. Alat-alat yang digunakan masih sangat sederhana, yaitu alat sangrai biji kopi, alat penggiling, dan belanga. Baik alat sangrai maupun penggiling merupakan rakitan atau bukan mesin sangrai dan mesin penggiling pabrikan.

“Saya membeli biji kopi pada sebuah kedai grosir di Pasar Garot. Jenis biji kopi yang dibeli ialah biji kopi Arabika Gayo,” kata Muslem lagi.

Muslem menjelaskan, bubuk kopi hasil produksi UD Ayam Merak terbagi dalam dua jenis, yakni bubuk kopi tubruk dan bubuk kopi halus atau bubuk kopi saring.

Untuk tahapan pengolahan bubuk kopi tubruk, Muslem menjelaskan, biji kopi terlebih dahulu dijemur selama dua hari. Setelah itu, sebutnya, biji kopi tersebut disangrai. Proses sangrai masih menggunakan kayu bakar.

Proses sangrai tersebut memakan waktu selama empat jam. Lalu, kopi yang telah disangrai itu dikeringkan di tempat yang khusus. “Setelah itu baru dimasukkan k edalam alat penggilingan. Sementara, proses pengolahan bubuk kopi halus, tahapannya, biji kopi yang telah dijemur lalu disangrai dan dicampurkan jagung serta beras. Setelah itu dimasukkan ke dalam alat penggilingan dan ditambahkan gula,” sebut ayah satu anak ini. "Kopi Ayam Merak ada tiga tipe. Tipe 1 harganya Rp 50 ribu per kilogram, itu tidak ada campuran beras dan jagung, hanya kopi dan gula. Selanjutnya, Tipe 2 kopi saring Rp 40 ribu per kilogram dan Tipe 3 Rp 30 ribu per kilogram.”

Ironisnya, Muslem tak bisa lagi menyematkan merek Ayam Merak pada kemasan kopi yang ia produksi karena merek serupa telah terdaftar sebagai merek dagang sebuah produsen kopi di Jakarta. “Padahal merek tersebut lebih dahulu kami miliki. Hanya saja, dulu kami tak mendaftarkan merek tersebut,” tutup Muslem. []

Komentar

Loading...