Buku

Kiri dalam The Red Haired Woman

·
Kiri dalam The Red Haired Woman
Orhan Pamuk. Sumber foto: bbc.co.uk.

Cem masih berusia 16 tahun saat kisah dalam novel The Red Haired Woman (Penerbit Alfred A Knopf, 2017) karya Orhan Pamuk, penulis asal Turki, dibuka dengan mengambil latar waktu 1984. Karena ayahnya, Akın, seorang aktivis gerakan kiri, hidup Cem dan ibunya berantakan: sang ayah dipenjara berkali-kali, dan pria itu harus menjalani hidup di bawah tanah saat kudeta di Turki berlangsung. Toko obat milik keluarga mereka (Hayat), yang juga terletak di kota yang sama di mana apartemen keluarga ini di Kota Basiktas, Istanbul, beralamat, terbengkalai begitu saja.

Hasrat Cem untuk menjadi penulis tumbuh saat ia menjadi penjaga toko buku di Basiktas, Istanbul, pada musim panas 1985. Tugasnya sederhana: menjaga buku-buku di toko itu agar tidak dicuri. Namun, pekerjaan itu harus ia tinggalkan karena Cem membutuhkan uang lebih (gaji menjaga toko buku kecil), semacam biaya untuk mengikuti bimbingan sebelum ujian masuk kuliah. Dia dan ibunya kemudian pindah Gebze, ke tempat bibi dan pamannya.

Bekerja sebentar sebagai penjaga taman milik pamannya di Gebze, Cem bertemu dengan Mr Mahmut, seorang penggali sumur, di taman itu. Usai menemukan sumber air pada sumur di taman tersebut, karena dua dua asisten Mr Mahmut meninggalkannya tanpa alasan, Mr Mahmut lantas menawarkan Cem menjadi asistennya. Cem setuju lalu ia bekerja sebagai asisten  Mr Mahmud untuk menggali sumur di Ongoren.

Di kota itu, pada satu sisi, tujuan hidup Cem, yang menggerakkan cerita dalam novel ini, berubah menjadi lebih personal. Di tempat itu, ia bertemu Gulcihan,  perempuan berambut merah, seorang aktris teater.

Karena narator novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama (Cem sebagai pencerita lalu pada bagian terakhir narator novel ini adalah perempuan berambut merah)—aku— pada titik ini Cem masih mengira perempuan berambut merah, Gulcihan, merupakan seorang gadis yang tinggal bersama orangtuanya dan saudara laki-lakinya, Turgay.

Kelak Cem tahu bahwa Turgay adalah suami kedua perempuan berambut merah itu. Suami pertama perempuan ini adalah abang kandung Turgay, Turhan, yang meninggal dunia tak lama setelah pasangan ini menikah. Cem kelak juga tahu bahwa Gulcihan pernah menjadi pacar ayahnya, Akin.

Sementara, di lain sisi, sumur yang digali Mr Mahmut belum menunjukkan tanda-tanda akan berhasil.

Heyri Bey, pengusaha yang membayar Mr Mahmut dan mengutus Ali—pekerja pada pengusaha itu— untuk bekerja pada proyek tersebut, kemudian menarik Ali dan menghentikan pemberian upah dan logistik karena sumur yang digali Mr Mahmut selama 30 hari tak kunjung bertemu dengan sumber air.

Kendati demikian, Mr Mahmut melanjutkan pekerjaannya berdua dengan Cem meskipun tanpa upah.

Malam sebelumnya, Cem, yang begitu mengagumi Gulcihan atau perempuan berambut merah, tidur dengan perempuan itu.

Belakangan, pembaca akan mendapat informasi dari narator sudut pandang orang pertama, yakni Gulcihan sendiri, bahwa alasan perempuan ini tidur dengan Cem karena Cem mirip dengan ayahnya, Akin, mantan pacar Gulcihan.

Pengalaman membaca Cem di toko buku tempat ia pernah bekerja di Istanbul terbawa hingga ke tempatnya bekerja sebagai asisten penggali sumur (bahkan hingga ke akhir cerita): kisah Odiepus, seorang anak yang membunuh ayahnya lalu menikahi ibu kandungnya.

Mr Mahmut yang enggan menyerah dan bekerja dengan keterampilan tradisional juga punya cerita: Rostam dan Sohrab. Jika Oedipus adalah tentang anak yang membunuh ayahnya sendiri, cerita Rostam dan Sohrab adalah sebaliknya: seorang ayah yang membunuh anaknya.

