Jaap Kruisweg dan Benny Moerdani dalam Perjalanan Hidup Adnan Ganto

·
Jaap Kruisweg dan Benny Moerdani dalam Perjalanan Hidup Adnan Ganto
Buku Keputusan Sulit Adnan Ganto (Circa, 2017).

Pencucian uang keluarga cendana, Tanjung Priok, Talangsari, dan Exxon Mobil serta DOM di Aceh.

Peristiwa-peristiwa penting yang mengubah hidup Adnan Ganto tak bisa lepas dari peran Jaap Kruisweg, seorang Belanda yang pernah menjabat sebagai asisten tanaman pada perkebunan teh di Bengkulu saat deklarator Proklamasi, yang juga presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno, dibuang ke Bengkulu oleh pemerintah Kolonial Hindia-Belanda.

Saat Adnan datang ke Jakarta untuk mengikuti ujian seleksi Institut Ilmu Keuangan Negara, —kini Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)--Kruisweg yang menjemputnya dan anak-anak muda Aceh lainnya. Kelak, saat lulus, ia dan sekitar 10 mahasiswa asal Aceh lainnya tinggal di rumah Kruisweg di Jalan Medan Merdeka Timur 14 Flat 10-12 Jakarta.

Lulus dari Institut Ilmu Keuangan Negara yang menerapkan ikatan dinas, pria kelahiran Lhokseumawe, 4 Februari 1947 ini bekerja di Plaju, Palembang, di Pertamin, yang kelak menjadi PT Pertamina, sebuah BUMN yang bergerak di bidang penambangan minyak dan gas.

Jaap Kruisweg, yang dekat dengan Soekarno, hingga 1967 masih menjabat sebagai penasihat Menteri Pertanian, Thayib Adiwinata, merekomendasikan Adnan pada Bosman, seorang akuntan sohor di kantor akuntan Dijker & Doornbos di Belanda.

Nukilan tersebut tertuang di dalam buku Keputusan Sulit Adnan Ganto (Circa, 2017), yang ditulis Nezar Patria dan Rusdi Mathari.

Tahun-tahun setelah 1965 adalah tahun-tahun yang penuh dengan gejolak politik dan berdarah-darah. Soekarno meneken Surat Perintah 11 Maret atau Supersemar pada 1966, di mana Letnan Jenderal Soeharto diberi mandat untuk memulihkan keamanan. Tapi belakangan keputusan tersebut berakibat fatal: sang presiden justru dilengserkan pada 7 Maret 1967. Jumlah korban pembantaian massal setelah peristiwa 65 antara 500 ribu hingga 3 juta jiwa, menurut Komnas HAM.

Bosman membayar denda Rp 614 ribu untuk Departemen Keuangan karena Adnan keluar dari ikatan dinas. Tak lama bekerja sebagai akuntan di kantor akuntan Dijker & Doornbos di Belanda, Adnan meninggalkan Bosman karena ia mendapat tawaran pekerjaan pada Peirson Bank.

Adnan Ganto (kiri) dan Benny Moerdani (kanan). Foto repro dari buku Keputusan Sulit Adnan Ganto (Circa, 2017).

Adnan belakangan juga mengajukan pengunduran diri pada Peirson Bank karena adanya tawaran pekerjaan di Morgan Bank Ltd di London, Inggris. Oleh Morgan Bank, Adnan ditempatkan di Singapura dan menjabat sebagai direktur di sana selama enam tahun. Belakangan Morgan Bank tak lagi dimiliki oleh Inggris tapi berkedudukan di Zurich-Swiss.

Sebelum ia ditempatkan di Singapura, saat menjabat sebagai kepala perwakilan Pierson Bank di Hongkong dan Jakarta, Adnan telah membangun jaringan dengan pengusaha-pengusaha moncer Orde Baru, seperti Ahmad Bakrie dan pemilik PT Astra Group, William Suryadjaya.

