Kerupuk Cap 88 di Delima

·
Kerupuk Cap 88 di Delima
Albaihaqi, 38 tahun, warga Gampong Tanjong, Kecamatan Delima, Pidie, pemilik usaha Kerupuk Cap 88. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co- Raseuki bak aneuk rinyuen (rezeki ada pada anak tangga), itulah kalimat yang dilontarkan Albaihaqi, 38 tahun, warga Gampong Tanjong, Kecamatan Delima, Pidie, saat ia mengisahkan perjalanannya merintis usahanya: Kerupuk Cap 88, dengan gambar dua ikan koi, yang diproduksi di Gampong Krueng, Kecamatan Delima, Pidie.

"88 dari tahun kelahiran saya dan istri saya: 1981 dan 1984. Adam nama salah satu anak saya. Koi berarti sodara," kata ayah tiga anak itu, Sabtu, 27 Juni 2020 pada sinarpidie.co.

Kerupuk tersebut telah diproduksi semenjak tiga tahun yang lalu. "Orang tua saya dulu juga membuat kerupuk, tapi untuk konsumsi rumah tangga, bukan untuk dipasarkan," kata Albaihaqi.

Proses produksi kerupuk ini diawali dengan mencampur tepung tapioka, garam, air dan minyak goreng lalu diaduk menjadi adonan. "Pengadukan butuh waktu 30 menit untuk satu sak tepung 25 kilogram. Berikutnya adonan tersebut dikukus dengan ukuran 20 x 15 cm. Proses pengukusan juga memakan waktu 30 menit untuk adonan dari satu sak tepung 25 kilogram," sebutnya. "Setelah adonan dikukus kemudian dijemur selama sehari. Tapi jangan terlalu kering agar bisa dipotong."

Keesokan harinya, adonan tersebut akan dicincang dalam ukuran kecil-kecil. "Setelah dipotong kita jemur lagi dua hari sampai kering," tutur Albaihaqi.

Adonan kecil yang telah dipotong-potong itu, lanjut Baihaqi, harus dijemur sekali lagi hingga benar-benar kering. "Sebelum digoreng kita jemur kembali sehari lagi. Untuk penggorengan juga ada trik agar kerupuk mengembang dengan sempurna," sebutnya, tanpa mengungkap trik tersebut.

Setiap hari, setidaknya dirinya mampu memproduksi kerupuk dengan bahan 150 kg tepung. Ia mempekerjakan 10 pekerja tetap dan 30 pekerja harian lepas. "Enam laki-laki bertugas pada adukan adonan, penjemuran dan penggorengan. Empat perempuan bertugas pada pengukusan dan pemotongan. 30 perempuan lainnya pada pengemasan," tuturnya.

Balok jari dan jengek potong merupakan dua kerupuk olahan dia sendiri, sedangkan jengek bulat, kecipir, mawar, buncis dan makaroni dia beli di pasar untuk selanjutnya ia goreng.

Untuk pemasaran, para agen atau pengepul, akan mengambil produk-produk tersebut di rumahnya. "Mereka yang menjualnya kembali ke kios-kios kecil yang ada di kampung-kampung se-Pidie dan di luar Pidie," katanya.

Dalam seminggu, omzet yang ia raup sekitar Rp 20-25 juta rupiah. Di kios-kios, kerupuk dalam kemasan lebih kecil dari telapak tangan itu dijual Rp 500 per kemasan. []

Loading...