Dunia

Kemenangan Mahathir dalam Pemilu dan Jalan Anwar Ibrahim Menuju Kursi Perdana Menteri Malaysia

·
Kemenangan Mahathir dalam Pemilu dan Jalan Anwar Ibrahim Menuju Kursi Perdana Menteri Malaysia
Mahathir Mohamad dan Anwar Ibrahim. Sumber foto: asianaffairs.in.

sinarpidie.co—Mahathir Mohamad, 92 tahun, mengalahkan koalisi Barisan Nasional yang dipimpin Perdana Menteri (PM) Najib Razak dalam pemilu ke-14 yang digelar Rabu, 9 Mei 2018.

Mantan Perdana Menteri Malaysia terlama itu (memerintah Malaysia selama 22 tahun) telah dilantik sebagai Perdana Menteri Malaysia ke 7 pada 9 Mei 2018.

Barisan Nasional

BN merupakan koalisi partai yang menguasai Malaysia selama 60 tahun, sejak Malaysia merdeka dari Inggris

Dilansir dari detik.com, Koalisi BN yang sebelumnya bernama Parti Perikatan, telah mendominasi pemerintahan Malaysia sejak negara itu meraih kemerdekaan dari Inggris tahun 1957 silam.

Koalisi ini didominasi oleh Partai United Malays National Organisation (UMNO), partai terbesar di Malaysia, yang pernah dimotori Mahathir.

“Semakin ironis karena dalam pemilu ini, Mahathir mengalahkan UMNO yang pernah dipimpinnya selama dua dekade. Mahathir keluar dari UMNO tahun 2016 dan membentuk partai baru bernama Parti Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM). Dia berkoalisi dengan mantan rival politiknya, Anwar Ibrahim, yang juga tokoh oposisi ternama Malaysia untuk melengserkan PM Najib. Mahathir sendiri pernah memimpin koalisi BN meraih lima kemenangan dalam pemilu antara 1982 hingga 1999 lalu,” demikian detik.com.

Seteru Anwar Ibrahim dan Mahathir

Dilansir dari kompas.com, Anwar Ibrahim adalah mantan wakil Mahathir pada 1 Desember 1993 hingga 2 September 1998. Mahathir memecatnya dengan tuduhan sodomi. Kemudian di 2013, Anwar mendapat vonis penjara selama lima tahun atas tuduhan yang sama. Dia bakal bebas pada 8 Juni mendatang.

“Meski bebas, hak berpolitik Anwar dibekukan hingga lima tahun ke depan, kecuali dia menerima pengampunan dari Yang di-Pertuan Agong Muhammad V dari Kelantan,” demikian kompas.com.

Raja Malaysia, Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, telah setuju untuk memberikan pengampunan penuh kepada Anwar Ibrahim.

"Agong telah memberi tahu (sekretaris jenderal DAP-Democratic Action Party) Lim Guan Eng bahwa dia telah setuju untuk memberikan pengampunan penuh kepada Anwar," kata Mahathir seperti yang dilansir dari sindonews.com.

“Anwar adalah sosok yang tetap populer di kalangan pendukung oposisi, dan syarat mereka untuk memberikan kepemimpinan koalisi oposisi kepada Mahathir adalah dia setuju untuk mengusahakan pengampunan terhadap Anwar. Mahathir setuju, dan lebih lanjut mengatakan dia akan menyerahkan pos perdana menteri ke Anwar dalam dua tahun,” demikian dikutip dari bbc.co.

Dikutip dari detik.com, untuk duduk di kursi perdana menteri, setidaknya Anwar harus menang dalam pemilu sela atau terpilih menjadi senator untuk bisa mengambil alih kursi yang kini diduduki Mahathir. 

“Opsi lainnya datang dari istri Anwar, Wan Azizah Wan Ismail, yang menjadi anggota parlemen dan kini menjabat Wakil PM Malaysia. Dalam wawancara dengan Channel News Asia awal tahun ini, Wan Azizah menyatakan akan mundur atau menyerahkan kursi parlemennya di daerah pemilihan Pandan kepada suaminya, yang berarti membuka jalan untuk pemilu sela. Sebagaimana diketahui, Anwar merupakan Ketua de facto Parti Keadilan Rakyat (PKR), yang saat ini dipimpin Wan Azizah. Informasi terbaru dari putri Anwar, Nurul Izzah, menyebut Anwar akan bebas pada Selasa (15/5) mendatang,” demikian detik.com.

Sementara di lain pihak, Najib Razak merupakan bekas anak didiknya, yang menjadi PM selama 9 tahun terakhir.

"Keduanya berseteru setelah terungkapnya skandal dugaan korupsi 1MDB, yang melibatkan uang publik triliunan rupiah," demikian tempo.co.

Loading...