Kasus Dugaan Tindak Pidana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di RSUD TCD Masuki tahap Penyelidikan

·
Kasus Dugaan Tindak Pidana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di RSUD TCD Masuki tahap Penyelidikan
TPS Limbah B3 RSUD TCD, yang menyimpan limbah infeksius, sama sekali tidak memenuhi standar yang diatur di dalam peraturan perundang-undangan. Seharusnya limbah B3 infeksius, patologis, dan tajam, harus disimpan pada ruang tertutup dengan temperatur lebih besar dari nol derajat celcius. Foto direkam pada Jumat, 19 Februari 2021 siang. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co — Kasus dugaan tindak pidana perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di RSUD Teungku Chik Ditiro (TCD) Sigli memasuki tahap penyelidikan di Polda Aceh.

“Masih dalam proses penyelidikan oleh Ditreskrimsus Polda Aceh,” kata Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Winardy, Kamis, 25 Maret 2021.

Namun Kombes Winardy enggan menjawab berapa jumlah saksi yang telah dipanggil. Sebelumnya, pada Februari 2021 lalu, Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Winardy, mengatakan pihaknya saat itu masih melakukan pendalaman informasi dan pengumpulan dokumen terkait yang relevan. “Belum ada pihak yang kita klarifikasi saat ini. Penyelidik Krimsus harus memvalidkan data terlebih dahulu sebelum mengambil langkah penyelidikan dan klarifikasi pihak-pihak terkait,” katanya pada sinarpidie.co, Rabu, 24 Februari 2021 lalu.

Penyimpanan sementara limbah B3 infeksius, patologis, dan tajam RSUD Teungku Chik Ditiro Sigli dilakukan di TPS Limbah B3 yang terbuka tanpa alat pendingin atau cold storage atau freezer agar temperatur untuk penyimpanan limbah B3 infeksius, patologis, dan tajam, memenuhi standar pengelolaan limbah B3 kategori satu.

Selain itu, pengoperasian insinerator di RSUD TCD sebenarnya belum mengantongi izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Namun, karena didasari pandemi Covid-19, KLHK memberikan izin sementara penggunaan insinerator tersebut pada 25 Agustus 2020.

Insinerator RSUD TCD—Tesena TSN96XX IC series 9610IC— hanya memiliki satu ruang bakar atau chamber. Sebagian limbah B3 infeksius dimusnahkan dengan mesin insinerator dalam dua hari sekali, sementara sebagian lainnya diangkut dan dimusnahkan oleh pihak ketiga.

Untuk pengangkutan limbah B3, RSUD TCD bekerjasama dengan PT Cahaya Tanjung Tiram Perkasa. Pemusnahan limbah B3 RSUD TCD dilakukan PT Wastec International.

“Pengangkutan dilakukan dua kali sebulan disesuaikan dengan jadwal dari pihak ketiga tersebut ke Aceh,” kata Wadir SDM RSUD TCD, dr Ikhsan Sp OT, lewat keterangan tertulis. “Jumlah pengangkutan limbah dalam sebulan rata-rata 3.100 kilogram.”

Baca juga:

Padahal, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor: P.56/Menlhk-Setjen/2015 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Pengelolaan limbah B3 dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan mengatur bahwa penyimpanan limbah B3 infeksius, patologis, dan tajam paling lama 2 hari pada temperatur di atas nol derajat celcius atau 90 hari pada temperatur lebih kecil dari nol derajat celcius di ruang berpendingin.

Biaya yang dikeluarkan RSUD TCD untuk pengangkutan limbah B3 pada tahun anggaran 2020, kata dr Ikhsan, adalah Rp 1.655.923.500.

Per hari, RSUD TCD memproduksi 100 hingga 130 kilogram limbah infeksius, salah satu limbah Bahan Beracun Berbahaya (B3) kategori satu atau limbah B3 yang berdampak akut dan langsung terhadap manusia. []

Loading...