“Lihat, ini ada daftar panjang klien Indonesia, dan mereka tidak hanya menyimpan uang di Pierson, tapi mereka juga memiliki rekening di Hamburg, di London, dan di Swiss,” kata Adnan pada Meindert Van der Zwaard, mantan Direktur Pierson Bank, seperti dikutip dari Keputusan Sulit Adnan Ganto (Circa, 2017).

Majalah Time edisi 24 Mei 1999 menurunkan laporan jurnalistik “Soeharto Inc.: How Indonesia's Long Time Boss Built a Family Fortune” yang memuat informasi, antara lain telah terjadinya transfer dana senilai 9 miliar dolar Amerika dari bank Swiss ke bank Austria pada Juli 1998.

Perkenalan dengan Benny dan Soeharto

Pada pertengahan 1980-an, anak pertama dari sembilan bersaudara ini dikenalkan oleh Mantan Panglima ABRI, Leonardus Benyamin Moerdani atau Benny Moerdani pada mantan Presiden Indonesia, Soeharto. Pertemuan Adnan dan Benny bermula di rumah Dubes RI di Singapura. Saat itu, Adnan bekerja di Morgan Bank Singapura.

Dalam periode ini, Pemerintah Orde Baru membunuh 5.000 orang yang dianggap pelaku kriminal (Petrus). Dalam dekade yang sama, pembantaian pengunjuk rasa di Tanjung Priok yang memakan sekitar 400 korban jiwa dan pembantaian pengikut Warsidi Lampung atau peristiwa Talangsari juga terjadi.

Benny Moerdani tak bisa dipisahkan dari kesatuan Para Komando Angkatan Darat (RPKAD)— kini Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Namun, saat Komandan RPKAD Kolonel Moeng Parhadimuljo menerbitkan kebijakan untuk memensiunkan perwira cacat dari kesatuan, Benny melawan keputusan tersebut, karena hal itu berdampak pada teman dekatnya, Letnan Satu Agus Hernoto, yang kedua kakinya harus diamputasi setelah terluka dalam operasi pembebasan Papua.

“Pada 4 Januari 1965, dia menerima sepucuk surat dari Panglima TNI Angkatan Darat Letnan Jenderal Ahmad Yani. Dia diminta menghadap Yani di Markas Angkatan Darat keesokan harinya,” demikian dikutip dari Majalah Tempo edisi 6-12 Oktober 2014.

Setelah bersitegang dengan Ahmad Yani, “Benny pindah dari RPKAD ke Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) pimpinan Mayor Jenderal Soeharto”.

Hubungan Benny dan Soeharto rusak setelah Benny, yang saat itu masih menjabat sebagai Panglima ABRI, menyarankan pada Soeharto agar menjauhkan anak-anaknya dari kekuasaan. Kata-kata itu Benny lontarkan saat ia dan Soeharto sedang bermain biliar.

”Ketika saya angkat masalah anak-anak itu, Pak Harto berhenti bermain, masuk kamar tidur, dan meninggalkan saya di kamar biliar,” kata Benny pada Brigadir Jenderal Purnawirawan Ben Mboi, seperti dikutip dari Majalah Tempo edisi 6-12 Oktober 2014.

Benny belakangan dicopot dari Panglima ABRI dan orang-orangnya juga disingkirkan dari jabatan-jabatan strategis kala itu. Saat tak lagi berkuasa, pada November 1998, Soeharto meminta Adnan mempertemukannya dengan Benny.

“Kamu masih berhubungan dengan Benny enggak?” tanya Soeharto pada Adnan, sebagaimana dikutip dari buku Keputusan Sulit Adnan Ganto (Circa, 2017).

“Iya Pak, masih. Kalau pulang dari Amerika, saya selalu datang menemui Pak Benny.”

“Kamu atur ya, bawa dia kemari.”

Menjadi penasihat Benny dan IB Sudjana

Adnan, putra pasangan Hasan Basri Ganto dan Faridah Tihawa, ini, mengundurkan diri di Morgan Bank setelah Benny memintanya menjadi penasihatnya di Departemen Pertahanan.

