Cerita pendek

Kedai Kopi

·
Kedai Kopi
Ilustrasi. Sumber foto: kumparan.com.

LAKI-LAKI itu berada di keude, barisan lima kedai yang saling menyatu antara satu dan lainnya dan hanya dibatasi oleh sekat-sekat tripleks.

Kedai kopi yang tadinya dipenuhi dengan gelak-tawa dan obrolan, tiba-tiba senyap saat dia melemparkan salam pada seluruh isi kedai. Namanya memang mashyur di kampung ini. Tak ada bocah yang tak mengenalnya. Mereka kagum padanya karena desas-desus tentang keberaniannya. Mereka mengelu-elukan laki-laki yang memiliki nama julukan Rambo itu.

Dia menatap ke meunasah yang terletak di depan kedai kopi itu. Dilihatnya mimbar di depan sana, di samping beduk kulit sapi, yang masih tertempel hiasan karton yang berwarna-warni. Ada dua huruf yang terbuat dari karton di mimbar tersebut, yaitu M dan Q.

Rambo, yang berperawakan tinggi-besar dengan bulu-bulu halus tumbuh di sekujur dadanya yang bidang, meraih sebuah kursi plastik di pojok kedai tersebut. Satu per satu orang-orang di kedai itu menarik diri. Hanya satu-dua orang yang tersisa.

“Sudah sampai sejauh mana perjuangan kita, Bang Rambo?” tanya seorang pemuda. Rambut si pemuda belah tengah. Penampilannya rapi-jali.

Dia senang dipanggil Rambo. Nama aslinya Husaini.

“Sebatang rokok lagi,” katanya sambil membenarkan letak sebuah benda yang mencuat di balik kemejanya, “penderitaan kita akan berakhir.”

Pemuda itu terpaku dengan mulut ternganga bukan karena kata-kata Rambo, melainkan karena melihat sesuatu yang mencuat di pinggang Rambo.

Kopi pesanan Rambo datang bersama kue lapis, adee, payeh, dan risol. Ia pesan pula mie goreng. Lama sekali Rambo tak pernah makan enak.

“Ayo minum! Kue.”

“Tak usah, Bang. Aku mesti ke sekolah sebentar lagi. Lagi ujian.”

Pemuda itu pun pergi. Rambo mengambil HT yang tersampir di pinggangnya. Ia mencoba sebuah frekuensi rahasia. Kalau tidak dicoba berkali-kali, HT terkutuk itu sering tidak berfungsi.   

“Jika tempo hari dia yang mewakili kabupaten, pastilah dia yang juara,” bisik seorang pria berumur 60-an kepada lawan bicara di depannya.

Pria itu mencuri-curi pandang ke arah Rambo.          

“Iya, padahal jelas suaranya yang paling merdu. Iramanya sempurna! Pendek-panjangnya pas! Kalau tidak salah kan dia yang juara I. Tapi malah keponaan Pak Camat Ali yang ikut ke Sigli,” balas si lawan bicara pria itu dengan berbisik pula.

“Kau tahu, anak itu dulu tak pernah membantah saat kusuruh beli rokok. Dia malah tolak uang kembalian yang kuberikan padanya,” kata pria itu lagi.

Meski samar-samar, Rambo mendengar bisikan kedua orang itu. Dia bangga karena dibicarakan. Namun demi menjaga wibawanya, dia memandang tajam ke arah mereka yang membicarakannya.  Kedua pria itu menyulut rokok kretek mereka secara bergantian sebelum meninggalkan kedai kopi. Seraya membalikkan badan, mereka mengangkat tangan kanan dan menyunggingkan senyum kepada Rambo.

Orang-orang di kedai kopi tahu, pemuda tanggung yang mereka panggil Rambo dan kadang-kadang bisa menjadi galak ini dulunya adalah seorang qari. Dia piawai mengaji dan beberapa kali mengikuti sayembara MTQ tingkat kecamatan.

