Jejak Sirih Manis, Jejak Tanaman Merambat di Simpang Tiga

·
Jejak Sirih Manis, Jejak Tanaman Merambat di Simpang Tiga
Tanaman sirih di rumah warga di Gampong Tok Dhue, Kecamatan Simpang Tiga. (sinarpidie.co/Wahyu Puasana).

sinarpidie.co--Sekitar 48 tahun yang lalu, Nenek Nur Basaria membuka sebuah lapak berjualan di dekat bantaran sungai di Gampong Asan, Kecamatan Kota Sigli, Pidie. Saat itu, demi menopang ekonomi keluarga, neneknya menjual sirih manis.

Menurut penuturannya, kala itu pejual sirih manis di Sigli bukanlah neneknya seorang, tapi ada banyak pedagang sirih lain yang mudah didapatkan di setiap sudut kota.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, pedagang-pedagang sirih lain mulai meninggalkan perkerjaan ini satu per satu.

Tahun-tahun terus berjalan. Sirih benar-benar menjadi penopang hidup keluarga besar mereka hingga suatu hari usaha itu diteruskan oleh ibunya.

"Ibu saya adalah generasi kedua," kisah Nur Basaria.

Kini, Nur Basaria, perempuan kelahiran Kampong Asan, 51 tahun silam, menjadi generasi ketiga yang meneruskan usaha keluarganya itu.

Pada sore itu, Kamis, 19 Juli 2018, ia tengah duduk dibawah tenda hijau berukuran 3 x 3 meter. Dia duduk di sebuah kursi kayu yang dibuat seadanya, menunggu pembeli.

Lapak sirih  Nur Basaria. (sinarpidie.co/Wahyu Puasana). 

Di depannya, ada sejumlah wadah plastik yang berisi sirih. Selain itu, ada beberapa kacang goreng yang digantung dan makanan ringan lainnya.

"Yang punya saya cuma sirih, kalau yang lain itu punya orang lain yang dititipkan di sini untuk dijual," jelasnya.

Di usianya yang sudah lebih setengah abad, ia mengaku tidak terlalu sering lagi menjaga lapak dagangannya.

"Biasanya anak saya yang laki-laki di sini, saya cuma sesekali," ungkapnya.

Sambil sesekali melayani pembeli, ia menceritakan beberapa bahan baku yang digunakan untuk membuat sirih manis.

"Yang pertama itu daun sirihnya, biasanya saya pesan dari langganan yang ada di Simpang Tiga," tuturnya, "setelah itu, ada gula, kencur, adas manis, dan pinang muda."

Untuk pinang muda, kata dia, diperoleh di Padang Tiji.

Ia biasanya memesan dalam jumlah banyak. "Biasanya saya pesan 150 kilogram. Kalau untuk kupasnya itu saya suruh sama orang di Utue, mereka ada tiga orang. Kalau soal meracik bumbu itu saya lakukan sendiri," ungkapnya.

Sirih manisnya memang banyak dicari orang. Selain mempunyai cita rasa yang khas, campuran rempah-rempah di dalamnya tidak pernah berubah.

Saat ini, ia mengungkapkan, hasil menjual sirih, ia telah berhasil menyekolahkan anak-anaknya.

"Alhamdulillah, melaui sirih ini, anak pertama dan kedua saya sudah saya nikahkan, yang ketiga lagi kuliah di UPI Bandung dan yang bungsu sudah mau selasai SMA," kata dia.

Dagangannya yang laku di hari-hari biasa mencapai Rp 200 ribu per hari, sedangkan di akhir pekan ia bisa meraup Rp 700 ribu per hari.

Tiga sirih manis dijual Rp 1000.

Selama Nur Basaria berdagang sirih, ia mengaku sudah beberapa kali diliput oleh stasiun televisi nasional.

Gampong Paloh Tok Dhue

Tumbuhan itu merambat ke tempat yang tinggi. Ada beberapa bilah bambu yang ditancapkan di tanah. Hijau. Itu adalah tanaman sirih.

"Rp 3000/ Rp 4000 per seratus lembar," kata Juwairiyah, 50 tahun, warga Gampong Paloh Tok Dhue, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, kala ditanyai harga daun sirih yang ia jual.

Juwairiyah menuturkan, budidaya tanaman tersebut juga sudah dilakukan secara turun temurun oleh keluarga besarnya.

Di Gampong Tok Dhue, tanaman sirih bisa ditemukan dengan mudah di halaman rumah-rumah warga setempat

"Memetik daun sirih dilakukan 20 hari sekali. Dan untuk menanamnya dari awal hingga bisa petik daun itu satu tahun," kata dia.

Daun sirih memiliki aroma yang khas karena mengandung minyak seperti metil, eugonol, eucalyptol dan asam setarat. Minyak atsiri dalam daun sirih ini dapat berfungsi sebagai antiseptik, antioksidan, antimikroba, dan antibakteri.

Selain berguna untuk berbagai obat herbal, daun sirih juga menjadi simbol sesaji dalam prosesi pesta perkawinan. []

Loading...