Pada 1993, empat tahun setelah Pemerintah Indonesia melancarkan Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh dengan sandi operasi jaring merah, Adnan menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Pertambangan dan Energi, Letnan Jenderal TNI (Purn) Ida Bagus Sudjana.

Dalam Damai dengan Keadilan Mengungkap Kekerasan Masa lalu, yang diterbitkan Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) pada 2006 lalu, tercatat bahwa praktik kekerasan dan pelanggaran HAM di Aceh tidak terlepas dari keberadaan PT Arun dan Mobil Oil Indonesia atau Exxon Mobil.

KontraS menyebutkan bahwa Exxon Mobil mengucurkan hampir Rp 5 miliar setiap bulan untuk dana operasional tentara dan polisi yang bertugas di Aceh saat Daerah Operasi Militer (DOM) dengan sandi operasi jaring merah pada 1989 hingga 1998 diberlakukan di Aceh.

Mobil Oil Indonesia (MOI) merupakan anak perusahaan Mobil Oil Corporation, sebuah perusahaan asal Amerika Serikat, yang memulai operasinya di Indonesia pada akhir tahun 1967. Pada tahun 1971, perusahaan itu menemukan salah satu ladang gas terbesar di dunia di Arun, Aceh Utara. Lalu, PT Arun pun didirikan. PT Arun merupakan usaha patungan antara Mobil Oil Indonesia (35 persen), Badan Usaha Milik Negara Pertamina (55 persen) dan Perusahaan LNG Jepang-Indonesia (10 persen).

Di samping itu, Adnanlah yang memfasilitasi pertemuan-pertemuan mantan Gubernur Aceh (1986-1993), Ibrahim Hasan, dengan Benny Moerdani.

Majalah Business Week edisi 28 Desember 1998 menurunkan laporan Indonesia: What Did Mobil Know? Mass graves suggest a brutal war on local Indonesian guerrillas--in the oil giant's backyard: keterlibatan Exxon dengan kuburan massal di Bukit Sentang dan di Bukit Tengkorak.

Selain itu disebutkan pula bahwa Exxon Mobil membiarkan karyawan lokalnya diculik tentara. Salah seorang di antaranya adalah T Abdullah Baharuddin, yang telah bekerja pada Exxon selama sembilan tahun, yang diambil paksa tentara pada 10 juli 1990 di kantornya di kompleks Exxon. Pada 21 Agustus 1991, istri Baharuddin, Hasnidar, menerima surat pemutusan hubungan kerja Baharuddin dari Exxon Mobil secara sepihak. Kuat dugaan, penculikan dan pembunuhan karyawan lokal Exxon saat itu untuk menghilangkan saksi mata.

Nama Adnan juga pernah terseret dalam kasus Bre X, perusahaan asal Kanada, yang menyebarkan hoaks penemuan cadangan emas di Busang, Kalimantan, sebanyak 6.200 ton. Dengan hoaks tersebut, harga saham perusahaan ini melambung tinggi.

Adnan memang pernah mengembalikan hadiah sepeda Gazelle yang diberikan ayah temannya yang saat itu menjabat sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) karena sang ayah, Hasan Basri Ganto, meminta Adnan mengembalikan sepeda tersebut. Saat itu Adnan masih duduk di bangku kelas 2 SMP di Lhokseumawe. Adnan membantu temannya belajar. Karena prestasi temannya bagus, ayah temannya itu menghadiahi Adnan sepeda. Tapi, puluhan tahun setelah pengembalian sepeda tersebut, Adnan tak menolak amplop yang diberikan Soeharto usai KTT OPEC di Jenewa Swiss. “Adnan, ini untuk kamu beli lampu. Beli karpet untuk rumahmu,” kata Soeharto.

Soeharto memberikan amplop tersebut setelah anak-anaknya yang diundang ke acara selamatan rumah Adnan di Menteng melaporkan pada Harto bahwa “tidak ada karpet dan tidak ada lampu yang pantas” di rumah Adnan.

Selasa, 23 Maret 2021 kemarin, Adnan Ganto menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta. []

Loading...