Keuntungan Mengubah Pasar Tradisional Menjadi Pasar Modern

·
Keuntungan Mengubah Pasar Tradisional Menjadi Pasar Modern
Abdurrahman A Wahab, seorang pedagang ikan, menunjukkan kondisi drainase Pasar Ikan Kota Bakti yang dibangun pada 2018 lalu. Dok. sinarpidie.co.

Para pedagang di Pidie bukannya tak siap dengan adanya transformasi pasar tradisional menjadi pasar rakyat modern, melainkan bangunan-bangunan yang telah dibangun untuk mereka tempati tak menjawab kebutuhan mereka. Alih-alih menjadi lebih sempurna dan bisa menggerakkan roda perekonomian, pasar-pasar dengan model bangunan modern justru membuat para pedagang semakin berjarak dengan pelanggan atau pembeli.

Atap Pasar Rakyat Padang Tiji, begitu selesai dibangun dengan nilai Rp 5,9 miliar pada 2017 lalu, ternyata mengalami kebocoran. Listrik tak mengalir ke dalam 84 kios di dalam bangunan itu. Sebagian lantai di dalamnya masih berupa semen kasar. Pintu kios ada yang rusak, dan ada yang belum sepenuhnya terpasang. Para pedagang yang kelak menempati kios-kios di sana harus memasang meteran listrik dan memperbaiki pintu kios.

Pasar Rakyat Beureunuen—Rp 4,6 miliar—yang terletak di Pusat Perbelanjaan Beureunuen, Kecamatan Mutiara, Pidie, bahkan sesunyi kuburan umum.

Nasib Pasar Ikan Kota Mini yang terletak di Gampong Lada, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie, lebih menyayat hati daripada Pasar Rakyat Beureuneun dan Pasar Rakyat Padang Tiji. Dua tahun sejak selesai dibangun pada tahun 2019 dengan nilai Rp 2 miliar, pasar ini tak kunjung ditempati para pedagang atau belum beroperasi.

Sebuah pertanyaan sederhana muncul ke permukaan: siapa yang paling diuntungkan dari praktik asal bangun ini?

Baca juga:

Kita tak perlu menjadi seorang ahli ekonomi atau menjadi pejabat di bidang perencanaan pembangunan daerah untuk menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Untung bagi rekanan. Untung bagi konsultan perencana dan pengawas. Untung bagi pengguna anggaran atau kuasa pengguna anggaran, PPK, PPTK, dll (proses pengusulan kegiatan dan penyusunan Dokumen Pelaksanaan Anggaran atau DPA, rapat-rapat, honorarium, perjalanan dinas, tidak gratis). Namun buntung bagi para pedagang.

Tampaknya, menukar sebanyak mungkin lapak dagangan pedagang tradisional dengan bangunan pasar modern akan terus menjadi keuntungan bagi satu pihak tapi selalu menjadi masalah bagi pihak lainnya. Lagi pula, praktik itu kian hari kian lazim. Lagi pula, sejak 2015, aparat penegak hukum di Pidie selalu sibuk dengan kasus-kasus korupsi dana desa. []

Loading...