Kacang Hijau di Blang Ie Delima

Kacang Hijau di Blang Ie Delima
Nurdin, 54 tahun, warga Gampong Meunasah Dayah, yang menanam kacang hijau di sawahnya di Blang Ie. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

sinarpidie.co - M Gade, 53 tahun, warga Gampong Meunasah Dayah, Kemukiman Beuah, Kecamatan Delima, Pidie, sedang membersihkan gulma atau rumput dengan menggunakan sabit di dalam sawahnya seluas satu naleh (satu hektare terdiri dari empat naleh), Sabtu, 29 Mei 2021 kemarin.

Tanaman kacang hijau miliknya tumbuh dengan jarak 50 sentimeter di atas bedengan selebar dua meter. Parit-parit, dengan lebar 50 sentimeter, membelah bedengan-bedengan di sana. Gulma nyaris menutupi tanaman-tanaman kacang hijaunya yang memiliki tinggi 70 sentimeter. Itu sebabnya M Gade harus membersihkan rumput-rumput tersebut, karena tikus akan beranak-pinak di antara semak-semak gulma tersebut jika mereka tidak dibersihkan.

Sebagian tanaman kacang hijaunya gagal tumbuh atau mati karena tergenang air pada saat tanaman baru tumbuh satu jengkal atau baru berumur dua minggu setelah tanam. “Yang tersisa hanya sebagian tanaman. Semua petani di sini mengalami hal yang sama,” kata M Gade, Sabtu, 29 Mei 2021.

Setelah tanaman kacang hijau dihantam banjir, M Gade dan petani kacang hijau lainnya di Gampong Meunasah Dayah saat ini sedang menghadapi serangan hama tikus.

Nurdin, 54 tahun, warga Gampong Meunasah Dayah, mengatakan intensitas serangan hama tikus pada tanaman semakin meningkat memasuki masa panen sejak dua pekan yang lalu.

Meningkatnya serangan hama tikus, kata Nurdin, ditandai dengan banyaknya biji kacang hijau yang masih muda jatuh ke tanah. Selain itu, katanya, dahan-dahan kacang hijau juga banyak yang patah akibat serangan tersebut.

“Saat tanaman sudah berbuah, tikus mulai datang untuk merontokkan buah ke tanah,” kata Nurdin, yang menanam kacang hijau di sawah seluas 10 are, Sabtu, 29 Mei 2021.

Sore kemarin, sejumlah petani kacang hijau di Blang Ie, Gampong Meunasah Dayah, sedang memetik kacang hijau yang sudah memasuki masa panen kedua. Blang Ie adalah hamparan sawah yang dikelilingi saluran irigasi teknis. Letaknya sekitar 100 meter dari pemukiman penduduk Gampong Meunasah Dayah.

Petani di sana tidak menanam padi pada musim gadu tahun ini. Mereka menanam palawija jenis kacang hijau, dan luas sawah di Blang Ie yang ditanami tanaman pangan ini mencapai 10 hektare. Mereka memilih bercocok tanam kacang hijau, karena modal yang mereka keluarkan terbilang murah, dan tanaman tersebut tidak membutuhkan pemupukan. “Harga dua kilogram benih hanya Rp 60 ribu,” kata M Gade.

Di depan rumah-rumah warga di gampong setempat terlihat kacang hijau tergelar di atas terpal. Itu adalah hasil panen kacang hijau yang sedang dijemur. Warnanya agak kehitaman. Pasca-panen, kacang hijau dijemur selama satu hari. Setelah itu, mereka diinjak-injak agar biji dan kulit dapat dipisahkan lalu ditampi untuk memastikan biji-biji tersebut telah bersih dari ampas kulit.

Di sawah seluas satu naleh, M Gade baru satu kali memanen kacang hijau. Hasil panen perdananya hanya mencapai sekitar 50 kilogram kacang hijau. Satu kilogram biji  kacang hijau yang ia jual ke pasar Grong-Grong seharga Rp 15 ribu. “Jika tidak digenangi banjir dan tidak diserang hama tikus, satu naleh sawah normalnya bisa menghasilkan sekitar 500 kilogram kacang hijau,” kata M Gade.

Kacang hijau bisa dipanen setelah enam puluh hari ditanam. “Kacang hijau lebih bagus ditanam pada saat musim kemarau, karena tanaman ini tidak tahan genangan air,” tutur M Gade. []

Loading...