Banner Stunting
Klik Tambang

Kuliner

Jalan Setapak para Pemanggang Ikan

·
Jalan Setapak para Pemanggang Ikan
Fatimah Syam, 62 tahun, warga Gampong Neuheun, Kecamatan Batee, Pidie, saat memanggang ikan. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co--Fatimah Syam, 62 tahun, warga Gampong Neuheun, Kecamatan Batee, Pidie, meneruskan pekerjaan ibunya, Waloeh—kini almarhum—memanggang ikan yang kemudian dipasarkan secara berkeliling dengan berjalan kaki.

Di bawah  gubuk yang tidak memiliki dinding, yang dibuat khusus untuk melakukan aktivitasnya tersebut sehari-hari, dia memanggang dan merebus ikan kureng dan baree (sejenis tuna/ikan tongkol). Melakoni pekerjaanya tersebut, ia dibantu dua anak perempuannya: Dahliani, 35 tahun dan Mariana,  53 tahun.

“Saya dari kecil sudah mulai memanggang ikan membantu almarhum orang tuanya, hingga sekarang masih saya lakukan sebagai pekerjaan saya,” katanya, pekan lalu, dalam bahasa Aceh.

Mariana mengatakan, sehari-hari ada 50 sampai 60 ekor  ikan yang mereka panggang dan rebus.

“Sehari 50 sampai 60 ekor ikan kami beli. Sebagian kami panggang, sebagian kami rebus untuk dijadikan ikan keumamah (ikan kayu-red). Ikan yang dipanggang bisa langsung kami pasarkan keesokan harinya, sedangkan ikan yang kami rebus harus kami jemur dulu sampai tiga hari sampai mengeras,” kata Mariana.

Fatimah Syam dan kedua putrinya tersebut membeli ikan mentah di TPI gampong setempat dan kadang diambil di Pasar Pante Teungoh Sigli.

“Kami beli di TPI Rp 3000 hingga Rp 5000 per ekor ikan. Kadang, kami ngutang juga di Sigli. Alhamdulillah dikasih karena sudah kenal lama,” kata Fatimah.

Mereka menjual ikan yang telah mereka olah di gampong-gampong yang ada di Kecamatan Mutiara Timur dan Sakti.

“Saya ke Sakti. Dahliani ke Keumangan, dan ibu  ke Jojo dan Usi. Harganya untuk ikan bakar Rp 10.000 hingga Rp  15.000 per ekor,” kata Mariana.  “Mulai rebus dan bakar jam 10 pagi, sore selesai. Kalau berjualan besoknya berangkat jam 6.00 pagi dan biasa jam satu siang sudah habis.”

Mereka bekerja dan menjajakan ikan tidak setiap hari, karena, kata Mariana, “Kadang kalau ikan mahal maka tidak bekerja. Kadang juga kelelahan harus libur sehari. Kami kurang modal, untuk beli  batok kelapa Rp 15.000 per karung, beli air asam, garam serta  jeruk nipis.  Saat ini kami butuh fiber ikan. Kalau ada fiber kan enak saat ikan lagi murah bisa saya beli dalam jumlah yang banyak dan bisa saya simpan.”

Alat panggang yang terbuat dari bambu sepanjang 3,5 meter dan dilapisi daun pisang. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Keuntungan yang diperoleh dengan melakoni pekerjaan tersebut sebenarnya tidak terlalu besar bagi mereka. Namun, hal itu tetap mereka lakukan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Untuk biaya transportasi saja bolak-balik dari sini ke kecamatan Mutiara Timur dan Sakti menggunakan mobil labi-labi dan ojek untuk satu orangnya saja menghabiskan Rp 35.000, belum lagi biaya modal, tapi alhamdulillah cukup buat makan,” kata Mariana.

Di tempat yang terpisah, Keuchik Gampong Neuheun, Kecamatan Batee, Lukman, mengatakan, selain keluarga Fatimah Syam, masih banyak KK di gampong tersebut yang melakoni pekerjaan serupa.

“Di sini memang kebanyakan  ada yang mengasinkan ikan dan ada yang memanggang ikan. Untuk yang memanggang ikan ada sekitar 30 rumah yang melakukan pekerjaan tersebut,” kata Lukman pekan lalu. []

Komentar

Loading...