Sebagai seorang qari dia pernah berharap mengharumkan nama kampungnya. Lebih jauh dari itu, dia ingin suaranya yang melatunkan ayat-ayat suci Al Quran direkam dan didengarkan oleh orang-orang melalui radio. Tapi sore itu, impiannya kandas. Posisinya tersingkir oleh keponakan Pak Camat Ali yang hanya juara harapan I saat MTQ tingkat kecamatan.

Rambo baru tahu perihal itu setelah dua hari kepulangan tim MTQ kecamatan yang tak membawa pulang satu pun piala.

“Husaini,” kata Teungku Amat, pembimbingnya suatu hari, “mengapa kau tak pernah pergi mengaji lagi?”

Ditanya seperti itu, Rambo menahan tangis. Bola matanya yang cokelat itu berkaca-kaca. Dia sebenarnya juga kecewa pada Teungku Amat meskipun alasan kekecewaannya tidak begitu jelas, karena bukan Teungku Amat yang menjadi penyebab kegagalannya mengikuti sayembara di tingkat kabupaten.

“Bahkan saat salat magrib pun kau tak ada di meunasah,” ucap Teungku Amat lagi.

Rambo membisu.

“Pak Camat berpesan padaku,” ujar Teungku Amat untuk kesekian kalinya pada Rambo, “tahun depan, kalah atau menang di MTQ tingkat kecamatan, kau yang akan dibawa ke Kota Sigli.”

Rambo menanggapi ucapan gurunya dengan agak kasar.  “Saya tak akan pernah percaya pada camat itu lagi, Teungku.”

Seturut waktu berlalu, Rambo mulai pulih dari rasa kecewanya. Dia mulai menampakkan lagi batang hidungnya di meunasah. Dalam hati kecilnya, dia masih berharap apa yang dikatakan oleh Teungku Amat ihwal MTQ tahun depan bukanlah omong kosong belaka.

Namun MTQ tahun lalu itu ternyata MTQ terakhir yang diselenggarakan. Beberapa bulan setelah kunjungan Teungku Amat ke rumah Rambo, guru mengaji itu menutup balai pengajiannya. Itu karena balai pengajian Teungku Amat berubah menjadi tempat orang-orang berkhotbah tentang peran agama dalam perjuangan kemerdekaan.

Penyelenggara khotbah tidak pernah kehabisan pembicara. Selalu ada juru khotbah yang baru. Ada yang menarik, karena diselingi humor, dan ada juga yang mengancam.

Ada seorang juru khotbah yang sangat disukai jemaah remaja itu.  Seorang pria bertubuh gemuk. Ketika dia berbicara, perlu diletakkan beberapa tumpuk batu-bata, sebab bila tidak, dari atas mimbar, yang tampak hanya bagian dagunya ke atas. Setiap gilirannya tiba, biasanya pada malam Selasa, mata remaja-remaja itu tak berkedip saat mendengarnya bicara. Dia jarang sekali memberikan contoh tentang ketabahan para nabi Allah dalam bertahan mengatasi angkara murka sebagaimana pengkhotbah lain.

“Sawah, sawah kita sendiri,” kata lelaki itu suatu malam. “Tapi mengapa orang lain yang garap?”

Hadirin remaja yang berjumlah puluhan itu terdiam. Lelaki itu selalu punya jawaban atas pertanyaannya sendiri. 

“Jadi kita harus merebut kembali sawah kita. Tapi, anak-anakku itu tidak mudah. Kalian pikir mereka akan memberikannya begitu saja? Tidak. Seekor monyet bahkan akan mempertahankan mati-matian sebiji pisang yang dicurinya dari ibu kita.”

Pemuda-pemuda itu tertawa mendengar kata-katanya. Lalu tiba-tiba terdengar sebuah pertanyaan dari sudut balai pengajian, “Teungku, ayo katakan bagaimana cara merebutnya?”

“Dengar itu, anak-anakku. Dengar! Kita harus merebut hak kita dengan senjata.”

“Apakah kami akan diberikan senjata?” tanya seorang pemuda. 

Juru khotbah itu mengangguk.

“Kapan?”