Kedua kisah ini juga diceritakan sampai tuntas dalam novel peraih Nobel sastra pada 2006 ini: pembunuhan yang terjadi karena mereka (baik ayah yang membunuh anak maupun anak yang membunuh ayah) tidak saling mengenal.

Hal yang sama juga menimpa Cem kelak, saat anaknya, Enver, yang lahir dari hubungannya dengan perempuan berambut merah, Gulcihan, tak sengaja membunuhnya.

Pada hari ke-31 penggalian sumur tersebut, Cem meninggalkan Mr Mahmut di dalam sumur sedalam 25 meter itu sesaat setelah ia menjatuhkan sebuah ember ke dalamnya. Ia mengira ember itu mengenai Mr Mahmut. Berteriak memanggil nama Mr Mahmut berkali-kali tapi tak ada balasan, Cem semakin panik. Ia lantas meninggalkan kota itu dengan menumpangi bis dalam setengah keyakinan bahwa Mr Mahmut telah meninggal dunia.

Usai pemakaman ayahnya pada 2011, yang juga dihadiri oleh rekan-rekannya di dalam gerakan dulu, Cem mendapati kabar dari seorang teman ayahnya, Sırrı Siyahoglu, yang juga hadir pada pemakaman sang ayah bahwa Mr Mahmut tidak meninggal dunia di dalam sumur (pertemuan selanjutnya pada 24 hari setelah pemakaman).

Serpihan informasi tentang Mr Mahmut yang berhasil menemukan air dan menetap di Ongoren hingga ia meninggal dunia sekitar 2007 serta masa lalu perempuan berambut merah dengan sang ayah, Cem peroleh dari teman ayahnya itu. Namun bagi pembaca, informasi details tentang bagaimana Mr Mahmut selamat dari sumur, hubungan Gulcihan dengan ayah Cem, dan bagaimana karir Enver sebagai penyair kanan atau konservatif amat sangat dipengaruhi kedekatan Enver dengan Mr Mahmut, diceritakan oleh Gulcihan pada bagian terakhir novel ini.

Pada 2013, usai anaknya, Enver, mengirimi Cem sebuah surat melalui e-mail dan, setelah berkonsultasi dengan pengacaranya dan mengantongi hasil DNA yang menyatakan bahwa Enver merupakan anak kandungnya, Cem kembali ke Ongoren. Di dekat sumur yang dulu ikut ia gali, Cem mengacungkan sebuah pistol ke arah Enver. Padahal Enver tak berniat membunuhnya. Saat-saat itu, pikiran Cem digayuti kisah Odiepus. Pistol itu lantas direbut oleh Enver lalu Cem meninggal di dekat sumur itu.

Novel ini memiliki sejumlah kelemahan. Pertama, saya agak sulit menerima premis dalam novel ini cukup masuk akal: seorang anak berumur 16 tahun dipengaruhi oleh sebuah buku cerita (Odiepus) padahal pengalamannya menjaga toko buku hanya dalam hitungan bulan.

Baca juga:

Di samping itu, kemiskinan keluarga Cem yang digambarkan pada lembaran-lembaran awal novel ini seperti kemiskinan yang dipaksakan.

Bagi saya, novel yang mengambil latar waktu 1984 hingga 2013 ini dengan latar tempat Istanbul dan Ongoren juga hanya menggambarkan bagaimana orang-orang di dalam gerakan progressif hidup dalam pelarian serta dengan mudahnya meninggalkan keyakinan dan perjuangan mereka saat mereka berada di bawah tekanan rezim junta militer. Namun, sebaliknya, kita takkan memperoleh informasi baik secara implisit maupun eksplisit tentang kontribusi positif mereka bagi Turki di dalam karya teranyar penulis 12 novel itu.

Menurut saya, "Leftist", sepatah kata yang beberapa kali muncul dalam novel ini, hanya dijadikan tempelan: bertemu dengan sesama rekan ideologis secara sembunyi-sembunyi, mendapatkan penyiksaan di penjara, berbicara dengan berbisik-bisik, bersembunyi di tempat pelarian, dan menjadi eksil di Negara lain. Mereka seakan hanya segerombolan orang yang ikut-ikutan memperjuangkan sesuatu, atau melakukan sesuatu tanpa didasari satu kesadaran diri yang utuh.  []

Loading...