Kakak Beradik Pembuat Alat masak Tradisional dari Gampong Dayah Tanoh Klibuet

·
Kakak Beradik Pembuat Alat masak Tradisional dari Gampong Dayah Tanoh Klibuet
Faridah, 50 tahun, warga Gampong Dayah Tanoh, Kemukiman Klibeut, Kecamatan Indrajaya, pembuat alat masak tradisional dari tanah liat. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

sinarpidie.co--Faridah, 50 tahun, warga Gampong Dayah Tanoh, Kemukiman Klibeut, Kecamatan Indrajaya, Pidie semenjak kecil telah membantu orang tuanya membuat alat masak tradisional dari bahan baku tanah liat dan pasir di rumahnya. Kini, usaha itu diteruskannya bersama dengan Nuriah, 43 tahun, yang juga adik kandungnya.

Menurut Faridah, proses pembuatan alat masak tradisional harus melalui beberapa tahapan. Pertama mencari bahan baku tanoh kleut (tanah liat) dan pasir. Kemudian membuatnya. Lalu menjemur selama lima sampai enam hari. Terakhir membakarnya.

“Kami mengambil bahan baku tanah liat di Glee Meutareum, Kecamatan Mila. Tanah  liat harus digali dengan kedalaman 50 sentimeter,” kata Faridah, Sabtu, 7 Maret 2020.

Selanjutnya, kata ibu lima anak itu, tanah liat tersebut diangkut dengan mobil pick up untuk dibawa pulang ke rumah sekaligus bengkelnya. Ongkos angkut tanah dari Muetaruem ke rumah dihargai Rp 20 ribu per karung.

“Satu karung tanah bisa menghasilkan 100 unit lebih ceuprok tet apam. Kalau untuk belanga sedang tidak sampai sejumlah itu hasilnya, paling sekitar 50 unit belanga,” kata Faridah.

Sementara bahan baku pasir, kata Faridah, diperoleh dari Sungai Garot. Agar pasir terikat dengan tanah pada saat dibentuk, pasir yang diambil haruslah pasir yang tidak terlalu halus.

“Cara membuatnya, tanah liat dan pasir dicampur, lalu dimasukkan ke dalam cetakan, kemudian dipukul pelan-pelan dengan kayu agar terbentuk dengan rapi,” kata Faridah lagi.

Tahapan selanjutnya, sambung Faridah lagi, belanga yang sudah jadi itu dijemur salama lima sampai enam hari. Sesudah kering baru kemudian dilakukan pembakaran. Proses pembakarannya membutuhkan waktu selama lima jam.

“Perajin alat masak tradisional di Gampong Dayah Tanoh saat ini tinggal lima orang lagi. Selain di sini, para perajin alat masak tradisional ini juga bisa ditemukan di Gampong Puuk, Kecamatan Delima, Pidie,” sebut Faridah.

Menurut Faridah, jenis alat masak tradisional yang sudah dihasilkannya ialah ceuprok tet apam, ceuprok lincah, belanga besar, belanga kecil untuk masak kuah, dan belanga lainnya yang dibuat sesuai pesanan.

Untuk saat ini, kata Faridah, jenis alat masak tradisional yang paling banyak dipesan adalah ceuprok apam, karena sekarang sudah masuk bulan tet apam, di mana banyak penduduk menyambutnya dengan membakar penganan tersebut. “Satu unit ceuprok apam kami jual Rp 15 ribu,” tutup Faridah. []

 

Loading...