“Malam ini kalian siap, malam ini senjata kita kirimkan. Tapi untuk memelihara seekor kerbau kita butuh seutas tali. Begitu pula untuk terampil mempergunakan senjata, kalian butuh latihan. Jika tidak, kalian akan menembak ibu kalian sendiri.”

Malam itu mereka mendaftar untuk mendapatkan sepucuk senjata, seragam, dan topi. Rambo berpikir, menjadi seorang gerilyawan bisa membuatnya menjadi sosok yang diperhitungkan dan disegani, termasuk diperhitungkan oleh Camat Ali. 

Rambo membayangkan dirinya memegang senjata laras panjang, memakai seragam, dan sekurang-kurangnya mengepalai satu regu. Tapi itu tak menjadi kenyataan. Uangnya tidak pernah cukup untuk membeli sepucuk senjata. Dia juga belum punya keberanian untuk merebut senjata musuh, suatu saran yang disampaikan komandannya bagi mereka yang tidak sanggup membeli senjata sendiri.  

Selama tiga tahun, dia hanya bertugas memegang HT dan kadang-kadang dipinjami pistol apabila pasukannya sedang menyerang pos tentara.

PADA suatu siang, Rambo dan teman-temannya mempersiapkan serangan pada tentara yang berpatroli.

“Sudah kau tutup ranjau-ranjau itu dengan rapi, Husaini?” tanya komandan yang mengemandoi regunya itu.

Rambo mengangguk sembari menyeka keringat di wajahnya.

Sang komandan menerawang ke arah daun-daun kelapa kering yang menutupi lubang-lubang yang tadi digali Rambo.

“Coba kau hidupkan HT lagi Husaini, sudah sampai di mana tentara?” ujar sang komandan lagi.

Sesaat kemudian, setelah mendapatkan informasi dari barisan pengintai, dengan mimik wajah yang tegang,  komandan itu berkata, “Syukri dan Abdullah, di bawah. Yang lain ikut aku ke atas!”

Syukri dan Abdullah bersembunyi di belakang deretan perdu bambu di pinggir jalan, sedangkan yang lain sudah mengambil posisi masing-masing, membidik moncong senjata mereka ke bawah.

Dari atas, tampak puluhan truk reo mendekati posisi Syukri dan Abdullah.

Tembakan pelontar granat yang dipegang oleh Abdullah mengenai truk reo tentara paling depan. Truk tersebut terjungkal sehingga tentara yang ada di bak terbuka di belakang juga ikut terpental. Lalu, tabrakan beruntun pun tak bisa dielakkan. Dari atas bukit, rentetan senjata menyalak dan peluru berhamburan ke arah bak terbuka truk-truk reo di belakang truk reo yang terbalik dan saling bertabrakan tadi.

Tentara membalas tembakan ke atas bukit seperti hujan deras. Begitu juga ke arah Syukri dan Abdullah, yang gagal meloloskan diri dari serangan balasan itu. Mereka terkapar di dekat pematang sawah.

Dua truk reo tersuruk ke dalam lubang yang ditutup dengan daun kelapa tadi. Saat serdadu-serdadu yang lain mencari tempat berlindung untuk menghindari peluru-peluru yang berasal dari atas bukit, mereka turun dari bak terbuka truk-truk reo, lalu satu per satu terkena ranjau.

Rambo tiarap seraya beristigfar. Tak satu pun peluru meletus dari pistolnya. Wajahnya menelungkup di tanah di belakang batang pohon nangka.

Saat tak ada lagi tembakan balasan dari bawah, teman-temannya menyisir lokasi. Mereka mengambil apa pun yang bisa diambil.

“Husaini, bangun!” kata seorang teman Rambo, “tempatmu memang bukan di sini, tapi  di atas panggung, mengaji!”

“Cepat bodoh!” kata sang komandan, “pasukan tambahan tentara pasti segera datang!”

“Komandan, Syukri…,” ujar Rambo terbata-bata sambil menunjuk ke arah mayat Syukri dan Abdullah.

“Waktu kita tidak banyak,” kata sang komandan.

