Bincang

Ketua KONI Pidie: untuk Jangka Panjang, Kita akan Fokus pada Pembinaan Atlit dan Sertifikasi Pelatih

·
Ketua KONI Pidie: untuk Jangka Panjang, Kita akan Fokus pada Pembinaan Atlit dan Sertifikasi Pelatih
Ketua KONI Pidie, Samsul Bahri. (sinarpidie.co/Mutamimul Ula).

sinarpidie.co—Prakualifikasi Pekan Olahragara Aceh (Pra-PORA) adalah pintu masuk untuk mengikuti ajang Pekan Olahraga Aceh (PORA) yang akan digelar di Aceh Besar, pada 2018 mendatang. Setiap atlit yang akan berlaga pada ajang PORA harus terlebih dahulu bertanding di ajang Pra-PORA.

Untuk Pidie sendiri, ada 23 cabang olahraga (Cabor) yang ikut serta dalam ajang Pra-Pora, yang beberapa cabang olahraga tertentu sudah dimulai dipertandingkan dalam beberapa bulan terakhir.

Tim redaksi sinarpidie.co berkesempatan mewawancarai Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pidie, Samsul Bahri, pada 1 Agustus, 2018, di Sigli, Pidie.

Ada berapa cabang olahraga yang akan ikutserta dalam Pra-PORA mendatang?

Untuk Pra-PORA, Pidie akan menurunkan 23 cabang olahraga. Ada beberapa cabang olahraga lainnya yang tidak ikutserta dalam Pra-PORA tapi Kejurda (Kejuaraan Daerah-red). Karena tidak memenuhi kuota. Syarat untuk mengikuti Pra-PORA, harus ada 12 kepengurusan di kabupaten/kota. Di bawah 12, itu dianggap Kejurda. Di PORA dia (cabor) dipertandingkan, tapi di Pra-PORA tidak.

Untuk memaksimalkan hasil pada Pra-Pora, apa langkah-langkah yang dilakukan?

Semua Pengcab (Pengurus Cabang-red) sudah menyiapkan atlitnya untuk Training Centre (TC) jalan dari Januari 2017. Pra-PORA kan tanggalnya berbeda untuk masing-masing cabang olahraga. Pengcab-Pengcab di Pidie sudah berkomitmen untuk melaksanakan TC sejak Januari 2017.

Bagaimana cara mengkonsolidasikan seluruh cabang olahraga di Pidie?

Alhamdulillah, karena di dalam KONI semua pelaku olahraga, jadi para pengurus KONI itu semua saya libatkan. Jadi saya selaku ketua KONI tidak ada kesulitan untuk bekerja dan berkoordinasi.

Apa target Pidie untuk Pra-PORA?

Kita harap bisa meloloskan ke-23 cabang olahraga ke PORA. KONI yang membidangi bidang pembinaan prestasi atlit hanya memonitoring di lapangan, sesuai dengan jadwal yang mereka (cabang olahraga-red) serahkan ke KONI dan program-program latihan yang juga mereka serahkan.

Bagimana persaingan antar kabupaten di Aceh atau kekuatan tim-tim lain di Aceh?

Kita sudah atur strategi untuk semua cabang olahraga. Misalnya, untuk panahan. Untuk melihat kekuatan di seluruh Aceh. Di nomor-nomor apa saja yang di kabupaten lain itu kuat dan tidak bisa kita imbangi. Misalnya di nomor 500 meter, di situ atlit PON (Pekan Olahraga Nasional-red) yang turun, maka kita ambil yang nomor 250 meter untuk target emas kita. Kita punya tim survei untuk pemetaan kekuatan tim di kabupaten-kabupaten yang lain.

Cabang olahraga yang baru kali ini turun Pra-PORA?

Angkat besi dan Futsal.

Tantangan apa yang dihadapi oleh KONI Pidie?

Untuk anggaran, di DPR sudah konek, sudah oke dari dulu. Untuk Pemkab, yang baru, tinggal kita komunikasi lebih instens. Tantangan sekarang adalah atlit-atlit yang kena rayuan dari kabupaten lain, untuk memperkuat daerah tersebut. Karena sekarang, kan, berdasarkan musyawarah KONI Aceh, atlit Aceh boleh memperkuat kabupaten/kota mana pun di Aceh. Tanpa ada urusan administrasi apa pun. Karena si atlit butuh kesejahteraan. Misalnya, di cabor atletik, si atlit itu juara di PON. Ada tawaran di Idi, Aceh Timur. Kamu main di tim Aceh Timur, kamu nanti jadi PNS, rumah tidak perlu sewa. Jadi dia (si atlit) kan akan tergiur. Tapi atlit di luar Aceh yang bisa turun Pra-PORA, syaratnya, dia harus berdomisili selama dua tahun di Aceh.

Kalau dilihat dari pembinaan secara etika, itu sebenarnya tidak bagus. Tapi kan dari sudut pandang kesejahteraan atlit, hal itu harus kita maklumi. Untuk Pidie sendiri, atlit-atlitnya punya nasionalismenya tinggi. Untuk Pidie, bisa dikatakan, baru pada masa Pemerintah Kabupaten di bawah kepemimpinan Sarjani Abdullah dan Ketua Koni sebelumnya, Tgk Wan (Anwar Husen-red), atlit merasakan kesejahteraan. Diberi bonus dan lain-lain.

Untuk pembinaan atlit jangka panjang, apa program KONI Pidie?

Salah satu program kerja KONI Pidie untuk jangka panjang, saya punya program untuk membuat sentralisasi atlit. Dengan ada sentralisasi atlit sejak sekarang, empat tahun ke depan, Pidie bisa memperoleh medali dua kali lipat daripada Pra-PORA tahun ini.

Untuk pelatih?

Untuk semua cabang olahraga di Pidie, kita akan mengirimkan semua pelatih untuk mengikuti lisensi pelatih nasional. Begitu juga wasit. Jadi nantinya, Pidie sudah punya aset, pelatih bersertifikat nasional dan wasit bersertifikat nasional. Jadi, kita pun dalam menjalankan program olahraga di Pidie ini, sudah sangat mudah. Kita tidak buta, tidak meraba-raba lagi. Kalau pelatih sudah punya lisensi nasional, dia otomatiskan sudah punya jaringan. Misalnya, ada perubahan-perubahan teknis di cabang olahraganya, dia tahu, dan dia bisa komunikasi di level nasional. Misalnya nasional punya program baru, si pelatih kan bisa tahu. Diemail, ditelp, disurati, dan lain-lain.

Apa harapan KONI Pidie ke depan?

Fasilitas olahraga di Pidie bisa standar, ya standar internasionallah kalau bisa. Karena kan ke depan kita Aceh, akan mempersiapkan diri untuk jadi calon tuan rumah PON, Aceh-Sumut, 2024. Kita punya kesempatan untuk membangunan fasilitas yang standar internasional karena sumber dananya berasal dari APBN. []

Loading...