Kejanggalan-Kejanggalan dalam Penanganan Kasus Pengibaran Bendara Bulan Bintang di Glee Gapui

·
Kejanggalan-Kejanggalan dalam Penanganan Kasus Pengibaran Bendara Bulan Bintang di Glee Gapui
Kuasa hukum Nasruddin, 43 tahun, dan Zulkifli, 35 tahun, dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh, Syahrul SH MH dan Arabiyani SH MH, dalam konferensi pers di Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pidie, Selasa, 16 Februari 2021. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

sinarpidie.co — Hak-hak terdakwa kasus tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara dan ujaran kebencian melalui media sosial, Nasruddin, 43 tahun, dan Zulkifli, 35 tahun, ditengarai telah dilanggar selama proses hukum keduanya berjalanan.

Hal tersebut disampaikan kuasa hukum kedua terdakwa dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh, Syahrul SH MH dan Arabiyani SH MH, dalam konferensi pers di Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pidie, Selasa, 16 Februari 2021.

“Setiap pelimpahan perkara ke tahap selanjutnya tidak pernah diberitahukan kepada penasehat hukum kedua tersangka. Padahal, keduanya sudah menunjuk LBH Banda Aceh sebagai penasehat hukum berdasarkan surat kuasa yang ditandatangani tertanggal 8 Desember 2020.  Sebagai contoh, pelimpahan perkara dari penyidik polisi kepada jaksa penuntut umum. Kedua, begitu juga saat pelimpahan perkara oleh jaksa penuntut umum atau JPU kepada Pengadilan Negeri Sigli. JPU tidak memberi tahu kepada keduanya atau kuasa hukum mereka. Praktik seperti ini bertentangan dengan aturan hukum acara pidana atau KUHP, sebagaimana telah diatur dalam pasal 143 ayat 4,” kata Syahrul, menjelaskan.

Pada Selasa, 26 Januari 2021, kedua terdakwa tiba-tiba dikeluarkan dari dalam sel Rutan Kelas II B Sigli, tempat mereka ditahan, untuk disidangkan tanpa surat pemberitahuan terlebih dahulu.

“Seharusnya surat pemberitahuan penyidangan perkara sudah disampaikan kepada terdakwa tiga hari sebelum persidangan dilangsungkan, sebagaimana diatur dalam pasal Pasal 146 ayat 1 KUHAP yang berbunyi: Penuntut umum menyampaikan surat panggilan kepada terdakwa yang memuat tanggal, hari, serta jam sidang dan untuk perkara apa ia dipanggil yang harus sudah diterima oleh yang bersangkutan selambat-lambatnya tiga hari sebelum sidang dimulai,” tutur Syahrul.

Kejanggalan fatal lainnya adalah dugaan pemalsuan surat berita acara penolakan untuk didampingi oleh penasehat hukum dari kedua terdakwa, yang dilampirkan dalam tanggapan jaksa penuntut umum atas eksepsi/keberatan terdakwa/penasehat hukum terdakwa.

“Surat ini tidak pernah ditandatangani oleh para terdakwa. Kami menduga ada pihak yang melakukan pemalsuan surat tersebut. Dugaan pemalsuan surat ini adalah tindak pidana,” sebut Syahrul.

LBH, katanya, sudah meminta majelis hakim PN Sigli, melalui surat yang disampaikan langsung dalam persidangan pada Selasa, 16 Februari 2021 tadi, untuk menghentikan proses atau menunda proses peradilan perkara ini dan mengusut tuntas dugaan tindak pidana pemalsuan surat ini terlebih dahulu.

“Namun, majelis hakim tetap memutuskan melanjutkan proses persidangan dengan agenda pembuktian pada minggu depan. Mengingat dugaan tindak pidana pemalsuan surat ini dilakukan dalam dan untuk kepentingan persidangan perkara ini, hakim sudah seharusnya menghentikan perkara terlebih dahulu dan mencari kebenaran terhadap surat tersebut. Karena tidak mungkin persidangan dilakukan melalui cara-cara yang merendahkan wibawa pengadilan atau contempt of court,” tutupnya.

Baca juga:

Pada Minggu, 11 Oktober 2020, sekitar pukul 17.00 WIB, Nasruddin dan Zulkifli memasang spanduk bertuliskan: “Kamoe simpatisan ASNLF, menuntut Aceh pisah deungoen Indonesia, Acheh Merdheka” dengan latar bendera berwarna merah bergaris hitam dengan gambar bulan dan bintang berwarna putih, yang diikat pada dua bilah bambu di Jalan Umum Gampong Glee Gapui, Kecamatan Indrajaya, Pidie, dan di Gedung Non Gelar Teknologi Universitas Jabal Ghafur Gampong Glee Gapui, Kecamatan Indrajaya, Pidie.

Pemasangan spanduk tersebut dilakukan atas perintah Nasir Usman, 55 tahun. Nasir meminta Nasruddin merekam proses pemasangan spanduk lalu mengirimkan hasil rekaman tersebut pada Asnawi Ali, 45 tahun. Rekaman video pemasangan spanduk tersebut selanjutnya diunggah oleh Asnawi Ali melalui akun youtube Asnawi Ali dengan judul “SPANDUK ACEH MERDEKA DIPAJANG DI UNIGHA”.

Selasa, 27 Oktober 2020 Nasruddin dan Zulkifli diamankan oleh pihak kepolisian Polres atas dugaan tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara dan ujaran kebencian melalui media sosial.

Hingga berita ini diturunkan, sinarpidie.co belum memperoleh konfirmasi baik dari pihak kepolisian, kejaksaan, maupun dari PN Sigli. []

Loading...