Rambo beristigfar lagi!

Rambo mengabaikan perintah sang komandan. Dia menghampiri mayat dua temannya dan menutup wajah mereka dengan daun pisang yang ditebasnya dari pohon pisang di ladang di dekat tempat itu. Rambo menutup wajah kedua temannya itu.

Tidak jauh dari gelanggang itu, seorang peladang mengendap-ngendap dari balik semak-semak usai kontak senjata reda. Si peladang itu berpas-pasan dengan Rambo.

Si peladang kaget saat melihat mayat-mayat tentara yang berhamburan di tanah. Dia berlari tunggang-langgang, pulang ke rumahnya. Si peladang itu mengira hanya Rambo seorang diri yang terlibat dalam pertempuran itu. Lalu, tersiarlah kabar dari mulut ke mulut: Husaini menghabisi puluhan tentara. Sejak saat itulah, nama Rambo melekat padanya.

USAI menandaskan mie dan kue-kue, Rambo melihat ke luar kedai untuk sekadar memantau keadaan. Kedai kelontong, kedai ikan, dan juga bengkel, yang bersebelahan dengan kedai tempat dirinya melepas lelah, semuanya tutup. 

Rambo bisa melihat betapa khawatirnya pemilik kedai kopi, Bang Usman. Di kampung-kampung lain, satu deret keudee dibakar hanya karena seseorang seperti dia mampir sebentar untuk kencing. 

Bang Usman duduk di balik dapur pemanas air. Terdengar api berderak-derak dan suara desis kompor.

Siang merangkak menuju petang. Tentara yang biasanya berpatroli di daerah ini belum juga menampakkan batang hidung mereka.

Rambo masuk dan menyandarkan tubuhnya pada dinding tripleks kedai itu seraya memandang hampa ke luar.  Matanya berat, tapi ia tak mau tertidur di tempat ini. Bunuh diri namanya, gumamnya.

Baca juga:

Beberapa waktu kemudian, Bang Usman mendengar deru truk reo. Ia bangkit dari tempat duduknya, meraih daun pintu kedainya, menutupnya rapat-rapat, lalu masuk ke dalam kedai secepat cahaya.

“Buka pintunya!” kata seorang tentara di depan pintu kedainya.

Tiga puluh tentara memadati kedai Bang Usman. Mereka mengitari kedai kopinya dan membuka paksa kedai-kedai yang lain.

“Itu siapa?”

Bang Usman menyilangkan jari telunjuknya di dahi, “Husen, Pak.”

“RAMBO, bangun! Bangun!”

“Jam berapa sekarang?” Rambo bertanya dengan suara yang berat dan parau.

“Jam empat!”

“Tadi ada banyak tentara di depan. Jika mereka tahu yang tidur itu kau, habislah aku, Rambo! Habis! Kumohon pergilah sekarang. Aku benar-benar ingin tutup!”

“Bodoh,” kata Rambo sambil memukul meja, “mengapa Abang tidak bangunkan aku?”

“Apa kau bilang?” Bang Usman mengepal tinju. Urat-urat wajah dan lehernya tampak jelas tatkala menjawab pertanyaan Rambo. Ia bicara sambil menggertakkan gigi. 

“Aku ke sini untuk menghabisi mereka, Bodoh. Gagal rencanaku!”

“Kau gila Rambo. Gila!”

Rambo menarik kerah baju Bang Usman, “Pergi ke mana pai-pai itu sekarang? Mestinya kau bangunkan aku. Harusnya sudah tamat riwayat mereka.”

Bang Usman menunjuk ke arah mana truk-truk tentara itu pergi. Dengan mendengus kesal, Rambo mengikuti jalan itu. []

 

Catatan:

1.      Meunasah : Surau

2.      Keude         : Kedai atau pasar

3.      Pai                : Sebutan untuk tentara sewaktu konflik politik antara Aceh dan Pemerintah Indonesia masih berlangsung

4.      Teungku     : Sebutan bagi guru mengaji atau orang alim.

 

 

Loading...