Kuliner

Jajanan Pisang Thok di Simpang Rawa

·
Jajanan Pisang Thok di Simpang Rawa
Mahyuddin, 35 tahun, warga Gampong Kramat Luar, Kecamatan Kota Sigli, Pidie, penjual pisang thok. (sinarpidie.co/DIky Zulkarnen).

sinarpidie.co--Mahyuddin, 35 tahun, warga Gampong Kramat Luar, Kecamatan Kota Sigli, Pidie, sudah berjualan pisang thok dan pukat thok di Simpang Rawa Kota Sigli, Pidie, selama kurang lebih delapan tahun.

Perkakas dan bahan baku pengolahan pisang thok dan pukat thok, seperti 24 botol kaca air gula, tersusun rapi pada sebuah gerobak berwarna biru. Di sebelah kiri dan kanan gerobak tersebut, Mahyuddin mengantung beberapa sisir pisang. Gerobak sepanjang dua meter tersebut memiliki dua roda di belakang, dan satu roda kecil di depannya. Setiap harinya, Mahyuddin mendorong gerobak itu dari rumah ke tempat ia biasa berjualan. Jarak tempuh dari rumah ke tempat ia biasa berjualan sejauh 100 meter.

“Saya mulai berjualan pisang thok sekitar pukul 19.30 WIB sampai pukul 01.00 WIB dini hari,” kata Mahyudin, Sabtu, 11 April 2020.

Baca juga:

Proses pembuatan pisang thok cukup sederhana. Pisang dipotong menjadi beberapa bagian, lalu dimasukkan ke dalam gelas. Selanjutnya, pisang tersebut ditumbuk menggunakan penumbuk kayu hingga hancur. “Setelah itu, kita campur susu, santan, air gula dan emping ke dalamnya. Juga ditambah es batu supaya terasa segar dan dingin,” kata Mahyuddin lagi.

Proses pembuatan pukat thok juga persis sama dengan pisang thok. Hanya saja bahan baku utama pukat thok adalah alpukat.

Dalam semalam, dagangan Mahyuddin laku Rp 400 ribu hingga 500 ribu. Ia menjual satu gelas pisang thok seharga Rp 8.000, dan pukat thok Rp 12.000. “Rata-rata laku dalam semalam sekitar 30 sampai 50 gelas,” kata ayah dua anak itu. “Tapi dalam seminggu ini pembeli agak menurun karena Covid-19,” ujar Mahyuddin. []

Loading...